oleh

Nisa, Bertahan Jual Tape Keliling Secara Barter

Kabarmadura.id-Batas usia bukanlah halangan untuk terus berusaha, berikhtiar mencari karunia Allah di muka bumi. Orang yang semangat mencari karunia Allah, selalu mencari peluang dari kerasnya kehidupan. Akan tetapi, orang malas akan selalu mencari alasan untuk berhenti berjuang.

Moh Tamimi, Sumenep

Seorang nenek renta tetap berjualan tape keliling, Nisa namanya. Hanya Nisa. Namanya berbeda dengan nama-nama anak-anak di akhir-akhir ini yang cenderung terdiri dari tiga sampai lima kata. Sosok nenek renta ini, kondisi punggunggnya sudah tidak tegak, sudah sedikit bungkuk. Akan tetapi, ia tak pernah menyerah menghadapi kerasnya hidup.

Saat ditanya oleh Kabar Madura, seberapa lama ia berjualan tape keliling, ia mengungkapkan tidak tahu persis tahun berapa ia memulai, tetapi ia mengungkapkan sejak masih muda. Berdasarkan perkiraan untuk mempertegas yang diajukan Kabar Madura, ia telah menekuni pekerjaan itu selama 30 tahun.

“Wah, saya jualan tape sejak masih belum ada kamu. Kalau 30 tahun ya Inyaallah,  sekitar lebih segitu,” ungkapnya dengan suara tegas di usianya yang sudah tidak muda tersebut, Kabar Madura (29/3).

Setiap kali menjajakan tapenya dari rumah ke rumah, berdasarkan pengakuannya ia membawa tape sebanyak dua buah klasah (wadah yang menyerupai bak, terbuat anyaman bambu, red).

Dalam sistem pembayarannya, ia masih menggunakan sistem barter, biasaya dengan jagung. Tidak ada ukuran/takaran pasti dalam hal itu, biasanya dibarter dengan jagung, hanya berdasarkan kepercayaan satu sama lain.

“Ya kalau masalah itu terserah, nak, sudah bisa saling mengerti satu sama lain,” jawabnya saat ditanya perihal takaran yang harus diberikan oleh pembeli dan tape yang akan ia berikan kepada pembeli.

Akan tetapi, meskipun lumrahnya masih menggunakan sistem barter, Nisa mengatakan bahwa ia tetap mau menerima pembelian dengan uang tunai. Nenek asal Desa Prenduan, Kecamatan Prenduan, tersebut mengaku bahwa ia membeli dari masyarakat Pordapor yang terkenal dengan pembuatan tapainya itu.

Setiap klasah, biasanya ia mendapatkan tujuh lima sampai tujuh karung jagung dari hasil barterannya.

Berdasarkan keterangan salah satu pembeli, Munipa, perbedaan Nisa dengan penjual tape lainnya adalah masih memiliki akhlak yang baik dalam berdagang, menawarkan tapenya. Biasanya, ada yang menjaja barengan dua orang.

“Bagusnya Bu Nisa, ia tidak seperti pedagang tape lain yang langsung serta-merta meletakkan tape di rumah, meskipun tidak ada orangnya, atau sudah bilang tidak mau beli karena tidak memiliki jagung untuk dibarter,” tandasnya pada Kabar Madura, Jum’at (29/3) (waw)

Komentar

News Feed