oleh

Nelayan Dan Perempuan Titisan

Oleh    : Ratna Ning

Semenjak terpana di pertemuan pertama secara tidak sengaja, Laki-Laki itu menjadi sangat akrab dengan seorang pembeli ikan asin dari kota. Yang kerap datang memborong ikan ikan awetan. Perempuan itu, sering dilihatnya dalam mimpi. Ohh tidak, bukan dalam mimpi saja. Sekali pernah, ketika Ia terjebak dalam hujan badai di tengah lautan, sewaktu Ia menangkap ikan dengan dua saudaranya, Ia melihat perempuan itu, sekilas dalam kilatan badai. Di ujung pulau kecil yang kemudian menjadi tempatnya terdampar. Perempuan itu muncul seperti bayangan siluet, hanya wajah dan selendang putih yang tersampir di lehernya saja yang Ia ingat sampai sekarang. Perempuan yang sama yang kerap muncul dalam mimpi-mimpinya. Mengenakan mahkota kecil di kepalanya, ditengahnya berkilat mutiara hijau berkilauan. Kalau menurut cerita dongeng tentang puteri-puteri, itu tidak seperti dandanan seorang puteri raja. Lalu dia siapa?

Raut wajah perermpuan itu, rambut merahnya yang memanjang tipis ke bawah. Rambut merah bukan karena dicat, tapi alami saja. Mata coklatnya yang bulat dan hidungnya yang tak begitu mancung, kalau tidak dikatakan pesek, serta bibirnya yang mungil, percis seperti raut wajah perempuan kota pemborong ikan asin yang pernah membeli  rajungan dalam bakulnya, saat pertama kali ia bertemu di  tempat pelelangan.

“jangan mahal-mahal Mas. Saya beli buat dijual lagi. Saya juga mencari ikan asin, mas membuat ikan awetan juga?  Saya punya kios kecil di pasar, yang khusus melapak Ikan asin dan ikan laut basah khusus pesanan…”

Pria itu masih sangat muda dan cukup tampan untuk ukuran orang nelayan. Dia berbeda dari Mbok Siti, bos iwak asin yang sering dijumpainya sebelum kenal dengan Samir. Mbok Siti, seperti kebanyakan orang pesisir, berkulit hitam. Selalu memakai sarung dan daster. Berperawakan gemuk dan jika bicara, suaranya besar dan intonsinya keras. Kebanyakan para nelayan dan pengrajin Ikan Asin di pinggiran laut Pantura itu rata-rata sudah berusia tua. Mungkin orang-orang mudanya sudah malas untuk meneruskan pencaharian utama masyarakat pinggiran muara ini. Orang-orang tua mereka yang bertahun-tahun mencari ikan dan sukses menjadi bos-bos ikan basah atau Ikan awetan banyak yang menyekolahkan anaknya hingga ke perguruan. Menjadi sarjana, kerja di kota atau menjadi ASN. Jikapun ada yang menjadi sodagar Ikan, meneruskan usaha orangtua, penampilan dan cara mereka  berbisnis sudah terlihat modern. Terbukti dari rumah rumah megah yang berjejer di pinggiran jalan menuju muara.

Yang menarik, Pria itu menjalankan usaha rumahan mengolah ikan asin, sendirian saja. Istrinya minta cerai karena merasa kehidupan rumah tangganya tidak ada kemajuan. Ia bosan menghirup bau ikan asin yang semerbak membaui seluruh rumah bahkan masuk ke dalam kamarnya. Ia  pergi ke Taiwan, menjemput gaji besar untuk mimpi mimpi milenialnya.

“Aku ingin memasukkan Idam menjadi Penerbang Angkatan Udara. Biar dia bisa terbang dan beranjak dari tempat kumuh bau ikan asin ini” begitu cerita Pria itu tentang keinginan mantan istrinya.

Pria itu tak bisa berbuat lain. Ia melepaskan istrinya dan hidup menajutkan usaha demi kedua buah hatinya. Idam sang calon penerbang AURI dan satu orang gadis kecilnya, yang selalu bercita-cita menjadi perias pengantin.

Pria itu memang bersih dan tampan. Meskipun sering melaut dan bergelut dengan ikan-ikan bau amis, ia tak legam dan tak amias. Banyak gadis atau janda yang mendekatinya. Tapi trauma akan istri yang meninggalkannya membuat Samir bersikap dingin saja. Ia tekun menjalankan pekerjaan sebagai nelayan dan pengrajin Ikan. Ia tak merasa terganggu dengan perempuan-perempuan yang banyak mendekatinya. Hanya perempuan yang sering hadir dalam mimpi itu yang kadang menimbulkan pertanyaan dalam hatinya. Terlebih ketika Ia melihat perempuan itu di sebuah pulau sesaat sebelum ia terdampar akibat hujan badai. Entahlah itu penglihatan pada makhluk gaib atau hanya lamunannya saja. Tapi keanehan itu terjadi lagi. Saat perempuan dalam mimpi itu menjelma nyata dalam kekinian. Ia yang akhirnya selalu datang setiap akhir pekan di rumah ikan asinnya. Menjadi langganan yang membeli atau memesan ikan.

Oleh karena terlalu sering si perempuan datang, entah darimana asalnya, tiba-tiba merebak gosip dari para tetangga pelapak ikan, bahwa Samir ada main dengan perempuan kota itu.

“Mereka suka berlama-lama ngobrol di dalam rumah. Perempuan itu akan kembali setelah sore. Mau apa mereka kalau tidak pacaran. Atau berbuat zinah di dalam rumah mereka!” Itu dugaan yang dihembuskan Mas Yanto, bos Lapak ikan besar di seberang rumah Samir.

“Suatu kali, perempuan itu pernah membonceng mesra motor Samir. Mereka pergi ke muara. Duduk duduk di kapal dekat sekali. Si perempuan sibuk berpoto selfie. Samir digamitnya untuk berfhoto. Mereka sepertinya pacaran….” Timpal  Mat godeg turut memperkuat dugaan.

“Padahal si perempuan itu punya suami. Samir bodoh! Adikku yang menyukainya dan mau merawat kedua anaknya, tak digubris. Ehh istri orang malah diembat!” suara Udin diselipi dendam kesumat.

Perihal desas-desus itu bukan tak sampai ke telinga Samir. Tapi Samir tak menggubris. Ada yang harus dipikirkannya. Tentang kelangsungan usaha untuk menopang hidup dia dan anak-anaknya. sudah hampir dua minggu, hujan selalu turun. Disertai angin badai. Memang sedang musimnya. Tempat-tempat jemuran ikan yang biasanya penuh oleh berbagai jenis ikan yang dijemur, kini kosong. Tanah-tanah dibawahnya basah bercampur lumpur. Bekas banjir sisa hujan besar.

Untuk pengrajin rumahan yang hanya mengandalkan pendapatan sendiri dari menjaring ikan di laut, tentu saja hujan seperti itu Samir putus dengan penghasilan. Sudah hampir dua minggu ia tidak melaut. Kapal boat kecilnya hanya tertambat saja di dermaga muara. Tidak ada stok ikan asin di gudang  untuk dijual.

Tidak seperti Bos Yanto. Dengan pekerja dan nelayan yang banyak, beberapa buah kapal miliknya, belum lagi membeli ikan untuk diasinkan dari lelangan, stok Ikan di gudangnya masih bertumpuk. Ada saja pesanan yang datang atau yang diantarkan. Hanya para pekerja saja yang sepi di tempat produksi. Ia bahkan masih mencari kapal-kapal untuk dibelinya.

“Daripada nganggur, musim hujan masih lama lagi Mir. Kau jual sajalah kapal itu padaku. Kau bisa gunakan uangnya untuk modal kan? Kau tak perlu melaut unutk mendapatkan ikan. Tinggal membeli saja dfi pelelangan. Lebih ringan kerjaanmu. Untungpun masih bisa didapat. Bagaimana?” bujuk Yanto.

Tapi Samir tidak tergiur. Ia tak akan menjual kapal yang cuma satu-satunya. Mas Yanto merasa ditolak. Mungkin itu yang membuat Mas Yanto semakin benci.

Di minggu pagi, perempuan itu datang. Samir hanya menyuguhinya dengan dongeng tentang kesusahan  mendapatkan ikan karena hujan hampir setiap hari turun.

“Ini hari baru terlihat matahari menghangat Mbak. Itupun tak bisa diprediksi apakah akan cerah hingga esok hari? Saya belum lagi melaut…” terang Samir.

Mereka hanya mengobrol saja. Samir tak lepas menatap si perempuan. Ia teringat lagi mimpinya yang kembali datang semalam. Mimpi yang tak pernah diceritakannya pada si perempuan. Cukup saja ia menikmati ketakjubannya sendiri.

“Sepertinya cuaca bakal cerah hingga sore Mas. Saya ingin mencari ikan teri basah. Bagaimana kalau sesekali Mas ajak saya menangkap ikan teri? Bukankah musim hujan begini konon mereka malah banyak bergulung-gulung Mas?”

Ajakan si perempuan disambut baik. Samir tahu tempat sekawanan teri itu berkumpul. di tengah lautan, di selat kecil saat ia pernah terdampar. Perempuan itu girang, ingin segera bertualang mencari ikan-ikan itu sendiri, sesekali bertualang apa salahnya?

 

Cuaca yang semula cerah, berangsur gelap. Senja bercampur mendung, menjadikan keindahan yang redup mencekam. Titik-titik gerimis mulai bersahut dengan tiupan angin laut saat Samir hampir mendekti daratan pantai pulau kecil itu.

Lembayung sudah undur dari kaki langit. Malam temaram dengan bulan sepotong. Samir melihat perempuan itu berdiri di dekat pohon bakau, tepian pantai. Melambai. Mata Samir terpaku. Mesin rakitan di kapalnya sudah di matikan. Sementara perempuan di sampingnya, mulai takjub melihat segulungan bayangan hitam di bawah kapalnya. Ia menjerit. Itu serombongan besar ikan teri. Matanya melotot takjub. Benar yang dikatakan Samir, di pinggiran pulau ini, ikan-ikan itu bergulung gulung.

“Mas Samirr, lihat…” tepat saat tangannya menunjuk, gulungan ikan teri itu makin mendekat dan menerjang perahu mereka. Teriakan perempuan itu mencelat ke udara. Seiring perahu mereka yang terbalik. Ombak besar bergulung seiring badai yang mengamuk. Saat badai reda, Samir berhasil mendekati perempuan dalam mimpinya itu, dekat pohon bakau di pinggiran pantai.

 

Pagi hari, seorang nelayan yang tiba di pulau kecil itu, menemukan Samir yang terdampar di pantai. Tak bernyawa.

***

 

Biodata Penulis

   Ratna Ning, lahir di Subang.

Mulai menulis tahun 1994.  Tulisan pertamanya dimuat di Media Massa remaja “Kawanku”.  Karya  berupa cerpen dimuat  di Ceria Remaja, Tabloid Wanita Indonesia, FantasiTeen,  Annida,  Puteri,  Muslimah  dan  beberapa  Media Instansi.

Buku kumpulan cerpen dan puisi  terbit  indie  bersama  delapan penulis perempuan di facebook.  Satu buku kumpulan carpon & sajak Sunda “Gerentes” bersama tiga penulis perempuan turut meramaikan khazanah literasi daaerah.

Tahun 2015  Cerpennya  dimuat di media Massa diantaranya  Pikiran Rakyat dan  beberapa  media  Sunda/daerah.

Pernah menjadi Redaktur sastra Budaya di Tinta Hijau online. Menjadi jurnalis di beberapa media online dan cetak diantaranya Jabar Publisher.co,  Media Lintas Pendidikan Indonesia, Kupas Merdeka dan  Infra Merah.

Alamat Blog : Ratna Ning597.blogspot.com . Akun Facebook : Ratna Ning

No.hp           : 082130121185

No.Rek         : BRI Subang

No.4384-01-005967-53-0 An. Runengsih

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

News Feed