oleh

Nasihat Buya Untuk Menghasilkan Orang Mulia

(Peresensi: Saibatul Hamdi)

Buya Hamka atau Haji Abdul Malik Karim Amrullah lahir pada 17 Februari 1908 di Maninjau, Sumatera Barat. Tidak ada satu pun pendidikan formal yang ditamatkannya. Namun ia adalah pembaca yang setia dan gemar belajar dengan para tokoh serta ulama di Sumatera, Jawa, sampai ke Mekkah. Gelar Doktor Honoris Causa yang diembannya dianugerahkan oleh Universitas Al-Azhar dan Universitas Prof. Moestopo Beragama.

Buku ini berkisah tentang alur hidup manusia yang harus dijalani. Hidup, berjuang, kemudian kembali kepada-Nya merupakan siklus kehidupan yang sejatinya dilalui setiap orang. Demikianlah Buya Hamka mencoba menggambarkan tentang rahasia kehidupan dan perilaku manusia. Islam memandang penting ketauhidan dan kesamaan derajat manusia di hadapan Allah Swt. Tidak ada yang lebih istimewa dibandingkan yang lain layaknya kasta yang membedakan antar golongan. Kelebihan setiap insan hanya terletak pada ketakwaan, budi, dan kecerdasan akalnya.

Buya Hamka memulai pengantar buku ini dengan memaknai hidup yang sesungguhnya. Kehidupan laksana tenunan yang bersambung menjadi kain. Semua makhluk yang ada di bumi ini seakan tidak terlihat di dalam tenunan ini karena terlalu kecil. Maka tenunan hayat yang kita lihat ini adalah ujung daripada pangkal kain yang bersambung, tiada putus sejak awal dan tiada yang tahu kapan berakhir (hlm. 4).

Bahasa yang klasik namun menggelitik dapat mengkerutkan alis pembaca untuk berpikir sejenak. Rentetan kata meresap dan memiliki arti yang dalam. Terkadang, sindiran-sindiran kecil dilontarkan sebagai dukungan terhadap bait-bait yang menyanjung akal untuk tumpuan hidup manusia. Penulis memberi perhatian besar kepada akal sebagai kemudi guna melangkahi fenomena kehidupan yang begitu rumit.

Tajuk tulisan dalam setiap babnya terangkai apik menjadi sebuah konsep pemikiran yang komprehensif. Tak lupa, penulis menyematkan beberapa petuah dari sahabat-sahabat Nabi dalam menyikapi hidup. Namun target terbesarnya adalah memberi asupan pemikiran kepada pembaca untuk memahami falsafah hidup agar berjalan normal dan tanpa ketimpangan. Sebuah analogi diungkapkannya, tangan si lemah dibimbing sehinga beroleh kekuatan. Diambil hak dari tangan yang kuat dan kuasa lalu dipindahkan kepada yang lemah, sehingga tegaklah perimbangan.

Di akhir tulisannya, Buya Hamka hanya berpesan bahwa hendaklah kita percaya penuh kepada iman dan berbaik sangka kepada Tuhan. Demikianlah ujung tombak pendapatnya melalui buku ini. Cukup tebal untuk dibaca, namun mengasyikkan untuk dipikirkan. Polesan kata bermajasnya memberi tanda-tanda sebegitu kuatkah falsafah hidupnya? Bukan sekedar kata, Buya Hamka punya sejuta harapan untuk mengajak pembaca setianya berdamai bersama takdir namun tetap berpegang pada prinsip bahwa hidup dapat diusahakan.

 

Judul               :Falsafah Hidup

Penulis             : Prof. Dr. Hamka

Penerbit           : Republika

Cetakan           : VII, Januari 2018

Tebal               : xxxiv + 428

ISBN               : 978-602-0822-02-0

Komentar

News Feed