Nelayan di Empat Kecamatan Kabupaten Bangkalan Terdampak Pengeboran Migas

  • Whatsapp
(FOTO: KM/ISTIMEWA) SOSIALISASI: Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO) meminta dukungan Pemkab Bangkalan untuk pengeboran Sumur Eksplorasi 2-3.

KABARMADURA.ID, BANGKALAN-  Empat kecamatan akan terdampak dari rencana pengeboran sumur eksplorasi minyak dan gas (migas) 2-3 oleh Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO) di wilayah Bangkalan. Masing-masing, Kecamatan Tanjung Bumi, Sepulu, Klampis dan Arosbaya.

Terhadap peta dampak tersebut, Ketua DPRD Bangkalan, Mohammad Fahad, menguraikan bahwa akan berdampak pada aktivitas nelayan di pesisir. Sehingga, ulas Fahad, pelaku usaha atau pengembang harus memperhatikan solusi dari dampak ekonomi bagi warga.

Bacaan Lainnya

“Eksekutif dan Legislatif menyambut baik adanya sosialisasi peta dampak, apalagi, pengeboran akan dimulai dari titik pesisir Kecamatan Klampis,” ucap Mohammad Fahad, Rabu (11/8/2021).

Menurutnya, melalui kegiatan eksplorasi nantinya bisa meningkatkan kebutuhan masyarakat. Mulai dari sektor industri, lapangan kerja, investasi sektor migas, serta peningkatan pendapatan masyarakat secara umum. Sehingga, kegiatan tersebut tidak hanya menghasilkan profit bagi PHE WMO. Akan tetapi, bisa menjadi multiply effect yang positif bagi masyarakat masyarakat sekitar dan nelayan.

Lelaki yang kerap disapa Ra Fahad itu kembali menegaskan, kepada PHE WMO untuk memperhatikan dampak luas termasuk sektor kelautan dari adanya eksplorasi migas. Sebab, adanya kejelasan mengenai tanggung jawab dari corporate social responsibility (CSR) untuk memberdayakan masyarakat.

“Jadi, kami harapkan kegiatan eksplorasi telah melalui peraturan-peraturan. Sehingga, memahami dengan baik bagaimana dampaknya terhadap lingkungan serta bisa diminimalisir.  Kami juga meminta pertamina bisa konsisten dan berkomitmen dalam menjaga sumber daya alam (SDA) di perairan Bangkalan,” ucapnya.

Ketua Kelompok Pengawas Nelayan (Pokmaswas) Arosbaya Bilal Kurniawan mengatakan, jika pengeboran itu berlangsung akan menyebabkan beberapa dampak bagi nelayan. Salah satunya, berkurangnya lahan penangkapan ikan dan akan memakan tempat. Sehingga, area penangkapan ikan nelayan berkurang.

“Jadi, kami berharap betul-betul tersosialisasi langsung dengan para nelayan dan kajian-kajian pengeboran tersebut bisa tersampaikan pada nelayan. Agar, bisa diterima nelayan kami. Karena kami khawatir, ada gesekan dan kerusakan alat tangkap para nelayan. Makanya, kami meminta agar disosialisasikan dulu,” harapnya.

Disinggung mengenai jaminan ganti rugi bagi nelayan yang terdampak? Bilal menyampaikan, PHE WMO belum berdiskusi tentang jaminan kompensasi kerugian bagi nelayan. Sehingga, perlu adanya sosialisasi. Sebab, jika pengeboran minyak tersebut terjadi, maka harus ada kejelasan kompensasi dan kerugian akibat kerusakan pada daerah penangkapan ikan nelayan yang dijadikan lokasi pengeboran minyak.

Terpisah, Field Manager PHE WMO Sapto Agus Sudarmanto mengatakan, akan lebih menguatkan koordinasi dengan instansi dan perusahaan terkait. Khususnya, para nelayan setempat. Sehingga, tidak ada pihak yang dirugikan dalam kegiatan. Dia juga meminta dukungan penuh dari semua pihak, khususnya pemerintah daerah.

“Kami telah melakukan persiapan yang matang dalam pelaksanaan pengeboran Sumur Eksplorasi PHE 2-3 ini, baik dari sisi operasional maupun dari sisi sosial. Selain itu, dikarenakan kegiatan ini dilakukan di tengah pandemi, maka kami juga menerapkan Protokol Covid–19 yang ketat, agar kegiatan pengeboran bisa berjalan lancar,” responnya. (ina/ito)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *