Obyektif Menilai Karya Sastra 

Opini77 views

– Chudori Sukra

– Anggota Mufakat Budaya Indonesia (MBI), pengasuh pondok pesantren Riyadlul Fikar, Serang, Banten.

Banner Iklan Stop Rokok Ilegal

Akhir-akhir ini, kita mendengar adanya pengakuan dari Sutardji Calzoum Bachri, seorang sastrawan senior yang dikenal sebagai “presiden penyair Indonesia”, bahwa dirinya telah mengalami pencerahan di usia 82 tahun. Pernyataan itu dipertegas oleh sahabatnya, Ahmadun Yosi Herfanda di perpustakaan H.B. Jassin (Taman Ismail Marzuki), bahwa di usia senjanya Sutardji telah menggeser konsep puisinya, bahkan mengubah kredo dan keyakinan spiritualnya. Sajak dan puisi-puisinya, yang semula cenderung membebaskan kata dari beban makna, kini lebih mempertegas kesaksian manusia di alam Ruh, bahwa Allah adalah Tuhan sekalian alam.

Apakah sosok Sutardji, Jose Rizal Manua, Isbedy Stiawan dan lain-lain, yang pernah mendapat dukungan publik di era Orde Baru itu, masih dapat mengena di hati publik milenial akhir-akhir ini? Mari kita perdalam konteks kesusastraan kita dalam era kekinian dan keindonesaan, baik dari sisi obyektifitas maupun subyektifitasnya.

Hakikat karya sastra tak terlepas dari perasaan yang timbul dalam hati penonton atau penikmat karya sastra (seni). Rasa hanya akan muncul apabila karya seni itu mengahadirkan perasaan yang ditampilkan oleh sastrawan melalui karya-karyanya. Namun, bisa kita maklumi bahwa tidak semua perasaan yang dituangkan dapat memicu semua penikmat karya sastra, hingga ia memperoleh rasa yang memadai. Padahal, justru kualitas keindahan karya sastra dapat diukur dari bagaimana perasaan yang ditampilkan dapat menghujam dalam jiwa dan sanubari pembacanya.

Maka, di sinilah kita memasuki relativitas penilaian karya sastra. Karena bagaimanapun, suatu karya sastra (seni) akan mudah lekang oleh pasang-surutnya zaman, bahwa indahnya karya Sutardji atau Taufik Ismail di masa Orde Baru, boleh jadi tak lagi memungkinkan dinyatakan “indah” dalam konteks saat ini.

Sikap legawa dan rendah-hati sangat dibutuhkan untuk memahami jiwa pembaca yang beragam dan berwarna-warni. Penialian atas karya sastra tak perlu dibatasi oleh sekat-sekat kompetensi menurut kelompok dan komunitasnya sendiri, melainkan harus murni dari rasa kagum hingga cinta yang subjektif dari para penikmat sastra. Perasaan semacam itu timbul karena karya sastra yang dibaca memuat nilai-nilai yang memiliki daya picu bagi para pembacanya, tak peduli apakah itu karya para senior, yunior atau bahkan penulis pemula sekalipun.

 Misalnya begini. Ketika seseorang sedang mengalami putus cinta, dengan sendirinya akan nikmat jika membaca puisi-puisinya Jokpin, Afrizal Malna, atau bahkan cerpennya Putu Fajar Arcana dan Hafis Azhari mengenai “Cinta Itu Buta”. Sangat dimungkinkan pembaca yang sedang sakit hati mengatakan, bahwa karya sastra mereka itu indah dan menakjubkan. Jadi, sangat situasional dan kondisional sekali. Seorang yang bergelut di bidang keagamaan, baik di gereja maupun pesantren, kemungkinan besar memperoleh “rasa” ketika membaca puisi Biblical maupun Qurani, di mana unsur-unsur religiositas dituangkan oleh penulisnya.

Baca Juga:  Kiai Wapres Sebenar Wapres

Generasi milenial saat ini, nampaknya ingin memberontak, sebagaimana pemberontakan Sutardji dan Ahmadun di atas, bahwa penilaian terhadap karya sastra, khususnya oleh penikmat sastra milenial, tak lain merupakan apresiasi yang berangkat dari kedalaman dirinya. Pembacaan mereka atas karya sastra memang benar-benar terjadi, semacam adanya “letupan rasa” secara alamiah. Jadi, rasa itu muncul karena sastrawan berhasil menyajikan perasaan mendalam (bhava) melalui karya-karyanya.

Lalu, bagaimana mengenai profesionalitas di bidang karya sastra? Apakah mengalami nasib yang sama dengan kematian dan kepunahan para pakar yang pernah mengalami jaya-wijaya di masa Orde Baru? Kalau kepunahan itu membawa “berkah” bagi munculnya generasi baru yang ikhlas membangun budaya dan peradaban yang lebih baik, why not? Anggap saja “kepunahan” itu sebagai daun-daun kering yang berguguran, hingga dapat dikemas baru menjadi pupuk kompos yang dapat menyuburkan tanaman bagi generasi anak-cucu bangsa.

Daripada tetap ngotot mempertahankan status quo, mending bersikap legawa sebegaimana yang tergambar dalam cerpen “Kabar Kematian Seorang Pujangga” (www.litera.co.id). Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri, bahkan jikapun sastrawan senior sudah menginjak 82 tahun seperti Pak Sutardji Calzoum Bachri. Beliau secara terang-terangan mengakui dirinya telah mendapat pencerahan (hidayah), dan tidak lagi sibuk dengan utak-atik kata dan semantik, karena yang sanggup memberikan pemahaman atas makna pada hakikatnya Sang Kreator Maha Cerdas, yang berada di balik kecerdasan para sastrawan itu sendiri.

Di era milenial ini, seketat apapun format penilaian yang digunakan tim juri lomba maupun sayembara sastra, tetap saja terbuka peluang bagi para penilai untuk menggunakan subyektivitasnya. Jadi, ada pertautan antara rasa dan perasaan penikmat sastra yang sangat menentukan universalitas, hingga pada gilirannya akan menentukan kualitas keindahan karya sastra.

Ini bukan lagi era militerisme yang harus diseragamkan dalam perspektif dan penafsiran tunggal secara serentak. Pengakuan publik terhadap suatu karya sastra tidak lagi merupakan gairah primitif untuk mengikuti tren atau kegenitan menyerap bahasa asing melulu. Kekaguman seorang individu akan mudah diselarasakan cita rasanya dengan cita rasa orang lain. Keselarasan selera itu diharapkan dapat mendatangkan keyakinan bahwa seseorang telah menjadi bagian dalam kelompok tertentu, semisal kelompok pecinta novel “Perasaan Orang Banten”, “Kuda”, “Orang-orang Oetimu” atau “Jenderal Tua dan Kucing Belang”.

Keselarasan itu tidak serta merta menunjukkan tindakan ikut-ikutan, karena suatu karya sastra dapat menciptakan rasa bagi sekelompok orang, sekaligus berkat perasaan mendalam (bhava) yang terkandung di dalamnya. Misalnya, penyuka sastra eksistensialisme yang cenderung absurd, ia akan konsen pada karya Eka Kurniawan, Benny Arnas atau A.S. Laksana. Beda dengan kelompok lainnya, semisal penyuka karya Leila Chudori, Pandji Sukma, Hafis Azhari, Felix Nessi, Oky Setiana Dewi, dan seterusnya.

Baca Juga:  Wartawan Kampus Hadapi Intimidasi, Sensor, Bredel

Kita mengenal banyak sastrawan muda yang karya-karyanya diakui secara umum sebagai karya sastra yang indah. Beberapa karya itu bahkan membuat nama sastrawan begitu melejit ke ranah publik. Putu Wijaya akhirnya mengakui, bahwa di era milenial ini semakin bermunculan tulisan-tulisan hebat, baik berupa cerpen, esai-esai cerdas, kritik sastra hingga resensi maupun sinopisis film. “Mereka terampil menggoreskan pena, saling bersahutan antara satu penulis dengan penulis lainnya, tetapi sayangnya, jarang dari mereka yang mau menggeluti formalitas untuk mengambil anggaran yang tersedia,” tegas Putu Wijaya.

Sastrawan senior itu tak mau memasuki wilayah konflik laten antara satu kubu dengan kubu lainnya dalam berkesenian. Di usianya senjanya, ia tak mau mengambil risiko dirinya terpelanting dari percaturan sejarah. Nampaknya ia tak mau mengutuk kegelapan, tetapi justru ingin menyejukkan para penulis muda, walaupun dengan setitik cahaya terang yang ingin disumbangkannya. “Saya terkagum-kagum dengan para penulis baru yang tak pernah dikenal publik, bahkan sama sekali tak mau menampakkan diri dalam kerumunan para sastrawan. Tetapi, mereka terampil menulis dan melanglang buana melalui jejaring internet,” demikian tegas Putu Wijaya kepada penulis dan kontributor Kompas, Dwi Bayu Radius dalam artikelnya berjudul “Putu Wijaya dan Kebingungan Seniman” (kompas.id, 17 Januari 2023).

Kini, generalitas penilaian yang didasarkan pada norma baku semakin melentur, tak lagi mendapat pengakuan publik. Penikmat karya sastra akan melebur dengan pemahaman universalitas yang lambat laun menemukan kecerdasan dan kedewasaannya. Keterkaitan antara rasa dan perasaan si penikmat sastra, dengan sendirinya dapat menentukan penilaian yang ideal di kemudian hari.

Kita sering juga menjumpai beberapa orang yang mengunggah atau membaca puisi karya penulis terkenal (semisal Chairil Anwar, Rendra dan Sutardji) namun sama sekali tidak mengerti, juga tak menikmati apapun dalam pembacaannya. Bahkan, tidak mendalami situasi kondisi di mana, kapan, dan bagaimana perasaan si penyair saat mengguratkan pena tersebut. Sebuah gairah primordial yang semata-mata mengikuti tren belaka, atau mendengar idolanya membacakan puisi yang kadung disebut “indah”. Boleh jadi suatu karya prosa (cerpen atau novel), mentang-mentang banyak penulis sinopsis maupun resensinya, lalu kita ikut-ikutan juga menyukainya.

Namun kita perlu berhati-hati, bahwa tidak selamanya gairah primordial itu bisa dipersalahkan. Boleh jadi, melalui momentum itu, seseorang mulai melirik dan mengenal suatu karya tertentu, misalnya “Kuda” atau “Pikiran Orang Indonesia”, sampai kemudian si pembaca pelan-pelan mulai menyukainya.

Dengan kata lain, orang-orang yang memberi pengaruh terhadapnya, baik itu teman maupun idola merupakan motivator yang memperkenalkannya terhadap novel-novel tersebut. Harapan selanjutnya, perasaan kagum yang timbul pada pembacaan berikutnya, akan benar-benar muncul dari kedalaman hati dan relung jiwa si penikmat sastra itu sendiri. *** 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *