oleh

Pancasila Sebagai Basis Nilai Perdamaian dan Kemanusiaan

Ole: Mahathir Muhammad Iqbal

Dalam sebuah keheningan malam, ditemani sinar rembulan yang temaram, sekelebat muncul  pertanyaan dalam benak, bilamanakah perdamaian akan datang? Simak saja yang terjadi di Afghanistan, Yaman, Syria, Israel dan Palestina, serta Myanmar. Negara-negara itu menjadi saksi dimana nilai-nilai kemanusiaan tak lagi diresapi dan dihayati. Tak ada lagi cinta kasih. Manusia saling menegasikan, berperang melawan manusia lainnya. Bellum omnium contra omnes.

Di Indonesia, potensi terjadinya konflik bukannya tak ada. Justru karena tingkat heterogenitas berbasis sentimen primordialisme sangatlah luar biasa, maka potensi itu bisa “meledak” kapan saja. Tanda-tandanya sungguh terang benderang. Menguatnya politik identitas atau populisme dalam pilkada Jakarta beberapa waktu lalu menjadi alarm awal.

Ditahun 2018-2019, dimana genderang kontestasi politik di banyak daerah mulai ditabuhkan, kita harus ekstra hati-hati. Mengingat ada semangat sebagian kelompok yang ingin menduplikasi strategi politik identitas di pilkada Jakarta ke beberapa daerah yang lain.

Buktinya, dalam pemilu serentak tahun 2019 yang baru saja kita tunaikan telah meninggalkan luka sosial yang amat tajam karena perbedaan preferensi politik. Meski secara konstitusional proses pemilu presiden 2019 sudah usai ketika Mahkamah Konstitusi (MK) menolak seluruh dalil permohonan kubu Prabowo Subianto – Sandiaga Uno dalam perkara perselisihan hasil pemilu presiden, tetapi tampaknya hal itu tidak serta merta meredakan “ketegangan” di tingkat akar rumput. Dengan kata lain, meminjam istilah peneliti senior CSIS, J. Kristiadi, bangsa kita masih terbelah secara ideologis.

hal ini bukanlah sesuatu yang mengherankan. Saya menduga hal ini sebagai akibat intensnya penggunaan kabar bohong (hoax) dengan tehnik firehouse of falsehood (FoF) dan penggunaan narasi agama dalam strategi pemenangan para calon.

Untuk itu, dalam konteks ini, diperlukan keteladanan para elit. Saat ini narasi rekonsiliasi antar dua kubu sedang dikembangkan. Agar rekonsiliasi itu menemukan hakikat maknanya, maka diperlukan sebuah basis nilai untuk mengikatnya. Basis nilai itu adalah Pancasila. Tetapi sebelum beranjak kesana, ada baiknya kita sedikit memberi ulasan, meski dalam ruang yang terbatas, terkait narasi kebencian, relasi agama dan kekuasaan.

Narasi Kebencian, Relasi Agama dan Kekuasaan

Dalam konteks ini, dalam skala tertentu, telah mengantarkan saya untuk mulai berpikir, “apa sih yang sebenarnya mendorong mereka melakukan tindakan keji yang tak berprikemanusiaan, sehingga tega menghabisi dengan kejam manusia lainnya?”.

Tentu pertanyaan ini tak mudah dijawab, karena memerlukan sebuah kajian dan penelitian yang mendalam. Tetapi, sebagai sebuah pengamatan awal, saya menemukan sebuah indikasi hal ini disebabkan karena adanya relasi kekuasaan dan agama yang tak lagi sehat. Syahwat tak terkendalikan seorang manusia terhadap kekuasaan telah merubah diri manusia itu menjadi serigala yang kejam. Homo homini lupus.

Cara apapun dilakukan untuk merengkuh kuasa. Tak peduli lagi entah cara itu dibenarkan oleh norma dan nilai-nilai substansi agama atau tidak. Dan bagi mereka, agama hadir untuk melegitimasi seluruh tindakan yang dilakukannya.

Padahal, kita meyakini betul, bahwa tidak ada satu agama manapun yang ada di muka bumi ini, yang mengajarkan kekejian dan kekejaman. Sebaliknya, agama hadir untuk menebarkan pendar-pendar cahaya kebaikan dan kasih sayang. Dalam Islam misalnya,  Allah Swt di dalam Al-Quran berfirman, “Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (QS. an-Nisa: 93). Dalam ayat lain Allah berfirman, “… Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya…” (QS. al- Maidah: 32).

Aktualisasi Sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab

Di dalam Pancasila, ada salah satu sila yang relevan untuk dikaji dan diketengahkan dalam merespon aksi kekejaman tak berprikemanusiaan yang lagi menyeruak. Sila itu adalah “kemanusiaan yang adil dan beradab”.

Syahrial Sarbaini menjelaskan dalam tulisannya bahwa nilai kemanusiaan yang adil dan beradab menunjukkan bahwa manusia diakui dan diperlakukan sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai mahluk Tuhan Yang Maha Esa. Berdasarkan nilai tersebut, dikembangkan sikap saling mencintai sesama manusia, sikap tenggang rasa dan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain. Berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan, maka Indonesia menentang segala macam bentuk eksploitasi, penindasan oleh satu bangsa terhadap bangsa lain, oleh satu golongan terhadap golongan lain, dan oleh manusia terhadap manusia lain, oleh penguasa terhadap rakyatnya.

Duwi Hernas menambahkan bahwa sila ke-dua Pancasila ini mengandung makna warga Negara Indonesia mengakui adanya manusia yang bermartabat. Bermartabat adalah manusia yang memiliki kedudukan, dan derajat yang lebih tiinggi dan harus dipertahankan dengan kehidupan yang layak, memperlakukan manusia secara adil dan beradab di mana manusia memiliki daya cipta, rasa, karsa, niat dan keinginan sehingga jelas adanya perbedaan antara manusia dan hewan.

Jadi, sila kedua ini menghendaki warga negara untuk menghormati kedudukan setiap manusia dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing, setiap manusia berhak mempunyai kehidupan yang layak dan bertindak jujur serta menggunakan norma sopan santun dalam pergaulan sesama manusia. Dengan kata lain, konstruksi kemajemukan bangsa kita harus didasarkan atas karakteristik pergaulan (interaksi) antar individu dan kelompok berbasis pro-eksistensi dan co-eksistensi. Semoga.

 

Penulis merupakan staf Pengajar Prodi Ilmu Pemerintahan UNIRA Malang dan Peneliti Pada Lakpesdam PCNU Kabupaten Malang.

Komentar

News Feed