oleh

Optimalisasi Pembelajaran Daring

Oleh             : Nurul Yaqin

Pandemi Covid-19 benar-benar menjadi hantu menakutkan bagi penduduk bumi. Mobilitas kehidupan dunia seakan mati suri. Memporak-porandakan tatanan kehidupan di berbagai aspek. Penyebarannya yang sangat lihai dan tidak terdeteksi menjadi momok mengerikan yang membuat panik publik.

Hal ini terbukti, sejak presiden Joko Widodo mengumumkan secara mendadak dua WNI positif Covid-19 pada 2 Maret lalu, ketakutan komunal menjangkiti masyarakat nasional. Penjagaan 135 pintu masuk negara yang dijaga ketat tetap tidak dapat membendung licinnya pergerakan virus tersebut untuk singgah di negeri ini. Tentu mendengar hal itu masyarakat panik dan khawatir, tagar “dirumahaja” ramai di dunia maya, media sosial berlomba-lomba mewartakan adanya pasien positif Covid-19 tersebut.

Merespon ini pemerintah tidak tinggal diam, menghimbau agar masyarakat menghindari keramaian (social distancing) dan menjaga jarak atau interaksi dengan orang-orang (physical distancing). Di beberapa wilayah telah diberlakukan lockdown. Institusi yang memicu keramaian sementara ditutup atau diatur polanya agar tidak terjadi kerumunan.

Bahkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim sigap mengeluarkan surat edaran No. 3 tahun 2020 tentang pencegahan Covid-19 pada satuan pendidikan pada 9 maret 2020. Atas dasar itulah kegiatan belajar mengajar (KBM) di satuan pendidikan sejak tanggal 16 Maret 2020 dialihkan ke pembelajaran daring (online) hingga hari ini. Ternyata tidak hanya di Indonesia, berdasarkan data United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) hingga 18 Maret 2020 terdapat 112 negara yang menerapkan kebijakan meliburkan sekolah.

Pembelajaran daring di sini adalah kegiatan belajar mengajar berbasis internet. Jadi, guru menjelaskan pembelajaran menggunakan teks, video, atau suara melalui sosial media atau aplikasi pembelajaran. Sedangkan para siswa menyimak pembelajaran dari rumah masing-masing. Hilary Perraton (1988) mendefinisikan pendidikan daring atau pendidikan jarak jauh adalah proses pendidikan di mana proporsi pengajaran yang siginifikan dilakukan oleh seseorang pengajar yang terpisah oleh ruang dan atau waktu dari pelajar. Maka, metode ini menjadi satu-satunya solusi bagi peserta didik agar tetap bisa belajar di tengah pandemi Covid-19 yang tak bisa diprediksi.

Evaluasi

Pertanyaannya, bagaimana penerapan pembelajaran daring selama ini?. Ternyata, implementasi tidak semudah teori. Ada beberapa evaluasi yang menjadi PR pembelajaran daring sehingga berjalan kurang efektif. Pertama, ketidakmerataan siswa dalam memiliki gadget. Bagi anak yang hidup di perkotaan, gadget merupakan hal lumrah, sudah menjadi konsumsi sehari-hari. Namun, berbeda bagi siswa yang hidup di desa atau yang secara ekonomi di bawah rata-rata. Tidak semua anak dan orang tua dari mereka memiliki gadget dan kuota.

Misalnya kasus yang terjadi di SMPN 2 Cibarusah kabupaten Bekasi. Kepala sekolah mengungkapkan bahwa siswanya kebanyakan dari keluarga dengan tingkat ekonomi rendah. Hanya sedikit dari mereka yang memiliki gadget atau alat teknologi untuk belajar di rumah. Yang mempunyai gadget di bawah 7 orang dari 30 siswa (CNNIndonesia.com 18/3/2020). Ini di Bekasi yang secara regional masih bertetangga dengan ibu kota. Apalagi di daerah pelosok di ujung timur Indonesia.

Kedua, kompetensi guru. Bagi guru yang gaptek (gagap teknologi) pembelajaran online semacam ini menjadi hambatan tersendiri. Penyakit TBC (tidak bisa computer) membuat para guru kewalahan dalam menyampaikan materi menggunakan aplikasi seperti google classroom, quizizz, dan lain-lain. Akhirnya tidak ada jalan lain selain memberikan tugas kepada peserta didik.

Ketiga, implementasi yang mendadak. Penerapan pembelajaran daring diinstruksikan secara serentak berangkat dari kasus merebaknya coronvirus deasese di lingkungan masyarakat. Jadi, tanpa persiapan matang. Pemerintah belum memberikan mekanisme atau SOP khusus terkait penerapan pembelajaran daring kepada para pendidik. Hal yang demikian menjadi salah satu kesenjangan guru dalam menerapkannya.

Keempat, tidak semua guru atau murid selalu memiliki kuota internet. Berlangsungnya pembelajaran daring sudah tentu mengakibatkan pembekakan kuota internet bagi guru atau murid. Apalagi bagi mereka yang masih menyandang status guru honorer. Dengan gaji bulanan yang sangat minim untuk membeli paket internet tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perlu ada perhitungan matang untuk kebutuhan primer bulanan yang harus lebih diutamakan.

Kelima, pengawasan orang tua. Pembelajaran daring ini berpusat di rumah murid masing-masing. Maka, orang tua berperan aktif sebagai pengawas utama dalam proses pembelajaran ini. Namun, tidak semua orang tua menerima pembelajaran daring ini secara legowo, dengan penuh kesabaran dan kesadaran (awareness). Nihilnya edukasi kepada orang tua terkait pembelajaran daring juga menjadi kendala dalam pengejawantahan.

Alhasil, banyak para peserta didik lalai. Mereka cenderung santai-santai dan tak serius mengikuti program pembelajaran. Main keluar meskipun ada himbaun untuk tetap di rumah. Terdapat beberapa anak yang tertangkap basah main game di rental komputer. Bahkan, ada yang terlibat tawuran di Tanjung Priok, Jakarta selatan yang menyebabkan satu orang meniggal.

Sinergi

Realitanya, dunia pendidikan kita masih gagap menghadapi kondisi seperti ini (pembelajaran daring). Pasalnya, pembelajaran secara konvensional (tatap muka) telah mendarahdaging dalam alur pendidikan bangsa. Apalagi pelaksanaan pembelajaran daring yang serentak dan mendadak tentu masih membutuhkan evaluasi dan mekanisme yang matang agar tidak sekadar seremonial atau formalitas. Banyak aspek yang perlu disiapkan sebelum menerapkan metode daring ini seperti sarana dan prasarana, dan tentunya edukasi guru, murid, dan orang tua.

Oleh karena itu, dalam kondisi seperi ini guru tidak boleh gaptek, harus mampu mengoperasikan teknologi untuk mendukung pembelajaran secara daring. Teknologi di sini memegang peran sentral karena terkait dengan jarak yang berjauhan. Misalnya, guru bisa menggunakan aplikasi zoom agar bisa dapat bertatap muka dengan peserta didik. Penggunaan aplikasi quizizz untuk mengisi pembelajaran dengan kuis yang ateraktif, atau media lainnya yang lebih menyenangkan sehingga pembelajaran daring lebih tepat sasaran.

Dalam hal ini peran pemerintah juga sangat dibutuhkan, misalnya mengadakan pelatihan pembelajaran daring secara online, mulai dari pembukaan ketika manyapa murid di dunia maya hingga penutup atau berpamitan dengan murid, atau program lainnya yang mendukung pembelajaran daring. Jadi, tidak sekadar penyebaran platform-platform gratis tanpa adanya sentuhan yang berkesan bagi para murid.

Selain itu, orang tua sebagai pendidik utama harus bisa menjadi fasilitator bagi anak. Maka, diperlukan komunikasi aktif antara orang tua dan guru terkait jadwal pelajaran atau materi pembelajaran. Orang tua juga melakukan monitoring (pengawasan) dengan tidak kaku, misalnya menyisipkan kegiatan pembelajaran dengan hal-hal yang menyenangkan seperti dongeng, ngobrol santai atau hal menarik lainnya. Dengan demikian pembelajaran daring akan berlangsung efektif dan menyenangkan.

Kemudian penggunaan data internet dalam penerapan pembelajaran online memang terjadi pembengkakan. Namun, langkah beberapa operator seluler memberikan kuota internet gratis kepada para pelanggan patut diapresiasi. Hal ini sangat membantu guru, orang tua, dan murid dalam melaksanakan pembelajaran daring. Mereka bisa mengakses platform e-learning populer seperti ruangguru, Quipper, Rumah Belajar, Google Classroom dan lain-lain tanpa mempertimbangkan kehabisan kuota.

Maka dari itu, pembelajaran daring adalah ikhtiar bersama yang harus dioptimalkan sebaik mungkin, karena hanya metode ini yang kompatibel dengan kondisi sekarang. Pemerintah, guru, orang tua, dan masyarakat harus saling bersinergi untuk mendukung pembelajaran ini. Meskipun secara implementasi masih belum sempurna, yang terpenting anak didik dan kita semua dijauhkan dari virus corona. Semoga!

 

 

 

 

 

Komentar

News Feed