oleh

 Orientasi Idealisme Politik Kita, Kekuasaan!

Oleh : Faruq Bytheway

Jika sampai saat ini masih banyak diantara pemuda atau mahasiswa dengan lantang menyuarakan hak-hak kaum bawah, masyarakat miskin, dan segala bentuk penindasan, maka perlu seyogyanya kita apreasi sebesar mungkin, sebelum mereka-mereka itu mulai terkontaminasi dengan segala sesuatu yang dapat melunturkan semangat idealismenya.

Sebab, kenyataanya apabila idealisme telah bereaksi dengan salah satunya adalah kepentingan politik, maka jangan heran, korban ini tidak hanya akan dapat mensejahterakan kehidupan bangsa serta keadilan negara. Melainkan membodohi kemaslahatan umat dunia!.

Kita ketahui bersama Idealisme secara harfiah memiliki definisi yang cukup luas, dimana Idealisme terbentuk dari dua kata yang sangat fundamental yaitu ideal (sempurna) dan isme (paham). Hal inilah yang kemudian memberikan dampak besar bagi seseorang yang memiliki idealisme tinggi. Namun jika diuraikan secara perlahan dengan tempo sesingkat-singkatnya, maka Idealisme merupakan sebuah cita-cita bersama dalam mencapai sebuah tujuan yang sangat besar.

Tidak dapat dipungkiri, aktivis 65 dan 98 yang telah berhasil menumbangkan rezim pada masa itu, saat ini senior-senior kita itu sebagian besar sudah berada di deretan kursi kekuasaan, jika tidak, mereka sedang berada dibelakang layar, menjadi dalang dalam mengontrol rezim ini yang masih saja memainkan peranannya, toh, dulu semuanya itu mantan aktivis, pemuda, dan mahasiswa yang memiliki cita-cita mensejahterakan rakyat. Namun tak berdaya setelah bersama kekuasaan.

Idealisme aktivis sesungguhnya di uji ketika masuk dalam lingkaran kekuasaan baik disektor manapun (legislatif maupun eksekutif). Faktanya tidak sedikit aktivis yang mulai redup dan terkikis secara perlahan idealismenya. Bahkan idealisme yang menjadi pedoman tersendiri bagi kalangan pemuda dan aktivis menjadi hilang bagai ditelan bumi (Akbar, Republika).

Jika kita kontekstualisasikan dengan kehidupan sosial politik di negara republik ini, maka tidak jarang banyak aktivis dan pemuda mulai berguguran idealismenya. Misalnya aktivis mahasiswa yang dulunya sangat radikal di mata para penguasa dan rela mengorbankan hidupnya untuk mencegah kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM). Lalu setelah menjadi penguasa, ketika harga BBM mulai naik, mereka acuh tak acuh terhadapnya. Mereka diam!, bahkan bungkam. Dalam hal ini bisa kita ambil hikmah dari Adian Napitupulu ketika menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada kala itu.

Tidak hanya itu, juga kita dapat petik hikmahnya dari mantan aktivis yang berada pada gubangan keuasaan, adalah aktivis pro-demokrasi dan pro-sosialisme ekonomi. Ketika diberi hadiah sebagai komisaris Badan Usaha Milik Negara (BUMN) seketika itu juga hilang nalar kritisnya. Hal ini bisa kita pelajari dari Fajrul Rahman.

Kemudian tidak kalah pentingnya. Tidak perlu kita sebut namanya (anda tidak mungkin kenal, karena mantan aktivis ini masih awam dalam dunia aktivisme), asal yang jelas, ini merupakan mantan aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak dibidang sosial dan kebijakan publik yang pernah ngaku jadi pelaku sejarah berdirinya LSM tersebut, ketika diberikan kepercayaan disalah satu desa menjadi anak buah pemerintah desan (pemdes) disalah satu kabupaten di Madura.

Lantas tatkala LSM yang pernah ia geluti mengadvokasi kebijakan pemerintah desa (Pemdes) terkait amburadulnya data penerima bantuan Sosial (Bansos). Secepat mungkin ia memulangkan para junior-juniornya itu dan mengancam akan membubarkan LSM tersebut dikarenakan telah banyak mengganggu jalannya Partisipasianisme proyek Bansos di desa itu.

Peristiwa mendasar dari orang-orang tersebut, seakan menjadi sebuah jawaban dari berbagai pertanyaann yang bermunculan; apakah semasa menjadi aktivis benar-benar menyerukan kepentingan rakyat atau hanya sekedar gelisah karena tidak memangku jabatan dan kedudukan?, kemudian memobilisasi masa untuk bertindak menurunkan tahta penguasa untuk digantikan jabatannya oleh dirinya sendiri, atau sebagai pencarian sumber ekonomi ditengah sulitnya mencari lapangan pekerjaan ditengah pandemi? sebagai dalihnya banyak ke-dzaliman yang terjadi? Betapa malangnya nasib seorang aktivis jika hanya bermodal kost sosial dan alasan membela hak-hak rakyat.

Cukup aneh sekali, apa gerangan yang menyebabkan lunturnya idealisme  para aktivis dan pemuda? Seakan minim integritas dan cacat moral. Apa semasa menjadi aktivis melakukan sebuah advokasi karena ada kesinambungan antara kepentingan pribadi dan kepentingan rakyat? yang menyebabkan perubahan dari menjadi sosok aktivis bertransformasi menjadi jelmaan oportunis? entah sangat membingungkan.

Kita masih ingat dengan kejadian seorang idealis martin Luther King menentang Gerakan Katolik Eropa? Dia ditentang, namun dengan Idealismenya ia mampu melahirkan Reformasi Gereja dan melahirkan Protestan, atau peristiwa Hitler dengan Idealismenya mampu menentang Yahudi dan kaum Komunis? Bangsa kita pun sebenarnya tidak kekuarangan sosok idealis seperti keduanya itu, Bapak republik kita, Tan Malaka telah berungkali menyampaikan, bahwa  “Idealisme merupakan keistimewaan terakhir yang hanya dimiliki pemuda” (Tan Malaka). Namun lagi-lagi keistimewaan dari seorang aktivis dan pemuda saat ini setelah idealisme adalah kekuasaan, pro terhadap kekuasaan, dan berada di pihak penguasa. Seakan orientasi idealisme yang awal mulanya condong terhadap kepentingan rakyat berubah muara pada kekuasaan yang ingin didapatkan atau minimal berada ditangan-tangan penguasa.

Banyak beberapa faktor dari kegagalan aktivis mahasiswa atau non-mahasiswa dalam mempertahankan idealismenya untuk tetap berpendirian teguh membela hak-hak rakyat. Sebagian aktivis kebanyakan yang seperti ini dikarenakan telah jenuh membela kepentingan rakyat akibat tidak adanya feedback terhadap dirinya yang dapat menghasilkan sumber-sumber ekonomi. Bisa juga karena tidak adanya kepentingan pribadi ketika ingin mengadvokasi kepentingan dan hak-hak masyarakat.

Hal demikianlah yang dapat mencondongkan Idealisme pemuda kita saat ini lebih beroientasi ke-arah bagaimana caranya berada pihak kekuasaan atau lebih tinggi lagi berada pada tatanan keuasaan. Jadi tidak perlu heran, cemas, atau bahagia, jika ada mantan aktivis mencalonkan diri menjadi barisan keuasaan dan dalam kampanye-nya berdalih menjunjung tinggi kesejahteraan rakyat dengan berbagai program yang telah dikonsep sedemikian rupa secara tekstual, toh ujung-ujungnya Bansos masih banyak yang di tilap, data tidak jelas, anggaran dibuang-buang pada orang-orang terdekat atau yang berada pada barisan kubunya.

Untuk pemuda yang belum terkontaminasi dengan hal-hal semacam itu, sebelum meneguhkan diri menjadi seorang aktivis, niatkan diri dengan sebaik mungkin, menjadi aktivis mahasiswa atau non mahasiswa pertebal kesabaran yang tinggi, jika cuma modal kost sosial pertimbangkan lagi jadi aktivis sebelum nantinya terdoktrin membela kaum-kaum proletar yang kemudian diam dan bungkam ditengah kekuasaan.

Lebih baiknya lagi jadi orang yang dibelain saja, gak enak loh ya jadi orang yang dibela-belain, dari pada menjadi si pembela, namun diakhir kemudian mengharapkan kekuasaan, bukan begitu toh?

 

Penulis : Faruq Bytheway Mahasiswa Kelahiran Sampang, 02 maret 1998 menempuh pendidikan di Program Studi (Prodi) Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Tribhuwana Tunggadewi (Unitri) Malang.

 

Komentar

News Feed