Pak-Lopak: Sarana Komunikasi yang Punah

  • Whatsapp
Tabri S. Munir, Redaktur Kabar Madura

Kabarmadura.id – Panen raya tembakau di Madura, secara umum sudah hampir usai. Saat ini, tembakau yang belum dipanen sudah lebih sedikit daripada yang sudah. Namun, pembahasan tentang isu tembakau tidak akan pernah berhenti, meski nantinya panen sudah usai. Tentunya imbas dari keijakan pemerintah yang akan menaikkan cukai rokok sebesar 23 persen.

Sebagaimana diketahui, keputusan Pemerintah Republik Indonesia dari hasil rapat tertutup di Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat, Jumat (13/9/2019), memutuskan untuk menaikkan tarif cukai hasil tembakau (CHT) atau cukai rokok sebesar 23 persen mulai 1 Januari 2020.

Adapun harga jual eceran (HJE) pada periode yang sama akan mengalami kenaikan hingga 35 persen.

Kenaikan tersebut, sejatinya akan berimbas pada perokok dengan gaya eksklusif, utamanya yang sangat tergantung dengan merk rokok-rokok tertentu. Termasuk kepada perokok “malas” untuk sekedar melinting sendiri.

Dekade 70an sampai 90 an,  masyarakat petani  Madura  sangat menghargai aroma tembakau.  Persaingan untuk menunjukkan hasil tembakaunya sebagai yang terbaik sangat kental dalam  pergaulan sehari-hari. Bungkusan plastik berisi tembakau, sebungkus cengkeh dan kertas rokok adalah pemandangan sehari-hari. Bungkusan tersebut dikenal dengan pak-lopak.

Sedianya, saat silaturrahmi berjalan, masing-masing pihak akan saling menyuguhkan pak-lopak dan berbagi cerita tentang tembaku mereka. Dari situlah, upaya menjaga kualitas  tembakau akan tetap terjaga antarpetani. Karena tembakau yang mereka isikan dalam pak-lopak adalah tembakau hasil tani mereka.

Keahlian  dalam melinting  tembakau, juga menjadi sajian yang sering diperbincangkan. Ada banyak gaya yang  menjadi karakter masing-masing orang, misal dengan isi tembakau lebih banyak di ujung dengan menggunakan dua kertas rokok, ada juga yang memiliki gaya sederhana dengan  melinting rokok kecil. Gaya tersebut kemudian diadopsi dengan rokok mild, ligths,  kretek filter hingga kretek.

Namun, gaya tersebut saat ini  mulai hilang. Pak-lopak bukan lagi jadi sarana kebanggaan untuk memamerkan hasil pertanian tembakau. Gaya komunikasi rokok saat ini menjadi gaya komunikasi eksklusif. Satu orang perokok harus datang dengan rokoknya sendiri tanpa berbagi.

Para petani tembakau juga sudah mulai tercerabut dari akarnya. Membeli rokok industri sudah menjadi kebiasaan hampir seluruh petani, mereka lupa bahwa control kualitas tembakau ada pada diri petani.

Mengeluarkan bungkusan rokok dari saku untuk disajikan kepada tetamu, juga tidak lagi semudah menyajikan pak-lopak sebagaimana tradisi perokok Madura. Masing-masing orang memiliki identitas rokok tersendiri. Akibatnya, merokok betul-betul sebagai candu untuk adu  kepulan asap.

Lebih dari itu, pak-lopak yang sudah mulai hilang dari peredaran, juga mencerabut  proses kontrol kualitas tembakau Madura. Petani tak lagi pamer tembakau paling baik, namun akan pamer harga yang didapat dari penjualan. Bahkan, tanpa pak-lopak, ada yang nakal dengan mencampur bahan-bahan lain. (*)

 

Tabri S. Munir,

Redaktur Kabar Madura

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *