oleh

Nofi Fitroti Si Penjual Petis, Mahasiswi yang Percaya Diri demi Mandiri

Kabarmadura.id/SAMPANG-Bagi Nofi Fitroti, menjalani kehidupan tidaklah mudah, apalagi dengan keluarga berpenghasilan terbatas. Namun gadis asal Jalan Mangkubumi Desa Madegan, Kelurahan Polagan, Kecamatan/Kabupaten Sampang itu, hidup serba kekurangan merupakan tantangan.

Rintangan itu, justru membuatnya lebih terdorong untuk menaklukannya, terutama saat harus memenuhi biaya pendidikannya.

Sejak kelas 2 sekolah menegah pertama (SMP) di Pondok Pesantren (Ponpes) Sabilillah Sampang, dia mulai belajar mandiri, bahkan semua kebutuhan bisa dipenuhi sendiri. Berjualan nasi goreng, nasi lalapan, soto, gado-gado dan lontong mie di kantin pondok, dijalani dengan giat saat jam istirahat.

Kegiatan itu harus dilakukan lantaran adik-adiknya juga harus dibiayai pendidikannya. Berjualan untuk menyokong pendidikannya itu, dilakukan selama 4 tahun. Tidak hanya untuknya, hasilnya juga untuk membantu perekonomian di pondoknya.

“Saya ingin membantu meringankan beban orangtua, biar fokus biayai pendidikan 4 adik saya. Jualan di kantin pondok tidak membuat saya merasa malu sama sekali sama teman-teman,” tutur Nofi Fitroti kepada Kabar Madura, Kamis (23/7/2020).

Sebenarnya kesadaran untuk mandiri sudah dipupuk sejak putri pasangan Moh. Abi Darrin dan Muhibbah duduk di kelas IV sekolah dasar (SD). Dia bercerita, hal itu  membuatnya sibuk, sehingga tidak sempat bermain dengan teman sebayanya. Saat itu, dia membantu orangtuanya jualan rujak cingur, bubur mutiara, pentol cilok dan es lilin.

“Saya mandiri itu dari kelas IV SD, sehingga tidak sempat bermain seperti anak-anak lainnya, sebab jualan,” ceritanya.

Gadis yang kini berusia 20 tahun ini,  lulus dari SMP di Pondok Pesantren Sabilillah pada tahun 2013. Dia jadi generasi pertama di sekolah itu. Kemandirian itu, dilanjutkan hingga masuk SMA pada  tahun 2014.

Sembari mondok, dia memilih SMA formal di luar pondok. Matematika dan IPA (MIPA) adalah jurusan yang dipilih. Namun di pondok memilih jurusan kitab kuning. Namun, karena harus bisa mengatur waktu, kemudian lebih fokus pada sekolah formal.

Menginjak di perguruan tinggi, kehidupan yang penuh tantangan itu tetap mewarnai jalan Nofi. Saat kuliah di IAIN Madura, dia berjualan nasi di kos-nya.

Mahasiswa semester 3 itu, tidak berhenti berusaha mandiri. Sayangnya, wabah Covid-19 seperti sekarang ini, membuatnya harus berpikir keras. Sebab, aktivitas kampus terhenti dan membuat usahanya macet.

Lantaran terbiasa mandiri, inovasi selalu muncul di kepalanya. Kini dia mencoba jualan petis mercon, tahu geprek, sambal rebon tembi, cilok mercon dan rujak kambhang.

Nofi mencoba menembak konsumen dari kalangan umum, tidak hanya mahasiswa.  Bahkan, sudah menuai hasil dan cukup untuk membayar uang kuliah tunggal (UKT) di kampusnya senilai Rp1,3 juta per semester.

Selain itu, kini juga membuka les umum secara gratis dan mengajar di Madrasah Sabilillah secara gratis. Semua itu dilakukan hanya untuk pengabdian.

“Untuk biaya hidup dan keperluan kampus 100 persen, biaya sendri, termasuk juga untuk membeli laptop. Semua ini tidak terlepas dari doa kedua orangtua dan guru,” pungkasnya. (mal/waw)

Komentar

News Feed