oleh

Oknum Satpol PP Diduga Pukul Demonstran

Kabarmadura.id/SUMENEP – Mahasiswa yang tergabung dalam Front Aksi Mahasiswa Sumenep (FAMS) mendapatkan pengalaman buruk saat melakukan aksi demonstrasi di halaman Kantor Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep, Rabu (27/2). Alih-alih ditemui oleh orang nomor satu di Kabupaten Sumenep, mereka diduga dipukul oleh satuan polisi pamong praja (Satpol PP) yang bertugas mengamankan aksi massa yang hendak masuk ke kantor pemkab.

Salah seorang mahasiswa yang dipukul tersebut adalah Junaidi. Junaidi mengalami luka di bagian bibirnya. Kronologinya, Junaidi dan teman-temannya memaksa masuk ke kantor pemkab. Saat itulah ada aksi saling dorong dengan aparat keamanan yang mengakibatkan terjadinya pemukulan tersebut. Dalam aksi demonstrasi tersebut juga terdapat aksi pembakaran karena para demonstran tidak bisa menemui bupati.

“Sebenarnya kami mau masuk dengan cara baik-baik, cuma ada dua oknum Satpol PP yang menghadang,” ungkap Junaidi saat diwawancarai Kabar Madura seusai melakukan aksi demonstrasi, Rabu (27/2).

Dalam aksi demonstrasi yang dilakukan oleh FAMS tersebut, mereka mengemukakan tiga tuntutan yaitu, pertama, bupati harus menyamaratakan pembangunan baik daratan maupun kepulauan. Kedua, bupati dan wakil bupati harus lebih serius dalam meningkatkan kinerjanya dalam merealisasikan berbagai programnya.

Kemudian yang ketiga, bupati harus mengevaluasi kinerjanya dan meningkatkan pengawasan terhadap seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Kabupaten Sumenep yang bertanggung jawab merealisasikan program kerja baik pembangunan maupun berupa berbagai bantuan.

Kabid Ketenteraman, Ketertiban, dan Perlindungan Masyarakat Satpol PP Kabupaten Sumenep, Fajar Santoso saat ditemui di kantornya mengatakan bahwa dia tidak tahu pasti terkait pemukulan yang dilakukan oleh oknum Satpol PP tersebut. Hanya saja, ia melihat ada aksi saling dorong antara para demonstran dan aparat keamanan.

“Bukan mengeroyok tetapi mengamankan karena mereka memaksa, kita sudah mengarahkan kepada kawan-kawan agar jangan sampai terjadi pemukulan,” jelas Fajar Santoso saat dikonfirmasi, Rabu (27/2).

Fajar menambahkan bahwa selain bertugas mengamankan aksi demonstrasi, pihaknya juga bertugas mengamankan aset pemerintah, dalam hal ini adalah gedung pemerintahan. Ditambah lagi, menurutnya, bupati saat itu sedang tidak ada di kantor pemkab, sehingga terpaksa Satpol PP melakukan pencegahan yang sayangnya berujung dugaan pemukulan terhadap mahasiswa. (km44/pai)

Komentar

News Feed