oleh

Nasionalisme yang Lusuh

Pada suatu ketika ada seorang anak sekolah dasar dengan bangga menyanyikan lagu menirukan idola mereka di televisi dengan bahasa asing. Anak ini benar-benar menghayati, dan mendapat tepukan dari para juri dan penonton. Saya pun terharu dan tersenyum bangga.

Namun, pada waktu bersamaan saya malah gelisah dan resah. Kemudian muncul pertanyaan di benak saya, apakah anak ini juga jago jika diminta menyanyikan lagu kebangsaan seperti Indonesia Raya, Garuda Pancasila, Bagimu Negeri atau lagu wajib lainnya?

Kegelisahan ini mengawali momentum hari kemerdekaan RI. Karena tak terasa, empat hari lagi adalah tanggal 17 Agustus. Bangsa in ternyata akan semakin menua, yakni berumur 73 tahun.

Dan setiap kali merayakan hari bersejarah itu, muncul pula beragam pertanyaan dan kegelisahan. Salah satunya perihal nasionalisme.

Sebab saya menilai, nasionalisme kita sebagai sebuah bangsa sepertinya mulai lusuh dan usang. Bahkan kian memudar. Ia menjadi lusuh karena kerap kali dibajak oleh rezim-rezim yang berkuasa hanya untuk kekuasaan belaka. Diperparah oleh apatisme generasi bangsa.

Padahal meraih kemerdekaan bukan hal mudah. Sejarah telah mencatat, nyawa dan darah adalah taruhannya.

Karena itu, setiap kali merayakan HUT RI, sebaiknya kita perlu mengingat nilai-nilai luhur yang pernah mewarnai perjuangan para pahlawan bangsa. Salah satu nilai luhur itu adalah sikap rela berkorban. Nilai luhur itulah yang kini mulai memudar.

Pada zamannya, para pahlawan tidak segan-segan mempertaruhkan jiwanya demi kemerdekaan. Bahkan, harta benda yang ia miliki dikorbankan demi kepentingan perjuangan. Padahal, mereka tahu bahwa perjuangan mereka tidak mungkin dinikmati. Yang mereka pikirkan hanya kepentingan negeri. Mereka melakukan yang terbaik bagi Indonesia. Seperti yang pernah dikatakan John F. Kennedy, jangan bertanya apa yang akan negara berikan kepadamu. Namun, tanyakanlah apa yang akan engkau berikan kepada negara.

Jiwa berkorban kian terkikis. Buktinya, generasi kita tidak berkorban melainkan mengorbankan orang lain demi kepentingan pribadi, kelompok, dan golongan. Berapa banyak rakyat kita merintih tak berdaya. Masalah ekonomi yang terus mendera. Tapi, ironi sekali, uang negara dikorupsi. Hasrat keserakahan telah merajai hidup mereka. Seolah, hari ini uang telah dituhankan. Nilai-nilai perjuangan yang dulu ditorehkan oleh funding fathers kita seakan hanya menjadi warisan yang sudah lapuk oleh hujan dan lekang oleh waktu. Bahkan nilai-nilai perjuangan itu sepertinya sudah kian memudar, terutama pada generasi muda.

Salah satu faktornya tak lepas dari arus perubahan zaman yang deras mengalir. Kini, anak seumuran SD sudah pandai mengoperasikan medsos. Dan yang paling ironis, selepas pulang sekolah, kalau tidak nonton TV, mereka nongkrong sembari balap liar. Hemat saya tak masalah, tetapi harus dibawa pengawasan dari orang tua, sehingga anak tak salah bergaul.

Bahwa sekarang budaya instan sudah luar biasa mengakar. Hanya bermodal bim salabim sudah makan, anak baru lahir sudah ingin pegang IPad. Jadi budaya ini luar biasa telah memengaruhi mentalitas generasi muda, sehingga mereka tidak mau capek, tidak mau berusaha dan tidak mau berjuang. Adanya, foya-foya dengan menghabiskan uang orang tua. Kalau ini dibiarkan, dan tak ada upaya sistematis dari orang-orang dewasa, maka ini akan membahayakan nilai juang generasi ke depan.

Oleh karena itu, melalui tulisan sederhana ini saya hanya ingin mengajak kita semua agar memupuk spirit nasionalisme di benak, jiwa dan raga kita. Mari kita maknai kemerdekaan (73) ini dengan memerdekakan seluruh anak bangsa dari problem kemiskinan, kebodohan, dan keterbelangan.

Nia Kurnia Fauzi, Ketua GOW Sumenep

Komentar

News Feed