oleh

Napak Tilas Kiai Moh Ali di Sumenep

Ulama Keturunan Keempat Sunan Kudus

RELIGIUS: Areal Asta Gumuk yang berada di Dusun Brangbang, Desa Kalimo’ok Barat, Kecamatan Kalianget, tampak terlihat dari depan.

Kabarmadura.id-Guru adalah “pahlawan tanpa tanda jasa,” begitulah bunyi sebuah ungkapan. Sebagai pahlawan, tentunya tidak menginginkan sesuatu yang buruk bagi generasinya, lingkungannya dan bangsanya. Demikian juga yang dilakukan guru kepada muridnya, ia ingin memberikan yang terbaik kepada muridnya.

MOH TAMIMI, SUMENEP

Kiai Moh Ali merupakan sosok legendaris dari salah satu kabupaten paling timur Pulau Madura, Sumenep. Namanya sudah tidak asing lagi di pelosok Nusantara, terutama kalangan Jawa-Madura, karena kealimannya dalam mengaplikasikan dengan mengajarkan ilmu pengetahuan.

Kiai Moh Ali, khususnya di masyarakat Sumenep, lebih dikenal dengan sebutan Kiai Ali Brangbang, karena hidup dan dikuburkan di Dusun Brangbang, Desa Kalimo’ok Barat, Kecamatan Kalianget.

Dia merupakan keturunan Sunan Kudus atau Syekh Maulana Sayyid Jakfar As-Sidik. Silsilah lengkapnya adalah Sunan Kudus-Amir Hasan-Moh Baidhawi-Hatib Paddhusen-Moh Ali.

Selain seorang ulama dan waliyullah yang mempunyai banyak karomah, Kiai Ali merupakan sosok yang tegas dan tanpa pamrih dalam mengajari murid-muridnya. Tokoh ini lebih terkenal lebih terkenal keilmuannya, sehingga dianggap kurang sah apabila menimba ilmu ke tanah Sumenep tetapi tidak berziarah ke pusaranya.

Salah satu kisah mengajarnya yang paling heroik ialah ketika kiai tersebut mencambuk (Madura: meccot) salah satu muridnya yang merupakan salah satu putra raja keraton Songennep (Sekarang: Kabupaten Sumenep). Hal itu sampai kepada telinga raja, karena anaknya mengadu kepadanya, sehingga sang raja pun gusar dibuatnya.

Meskipun raja marah kepada Kiai Ali, namun tidak serta merta menghakimi kiai Ali. Akan tetapi, sang raja mengirim utusan kepada Kiai Ali untuk menghadapnya ke keraton.

Ketika sampai di keraton, kiai Ali ditanya perihal alasannya mengapa sang putra raja dipukul, diungkapkan, yang dilakukannya bukan memukul orangnya, tetapi kebodohannya.

Raja merasa sedikit tersinggung dengan jawaban Kiai Ali, sehingga ia menyuruh membawa monyet kepada Kiai Ali untuk diajari supaya pintar. Kiai Ali pun membawa monyet itu ke kediamannya.

“Ya Alhamdulillah, berkat kekuasaan Allah, Kiai Ali bisa mengajari monyet itu sampai bisa mengaji, baca sholawat dan lain sebagainya,” ungkap Juhadi, juru kunci Asta Gumuk, komplek pemakaman Kiai Ali dan keluarganya, Selasa (26/2).

Asta Gumuk banyak dihadiri oleh penziarah. Berdasarkan laporan Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga, pengunjung Asta Gumuk selama tahun 2018 mencapai 935 orang. Mereka datang dari berbagai daerah di seluruh Indonesia.

Konon katanya, dari saking dikeramatkan asta tersebut, apabila ada pesawat terbang melintas di atas Asta Gumuk, maka akan jatuh. Apabila ada dokar yang melintas di jalan depan Asta Gumuk tersebut, maka pengendara atau penumpang harus turun sebagai sebuah penghormatan. Jika tidak turun, maka hal yang tidak diinginkan bisa terjadi pada orang atau kendaraan itu.

“Tapi berkat permintaan menantu beliau, Abd Halim, suami putri Nyiai Tengghina yang merupakan anak ke tujuh Kiai Ali, untuk tidak menggunakan Kajunilannya di dunia ini, seketika itu mereda. Jha anuah adha’ karapenah oreng (istilah Madura yang menggabarkan bahwa orang tersebut akan banyak memakan korban),” tambah Juhadi.

Juhadi menambahkan, bahwa Kiai Moh Ali dikaruniai putra-putri sebanyak 16 orang,  terdiri dari delapan laki-laki dan depalan perempuan. Hanya saja, di mana pusara para keturunannya tidak diketahui secara pasti, kecuali Nyi Tengghina.

Anak-anak Kiai Ali juga menyebar ke berbagai daerah untuk berdakwah, ada yang ke Pulai Raas dan ke Pulau Kalianget. (waw)

Komentar

News Feed