Orang Madura Lebih Mudah Bertemu Dukun daripada Dokter


Orang Madura Lebih Mudah Bertemu Dukun daripada Dokter
Taufiqurrahman

Sebagian orang Madura--pada saat pandemi--tidak percaya Koronavirus. Atau, kalaupun percaya, mereka tidak percaya dengan cara mengatasinya seperti yang disarankan oleh para ahli ilmu kesehatan modern.

Sebagian orang mengatakan, ketidakpercayaan ini disebabkan oleh tingkat literasi orang Madura yang rendah. Namun, bagi saya, ini bukan semata soal literasi. Ini soal ketimpangan.

Pemerintah telah lama memodernkan sistem kesehatan, tetapi, belum memberi akses layanan kesehatan yang sama untuk semua orang.

Selama bertahun-tahun, ketika masyarakat kelas bawah sakit, langkah pertama yang mereka ambil biasanya bukan datang ke rumah sakit untuk mendapat penanganan dokter, melainkan datang ke rumah-rumah dukun. (Fyi, populasi dukun di kampung saya jauh lebih banyak daripada dokter dan perawat).

Tak percaya sains? Memang iya. Tapi itu hanya fenomena di puncak gunung es. Di bawahnya, ada persoalan lain yang lebih mendasar.

Alasan utama sebagian besar masyarakat Madura lebih memilih datang ke rumah dukun daripada ke rumah sakit adalah karena biaya berobat di rumah sakit itu mahal dan sangat merepotkan.

Ini kemudian menciptakan semacam sistem kepercayaan bahwa sistem kesehatan modern tidak akan “menolong” mereka ketika sakit. Mereka merasa lebih mudah mendapatkan pertolongan dari sistem kesehatan tradisional yang dijalankan oleh dukun-dukun kampung.

Itu berdampak fatal. Ketika pandemi Covid-19 yang mengharuskan penanganan modern ini datang, ketidakpercayaan terhadap sistem kesehatan modern itu tetap bertahan.

Mereka tidak percaya Koronavirus ada atau, kalaupun percaya, mereka tetap ogah-ogahan mematuhi protokol kesehatan (Prokes). Mereka tetap membuat kerumunan, seperti menghadiri acara tahlilan, tanpa masker, juga tanpa rasa takut.

Ini bisa dipahami. Bagaimana mungkin mereka bisa percaya pada sistem kesehatan modern jika dalam kehidupan sehari-harinya mereka lebih mudah menemui dukun daripada dokter?

Tentu saya tidak bermaksud membenarkan perilaku orang Madura yang tidak taat Prokes. Tapi saya ingin kita memahami masalah ini secara lebih utuh, agar kita tidak terus-temenerus menyalahkan rakyat kecil. Sudah miskin, disalahkan terus lagi, kasihan!

Sebaiknya, pemerintah yang harus belajar dari pendemi yang sudah terjadi sebelumnya, sehingga ada gunanya kita membentuk apa yang disebut negara.

Ketika Flu Spanyol muncul pada awal abad ke-20, banyak negara-negara Eropa mulai menyadari pentingnya layanan kesehatan yang sama untuk semua orang (health care for all).

Kesadaran ini, menurut Laura Spinney dalam Pale Rider: The Spanish Flu of 1918 and How It Changed the World (2017), mendorong banyak negara-negara Eropa untuk mewujudkan konsep kedokteran sosialis (socialized medicine).

Mungkin inilah saatnya pemerintah kita juga mulai memikirkan bagaimana agar ke depan semua orang bisa dengan mudah dan gampang mengakses layanan kesehatan—semudah dan segampang orang Madura mendatangi rumah-rumah dukun.

Sebab, bukan tidak mungkin bahwa pada tahun-tahun mendatang masih akan muncul pandemi lagi, dan kita tidak mau mengulangi kesalahan yang sama dua kali.(*)

_____

*Taufiqurrahman, Magister Filsafat UGM dan Peneliti Filsafat Akal Budi. Orang Sumenep yang tinggal di Yogyakarta.