Nyai Rofiah, Generasi Keempat Cikal Bakal Pembatik Pamekasan

  • Whatsapp
INSPIRATIF: Nyai Rofiah sampai saat masih menggunakan peralatan tardisional untuk menciptakan karya-karya batik khasnya.

Kabarmadura.id-Kegiatan membatik, bukan sekadar pekerjaan biasa bagi pelakunya. Aktivitas tersebut, juga diyakini sebagai kegiatan berkarya seni. Hal itulah yang mendasari Nyai Rofiah untuk bertahan hingga 69 tahun sebagai pembatik. Kerja kreatif itu, sudah dijalaninya sejak usianya 10 tahun.

KHOYRUL UMAM SYARIF, PAMEKASAN

Siang itu, mentari sangat terik menyengat di Desa Klampar Proppo Pamekasan. Namun, cuaca tersebut, menguntungkan bagi pengrajin batik. Sepanjang jalan desa ini, setiap halaman rumah banyak terlihat hamparan batik yang sedang dijemur.

Untuk menuju kediaman Nyai Rofiah, tidak cukup sulit. Sebab, banyak warga setempat yang mengenalinya. Sekitar 3 kilometer menyusuri jalan raya penghubung Kecamatan Proppo-Palengaan, lokasinya sudah terlihat. Terlebih, di rumahnya, juga berdiri sebuah lembaga pendidikan jenjang sekolah dasar.

Di halaman rumah Nyai Rofiah, juga terlihat hamparan kain batik yang dijemur. Kediamannya cukup luas, Nyai Rofiah tinggal tepat di samping lembaga pendidikan yang dibangun keluarganya itu.

Sesampai di kediaman pembatik senior ini, suasana teduh langsung terasa. Maklum, beberapa menit sebelumnya harus berjibaku dengan sengatan teriknya matahari. Ditambah angin sepoi-sepoi dan pemandangan aktivitas membatik yang dilakukan sejumlah wanita paruh baya, membuat suasana semakin terasa sejuk.

Kebetulan, saat itu masuk waktu dzuhur. Kehadiran Kabar Madura, tidak langsung disambut Nyai Rofiah, karena sedang salat dzuhur. Setengah jam setelah menungu di gazebo sembari melihat para pekerjanya membatik, Nyai Rofiah akhirnya tiba.

Wanita yang kini sudah berusia 79 tahun itu, langsung melempar senyum, menyambut kehadiran Kabar Madura yang memang sudah menantinya. Dia terlebih dahulu memantau para pekerjanya, kemudian mengambil peralatan membatiknya.

Akhirnya, perbincangan dengan Kabar Madura, dilakukan Nyai Rofiah sembari membatik. Namun tidak canggung ketika ditanya tentang pengalamannya membatik selama ini. Satu per satu pertanyaan, dijawab dengan lancar dan penuh akrab.

Nenek yang satu ini, sudah 69 rahun menjadi Pengarajin Batik Banyumas, Klampar Proppo, Pamekasan. Dia mulai belajar membatik sedari kecil, sekira usia 10 tahun. Bahkan, di usia yang kini sama dengan anak SD itu, dia sudah mengahasilkan beberapa karya yang bisa menambah penghasilan keluarganya.

Nyai Rofiah, merupakan generasi keempat pembatik di desanya. Sehingga pada masa kanaknya, sudah melihat orang tuanya banyak mempekerjakan tetangganya untuk membatik. Dalam perjalanannya, bakat membatik yang ia miliki semakin luar biasa. Bisa jadi, memang bakat yang diturunkan dari gen nenek moyangnya yang juga seorang pembatik.

“Nenek moyang saya sudah pandai membatik,” ungkpanya.

Rahasiannya mampu bertahan lama menjadi pengrajin batik, karena termotivasi pada peninggalan kreativitas intelektual para pendahulunya. Bahkan pada masa kanaknya, banyak orang luar negeri yang berkunjung ke rumahnya guna membeli batik khas tersebut.

Dari batik yang diproduksi oleh keluarganya itu, beimbas pada meningkatnya kesejahteraan kelaurganya, sehingga bisa memberangkatkan haji keluarganya.

Menurnya, pada generasi sebelum dia, cikal bakal pewarnaan batik butuh waktu yang lama, sebab pewarnaannya melalui proses yang sangat alami, sehingga butuh waktu panjang. Dalam proses pewarnaan, memanfaatkan dedaunan yang berada disekitar pekarangan rumahnya, sehingga kualitasnya sangat lebih baik jika dibandingkan batik masa kini.

Istri dari KH Fadli itu, menjadikan batik sebagai pengharapan untuk membangun keluarga kecilnya. Kebutuhan sehari-harinnya, bertumpu pada hasil kerajinan batik, termasuk biaya pendidikan keluarganya.

Kini dia merasa bangga, karena semua orang yang pernah bekerja kepadanya, sudah mampu memproduksi sendiri batik di setiap rumahya bahkan ada yang sudah punya butik batik.

Namun ibu dari  tujuh orang anak itu, tidak patah arang. Terlebih, 6 anaknya sudah mengkuti jejaknya jadi pembatik dan terbilang sejahtera berkat didikan membatik darinya. Anak-anaknya tidak hanya menjadi seorang pengrajin, melainkan juga menjadi pengusaha batik yang sudah beromset ratusa juta rupiah setiap bulan.

Sebagai generasi cikal bakal lahirnya Batik Banyumas (batik khas Klampar, Pamekasan), dia berharap agar usaha kreatifnya terus berdampak postif bagi kesejahteraan ekonomi masyarakat di desanya. Sebab tidak ada lain sumber pengahasilannya masyarakat di desanya selain batik tulis Banyumas.

“Saya berharap, batik tulis terus diminati, sehingga warisan kreativitas nenek moyang terus bertambah jaya,” ujarnya. (waw)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *