Pabrikan Perlebar  Monopoli dalam Bisnis Tembakau

  • Whatsapp

Kabarmadura.id/Pamekasan-Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPRD) Pamekasan, menyoroti indikasi terjadi monopoli dari pabrikan terhadap tata niaga tembakau tahun ini. Pasalnya, wakil rakyat itu mencurigai adanya monopoli pasar yang semakin melebar dilakukan oleh pabrikan tembakau. Salah satu indikasinya adalah, aturan yang diterapkan oleh pabrikan dengan mewajibkan petani untuk membeli tikar khusus bungkus tembakau pada pihak pabrikan.

Anggota Komisi II DPRD Pamekasan Imam Syafi’e Yahya menyampaikan, ancaman monopoli pasar yang dilakukan oleh pihak pabrikan mulai kentara. Selain ancaman pengambilan contoh tembakau yang besar, masyarakat petani juga terancam dirugikan dengan aturan kewajiban membeli tikar bungkus tembakau pada pabrikan.

“Saya menerima laporan, bahwasanya tikar  itu harus beli dari tikarnya pabrik, bukan tikarnya pengrajin,” paparnya, Selasa (6/8).

Dirinya menilai, aturan itu tidak hanya merugikan petani tembakau saat hendak menjual tembakau, akan tetapi, nasib para pengrajin tikar juga terancam. Bahkan dirinya menilai, para pengrajin terancam gulung tikar pada musim tembakau tahun ini.

Oleh karena itu, pihaknya mendesak agar ada tindakan tegas yang diambil oleh pemerintah kabupaten terkait aturan yang diberlakukan oleh pabrikan, sehingga monopoli pasar bisa ditekan semaksimal mungkin.

Politikus partai Golkar itu juga meminta pemerintah tidak memberikan toleransi sekecil apapun pada pabrikan yang terbukti menabrak regulasi, sehingga tata niaga tembakau berjalan sesuai dengan regulasi yang sudah diterapkan di Pamekasan.

“Jadi kami mohon pemkab benar-benar serius dalam menyikapi persoalan ini, supaya petani tembakau dan pengrajin tikar tidak tertindas oleh kepentingan sepihak oknum pabrikan,” jelasnya.

Sementara itu, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Pamekasan, malah memberi peluang bagi pabrikan untuk memperlebar monopoli pada tata niaga tembakau, dengan memberikan dispensasi pada pabrikan yang mengambil contoh tembakau di atas satu kilogram.

Kepala Disperindag Pamekasan Bambang Edy Suprapto melalui Kepala Bidang (Kabid) Perlindungan Konsumen dan Kemeteorologian Imam Hidajad menyampaikan, secara regulasi sudah dijelaskan, setiap pengambilan sample tembakau maksimal 1 kilogram.

Namun demikian, pihaknya  memberi toleransi kepada pabrikan yang mengambil sample tembakau di atas satu kilogram.

“Ya lebih sedikit gak papa, satu koma berapa gitu, nanti kalau sudah lebih dari satu koma lima, itu nantinya akan diperiksa oleh pengawas yang bertugas,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Pamekasan Totok Hartono menyampaikan, pihaknya akan melakukan pengawasan maksimal terhadap tata niaga tembakau, guna menjamin para petani agar tidak dirugikan.

Mengenai adanya indikasi mopoli pabrikan pada tata niaga tembakau tahun ini, pihaknya berjanji akan melakukan pengecekan ke lapangan untuk memastikan kebenaran informasi yang disampaikan anggota DPRD tersebut.

Dirinya menegaskan, pihaknya akan mengambil langkah tegas terhadap pabrikan, jika prasyarat yang diberlakukan oleh pabrikan pada petani tembakau itu benar adanya.

“Kita cek dulu nanti, tikar itu di produksi dari mana, apa benar ada keharusan, kita akan cek melalui instansi terkait,” pungkasnya. (rul/pin)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *