Nakes RSUD Syamrabu Bangkalan Berbagi Pengalaman Layani Pasien Covid-19

  • Whatsapp
(FOTO: KM/ISTIMEWA) SEMANGAT: Yuni Herawati saat menjemput pasien Covid-19 di dalam ambulance.

KABARMADURA.ID, BANGKALAN-Salah satu tenaga kesehatan (nakes) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Syamrabu Bangkalan Yuni Herawati berpesan kepada warga Bangkalan agar tetap mematuhi protokol kesehatan dalam beraktivitas di luar ruangan. Perempuan yang bekerja di rumah sakit sejak 18 tahun terakhir tersebut banyak berbagi pengalaman tentang penanganan pasien Covid-19.

Sudah enam bulan ia bertugas di Instalasi Gawat Darurat (UGD) RSUD Syamrabu. Perempuan yang kerap disapa Yuni ini bercerita, banyak orang menganggap sepele Covid-19 dan enggan dilakukan swab polymerase chain reaction (PCR).

Bacaan Lainnya

“Juni 2020, saya di IGD, di mana awal wabah bulan Maret. Edukasi bagi masyarakat awam diperlukan yang menganggap rumah sakit yang menjadikan Covid-19,” katanya, Kamis (17/6/2021).

Ia bercerita, waktu itu, dia bertugas dinas sore. Dia ingat betul ada ibu dan bapak sepuh ke IGD. Dimana yang sakit adalah ibunya. Berdasarkan hasil thorax pnemonia atau bercak putih berkabut serta penurunan oksigen ditandai sesak nafas.

“Menohok hati saat itu. Kata mereka, putranya bolak-balik di Surabaya karena bekerja. Bapaknya juga bertanya apakah istrinya terkena Covid-19, sebab tidak pernah keluar ke mana-mana. Di sinilah peran ganda kami, yaitu mengedukasi juga,” tuturnya.

Bahkan, demi tidak tertular Covid-19 dari pasien, Yuni rela mandi air dingin dan minum tolak angin. Awalnya ia merasa cemas. Namun, seiring berjalannya waktu, tahapan-tahapan seperti itu ia jalankan, karena ia merasa garda terdepan.

“Berdamai, lebih aware. Alat salat bawa sendiri. Makan gak perlu bersama sejawat, harus ketemu ventilasi udara bebas. Tidur pake masker. Aware pada diri sendiri, demi keluarga saya. Meski saat itu, perlahan sejawat terinfeksi satu per satu,” tukasnya.

Menjadi nakes penanganan Covid-19, menurutnya merupakan sebuah pilihan pekerjaan di dunia perawat. Bukan hanya kemampuan bekerja. Tetapi menurutnya, berkomunikasi dengan melihat latar pendidikan pasien menjadi tantangan di setiap pekerjaan. (ina/maf)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *