oleh

Novi, Perempuan Pertama Pengungkap Nilai Maskulinitas di Tengah Masyarakat Patriarkis Madura

Kabarmadura.id/PAMEKASAN-Sebagai aktivis gender, Novi Kamalia mempunyai riwayat hidup yang cukup menarik sebagai seorang perempuan. Dia pernah menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, kemudian meneruskan studi sarjana jurusan Tafsir-Hadis di Universitas Negeri Islam (UIN) Syarif Hidayatullah, program magister di Universitas Indonesia (UI), dan terakhir dia menempuh pendidikan Program Doktor Ilmu Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Airlangga Surabaya.

Perempuan yang biasa disapa Novi ini merupakan aktivis gander, orang pertama di Madura yang membahas tentang maskulinitas di dalam disertasinya yang berjudul “Politik Tubuh So’leran: Sebuah Upaya Merebut Kembali Maskulinitas Laki-Laki Madura.” Tantangan ini Novi ambil karena mayoritas aktivis perempuan Madura hanya fokus kepada kesejahteraan gender, yang kebanyakan hanya membahas feminis, tanpa menguak fakta di balik maskulinitas kaki-laki. Padahal kalau berbicara gender tentunya juga harus membicarakan keduanya.

Bagi Novi, sapaan akrabnya, salah satu cara untuk membahas isu laki-laki dalam masyarakat patriarkis adalah dengan membongkar dan merekonstruksi konsep maskulinitasnya. Tentu di Madura juga disebut sebagai masyarakat patriarkis, maka hal ini juga harus dibongkar.

“Selama ini aktivis perempuan hanya bicara tentang feminis, hanya fokus pada wacana yang menganggap perempuan tertindas, perempuan tidak mendapatkan akses baik dalam politik dan di dunia pekerjaan. Seharusnya perempuan juga harus membahas tentang maskulinitas yang tentunya ini akan berkaitan dengan indikator identitas gender, di mana laki-laki juga akan dibahas tubuh dan prilakunya,” tegasnya.

Penelitian yang telah dilakukan oleh Novi ini rupanya sangat berbasis kultural, di mana wacana maskulinitas kaki-laki yang selalu terangkat di hadapan sosial, akan terjatuh apabila tubuh dan perilaku sosialnya ketahuan So’ler (tidak jantan).

Menurut akademisi kelahiran Pamekasan, 8 November 1984 itu, selama proses penelitiannya, dia sudah sering mendapatkan penolakan dari informannya, tapi tidak pernah patah arang, tetap bersikukuh untuk mendapatkan informasi yang sebenarnya terkait so’ler dan maskulinitas, atau bisa dikatakan yang berkaitan dengan kejantanan laki-laki Madura.

“Karena kalau tidak melalui pendekatan dan emosional yang baik, mereka para lelaki Madura tidak akan pernah mau terbuka. Tentunya mereka juga mempunyai rasa malu, tidak ingin kejantanannya direcoki. Bahkan di kalangan tokoh agama, mereka masih tetap menampakkan bahwa maskulinitas laki-laki adalah kejantanan sejati,” ungkapnya.

Di lain sisi, Novi juga pernah menginisiasi sebuah komunitas untuk memberikan edukasi kepada masyarakat Madura terutama Pamekasan. Pada pertengahan tahun 2017 lalu, Novi dan beberapa rekan aktivis lainnya mendirikan komunitas “Sivitas Kotheka”.

Di Sivitas Kotheka-lah Novi Kamalia beberapa kali membahas tentang so’ler dan nilai maskulinitas laki-laki Madura, dia berkolaborasi dengan beberapa tokoh, baik akademisi, tokoh agama, budayawan nasional dan tokoh-tokoh lainnya.

Novi Kamalia juga dikenal sebagai penulis, sudah ada beberapa karyanya yang telah diterbitkan, di antaranya “Semudah Bermain Catur” (esai), “Tak Jalan Maka Tak Sayang” (esai), “Fa” (puisi), dan “ Menjadi Manusia Ka’bah: Catatan Ibadah Umroh” yang baru saja diterbitkan di Sulur Yogyakarta 2020. (01km/nam)

Komentar

News Feed