Nominal Tetap, Mekanisme Pencairan DD/ADD Berubah

  • Whatsapp
(KM/FA'IN NADOFATUL M.) PROSES PENCAIRAN: Kepala Bidang (Kabid) pemerintahan desa Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD)

Kabarmadura.id/Bangkalan-Anggaran untuk Dana Desa (DD) dan Alokasi Dana Desa (ADD) tahun 2020 tidak memiliki perbedaan signifikan dengan tahun sebelumnya. Jika pada tahun 2019 DD sebanyak Rp329 miliar dan ADD sebesar Rp117 miliar, untuk tahun 2020 anggaran DD sebanyak Rp320 dan ADD Rp112 miliar.

Hal itu disampaikan Kepala Bidang (Kabid) Pemerintahan Desa Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) Bangkalan Amir Lutfi. Menurutnya, untuk masing-masing desa, pemberian DD/ADD ini bervariasi. Besar kecilnya DD/ADD yang diterima perdesa dan perkecamatan tergantung luas wilayah dan jumlah penduduknya. Sehingga, tidak semua desa diberikan bantuan DD/ADD dengan nominal yang sama.

“Kalau DD ini kan pemberian langsung dari pusat, kementerian. ADD dari pemerintah kabupaten atau daerah,” terangnya.

Sementara itu, proses pencairan DD/ADD ini menurut Amir masih sama juga dengan tahun lalu. Di mana ada 3 tahapan pencairan. Hanya saja, untuk tahun ini ada yang berbeda. Sebab, pencairan bukan lagi tahap I 20 persen,  tahap II 40 persen dan tahap III 40 persen. Melainkan tahap I 40 persen, tahap II 40 persen dan tahap III 20 persen. Di mana setiap tahap akan dicairkan dalan triwulan sekali.

“Insyaallah tahap pertama cair sekitar April-Mei,” tambahnya.

Lebih lanjut, Amir menjelaskan, perubahan skema pencairan tersebut karena mengacu pada Peraturan Menteri Keuangan (PMK) nomor 205 tahun 2019 tentang ketentuan pengelolaan DD. Ketentuan ini terbalik dibandingkan dengan peraturan sebelumnya, PMK nomor 193 tahun 2018

Sementara itu, untuk mengawasi realisasi DD/ADD yang nominalnya fantastis ini, Amir telah melakukan koordinasi dengan pihak Inspektorat dan kepolisian. Disinggung tentang apakah laporan yang masuk mengenai penyalahgunaan DD/ADD ini, ia menerangkan, selama ini belum ada laporan.

“Hanya memang ada informasi kalau penggunaan DD/ADD ini di beberapa desa pembangunannya belum 100 persen,” pungkasnya. (ina/pai)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *