oleh

Nuansa Arsitektur Kerajaan di Masjid Laju Kapanjin Mulai Memudar

BAGIAN DALAM: Dipoles menjadi lebih modern.

Kabarmadura.id-Memahami sejarah, memahami peradaban suatu bangsa, tidak sekadar dengan wacana hampa tanpa dasar bukti, terutama bukti arkeologis yang masih tersisa. Tanpa bukti arkeologis dari suatu peradaban, hanyalah narasi-narasi imajinatif yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

MOH TAMIMI, SUMENEP

Ada masjid yang tidak kalah legendarisnya dari Masjid Jamik Sumenep di Kabupaten ujung timur Pulau Madura ini, yaitu Masjid Laju (lama, red) yang terletak di Kelurahan Kepanjin, Kecamatan Sumenep. Masa pembangunan masjid tersebut tidak jauh dari masanya Masjid Jamik, lebih dahulu.

Masjid berukuran kecil tersebut, letaknya tepat berada di depan Rumah Dinas Kabupaten Sumenep, utara jalan. Dari sisi jalan, masjid tersebut masuk ke arah utara sekitar 100 meter karena masih berdampingan dengan rumah di bagian selatannya. Akan tetapi, ada gerbang berbentuk kubah di bagian atasnya yang menandakan bahwa ada masjid di sana.

Akan tetapi, masjid peninggalan Pangeran Anggadipa yang berkuasa pada tahun 1626 sampai 1644 tersebut, sudah mengalamami berbagai perubahan, baik dari perluasan masjid, dan berbagai tambahan lain di sekitarnya. Hanya saja, kekhasan masjid tersebut masih terlihat dengan bentuk pintunya yang kelihatannya nuansa keratonnya.

Bentuk pintunya membentuk pola persegi empat di bagian bawah, sedangkan di bagian atas terdapat potongan kayu persegi panjang yang dipasang melintang serupa gelombang, lebar kayu melintang tersebut  selebar lima centimeter sebanyak 18 potonga yang berjajar secara melintang. Ventilasinya juga berpola persegi panjang yang tengahnya ada kayu melintang berbentuk silang dari sudut ke sudut.

Sedangkan di bagian dalam, suasananya sudah tidak kalah dengan arsitektur modern, nuansa kekunoannya sudah tidak begitu terlihat, karena dinding-dingnya sudah sama sekali berubah. Separuh dindingnya dikeramik berwarna biru dan tiang-tiangnya sudah menggunakan bahan beton.

Berbeda dengan bagian beranda masjid yang masih menggunakan tiang kayu khas masa kerajaan.

Ada lagi yang menandakan bahwa masjid itu benar-benar peninggalan masa kerajaan, adalah atapnya berbentuk limas susun tiga yang khas kebudayaan bangunan nusantara, bukan berbentuk kubah sebagaimana masjid di Timur Tengah, dan sebuah menara di samping utaranya.

Menurut salah satu jamaah Masjid Laju Abd Rasyid saat ditemui Kabar Madura di masjid tersebut saat hendak sholat, masjid tersebut bagian dalamnya tidak dibuka/digunakan kecuali hari Jum’at untuk sholat jum’at.

“Tidak diperbolehkan sholat di dalam, sholat bagian luar saja, kecuali hari Jum’at,” ungkap tukang becak asal Desa Kertasada tersebut kepada Kabar Madura, Selasa (19/3).

Pangeran Anggadipa mendirikan masjid tersebut pada tahun 1626. Beliau diturunkan dari takhtanya karena difitnah oleh Raja Sampang Raden Tumenggung Jaing Pati yang berhasrat untuk menjadi raja di Sumenep. Pangeran Anggadipa wafat menyusul istrinya Raden Ayu Ireng dan disemayangkan di komplek pemakaman Asta Tinggi.

Pangeran Anggadipa dimakamkan di komplek pemakaman Asta Tinggi. Ia menyusul kematian sang istri yaitu Raden Ayu Ireng sebelumnya. (waw)

Komentar

News Feed