Nasionalisme Tiang Bendera

  • Whatsapp

Nama Yohanes Ande Kala alias Joni tiba-tiba tenar, dari Sabang hingga Merauke membicarakannya. Joni banjir apresiasi. Tidak hanya dari TNI, PLN, dan Menpora. Tetapi juga dari Presiden Jokowi.

Atas aksi heroiknya memanjat tiang bendera, Joni diprioritaskan TNI jika ingin jadi prajurit. PLN berikan beasiswa sampai S1. Pengacara kondang Hotman memberikan jempol patriot dengan memberikan uang jajan Rp 50 juta. Sementara Presiden Jokowi menghadiahi Joni sepeda dan rumah plus jalan-jalan di Dufan dan TMII.

Iya, Joni pantas mendapatkan itu semua. Sebab ia adalah palawan zaman now. Perjuangannya tulus, tanpa modus. Pun tidak tipu-tipu daya atau sok gaya, yang dipikirkan hanya memanjat tiang bendera. Demi sang saka merah putih dan marwah NKRI.

Ada pesan nasionalisme dalam setiap nafasnya ketika memanjat tiang bendera. Sebab amat sedikit anak seusianya secara spontan berlari menghampiri tiang bendera setinggi 23 meter, kemudian memanjat demi memperbaiki tali yang putus saat upacara HUT ke-73 RI di Desa Silawan, Belu, NTT. Nasionalisme dari anak perbatasan ini pun saya anggap sebagai sebuah patriot yang tak ternilai harganya. Hanya satu hal yang ingin saya katakan, “nasioalisme tiang bendera”.

Joni memberikan teladan kepada semuanya. Terlebih tentang nilai-nilai berkorban. Memang hanya soal bendera, tetapi bukanlah menyingkirkan duri dari jalanan pun itu adalah sebuah aksi kepahlawanan? Apalagi Joni, ia membela negara.

Sejatinya, Joni tak butuh apresiasi, sebab ia melakukannya tanpa pamrih. Seperti pahlawan yang tak sekadar pencitraan. Maka aksi Joni perlu diteladani, keberaniannya direnungi. Semangat yang pantang menyerah harus dihayati. Terutama bagi generasi-generasi negeri. Sebab Joni tak perlu mengadakan diklat dan sambutan-sambutan normatif untuk menyampaikan empat pilar kebangsaan. Sebab secara substantif, Joni telah mengkampanyekan.

Inilah wujud nyata internalisasi pendidikan karakter dan revolusi mental yang sesungguhnya. Hemat saya, Joni layak mendapat penghargaan yang lebih dari sekadar penghargaan beasiswa, uang maupun rumah, tetapi ia layak jadi duta Pancasila, duta pahlawan, atau duta empat pilar.

Joni, terimakasih nak, dari kamu, kita menjadi tahu bahwa nasionalisme itu tak perlu diucapkan, tetapi di-nyata-kan.

Nia Kurnia Fauzi,
Ketua GOW Sumenep

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *