oleh

Ngabdhi ka Kèae Aladhin Masyarakat

Badan otonom (banom) Nahdlatul Ulama (NU) yang saat ini fenomenal adalah Gerakan Pemuda (GP) Ansor. Di Sumenep, organisasi kepemudaan ini mengalami pertumbuhan yang luar biasa. Kader yang aktif mencapai ribuan. Mereka tersebar di daratan hingga kepulauan.

FATHORRAHMAN, Sumenep

Keberhasilan GP Ansor di Kota Keris ini tidak bisa lepas dari sosok M Muhri. Adalah salah satu pemuda NU yang sukses membawa Ansor Sumenep mengakar hingga pelosok desa.

Sejak Muhri memimpin PC Ansor Sumenep sejak 2012 hingga sekarang, ia mampu memberikan magnet bagi pemuda untuk bergabung membesarkan banom NU tersebut.

Kegigihan Muhri menyebarkan paham Islam ahli sunnah waljamaah atau aswaja di Bumi Sumekar dibuktikan dengan membesarkan GP Ansor. Ia tidak pernah lelah menghadiri sejumlah kegiatan yang dilaksanakan di setiap kecamatan dan desa. Nyaris setiap hari, kegiatan keumatan dan keislaman berlangsung di sejumlah daerah.

Meski dari satu tempat ke tempat lain jaraknya cukup jauh, dirinya tetap semangat datangi sehingga membawa efek bago kader Ansor lainnya. Semua itu ia lakukan hanya demi mengabdi kepada kiai dan masyarakat. “Saya hanya ingin ngabdhi ka keae, aladhin masyarakat (saya hanya ingin mengabdi kepada kiai dan melayani masyarakat) ” jawabnya saat ditanya motivasi berorganisasi di GP Ansor.

Muhri belajar berorganisasi sejak dirinya menjadi santri Annuqayah Daerah Lubangsa Guluk-Guluk Sumenep. Ia menjadi santri sejak tahun 1995 sampai 2007.

Sebagian pendidikan Madrasah Ibtidaiyah (MI), ditempuh di pondok pesantren terbesar di Sumenep itu. Sementara, pria kelahiran Sumenep 2 Januari 1982 itu, memulai organisasinya sejak duduk di bangku Madrasah Aliyah I Annuqayah. Mulanya aktif sebagai Dewan Perwakilan Siswa (DPM). Kemudian aktif di organisasi daerah (orda) yang ada di pesantren.

Saat kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Keislaman Annuqayah ( sekarang INSTIKA) ia aktif di berbagai organisasi, seperti lembaga pers mahasiswa. Juga aktif di organisasi ekstra kampus, tepatnya di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Karir organisasinya, pernah menjabat Ketua Umum Komisariat PMII Guluk-Guluk tahun 2004-2005.

Kegigihan dalam berproses mengantarkan dirinya terpilih menjadi Ketua Umum Pengurus Cabang PMII Sumenep di tahun 2008 sampai dengan 2009. Sejak saat itu, kepemimpinan Muhri mulai nampak. Ia selalu lantang mengkritik kebijakan pemerintah. Sehingga PMII Cabang Sumenep kala itu mulai mendapatkan perhatian publik ketika di bawah kepemimpinan lelaki dua orang anak tersebut.

Kepemimpinannya semakin tampak dan matang, pasca menjadi orang satu di PMII Sumenep. Sejak 2012 sampai saat ini, Muhri memimpin Gerakan Pemuda Ansor.

Figuritas yang ditampilkan Muhri terus mendapat perhatian dan dikagumi hingga mengantarkan GP Ansor Sumenep mencapai kesuksesan.

Pengakuan dari publik, baik dari kalangan nahdliyin dan kalangan pemerintah, terhadap kepemimpinan Muhri sangat luar biasa. Kendati di tengah kesibukannya juga menjadi Wakil Sekretaris PC NU dan Ikatan Sarjana Nahdatul Ulama (ISNU) Sumenep, namun ia masih tetap bisa membawa Ansor ke tengah-tengah masyarakat dengan gerakan yang luar biasa.

Dua periode memimpin Ansor, nama Muhri di kalangan nahdliyin di Sumenep semakin dikenal. Kekaguman terhadap sosok yang saat ini menjadi pengurus DPC PKB tersebut semakin menguat karena sukses membawa Ansor membumi diseluruh lapisan masyarakat. Sehingga akhirnya, Muhri menjadi figur yang sangat lekat dengan Ansor.

Saat ini, semua PAC Ansor di 27 Kecamatan baik daratan dan kepulauan sudah terbentuk. Bahkan banyak warga NU yang ingin mengabdi menjadi pengurus Ansor dan Banser di bawah kepemimpinan Muhri.

Dari sisi keilmuan, ia tidak hanya mendalami ilmu agama. Muhri juga aktif belajar disiplin ilmu lainnya selama nyantri di Annuqayah. Semua itu cukup menjadi modal kepemimpinannya hingga sekarang.

Berkat itu, Muhri sempat digadang-gadang supaya maju sebagai calon legislatif Jawa Timur 2019.

Namun karena beberapa pertimbangan, kesempatan itu tidak diambil. Ia lebih memilih maju sebagai calon legislatif DPRD Sumenep 2019 melalui PKB, dari daerah pemilihan (dapil).

Dari pengalaman organisasi yang sangat matang, Muhri bertekat untuk berbakti dan mengabdi melalui jalur parlemen. Sosok Muhri dianggap mampu mewarnai parlemen dengan karakter politik santri.

“Menjadi wakil rakyat adalah amanah. Termasuk menjadi ketua PC GP Ansor juga adalah amanah, amanah menjadi ketua Ansor sudah saya alami. Alhamdulillah mendapatkan sambutan luar biasa,” katanya.

Baktinya yang tidak setengah-setengah, akan dibawa ke parlemen untuk melayani rakyat. Tentunya hal itu bisa terjadi, jika Muhri mendapatkan kepercayaan dan bisa meraih kursi di pileg 2019 mendatang.

“Saya ingin mengabdikan diri melalui parlemen. Melalui kebijakan dari pemerintahan, saya ingin bersuara untuk kepentingan masyarakat yang lebih luas. Mohon doa dan dukungan dari semua pihak,” harapnya. (rei)

Komentar

News Feed