oleh

Pandangan Ilmuan dan Kiai tentang Transgender

Kategori Manusia Biasa yang Dianggap Kelainan

Kabarmadura.id-Kandidat PhD dari Indonesian Consortium for Religious Studies (ICSR) Khanis Suvianis, memiliki pandangan khusus terhadap pranspuan atau waria.

Fenomena itu, disebut sudah ada sejak lama dan itu bukan kepura-puraan. Mereka, kaha Khanis, sejatinya sudah memahami kondisinya berbeda sejak kecil, tidak merasa sebagai laki-laki.

Bahkan ada di antaranya, penampilannya utuh seperti perempuan dan ada juga yang semi perempuan. Di sisi lain, jika di Madura juga ada waria berjilbab, itu karena merasa seorang muslimah. Mereka mampu menginspirasikan dirinya dengan identitas agamanya.

“Nah, ini adalah bagian dari  orang mengidentifikasikan dirinya. Saya pikir, harus dihargai dan seharusnya masyarakat bisa menerima,” katanya.

Waria dinilai sebagai apa adanya, tidak merekayasa dan sudah ada sejak dahulu sebelum Indonesia ada sekali pun. Menurut Khanis, cerita-cerita mereka ada dalam setiap agama dengan sebutan yang berbeda-beda.

“Kenapa sekarang kita menolak mereka, ada apa dengan kita,” tanyanya.

Khanis mencontohkan, transpuan sudah banyak menujukkan bakat dan kreativitasnya. Seperti memiliki salon kecantikan, tata rias pengantin, potong rambut, dan ada waria yang memasak atau menjadi pedagang dan lain sebagainya.

Selain itu, sebagian dari waria adalah orang tua yang punya anak (mengadopsi anak). Mereka bisa menjaga anak-anaknya dengan baik dan mendukung keluarganya. Sehingga Khanis  berpandangan, masih perlukah memusuhi orang yang sudah ada sejak dulu dan menampilkan dirinya dengan apa adanya.

Kehidupan berdemokrasi dengan dasar Pancasila, menurutnya bisa jadi daliha untuk tidak perlu memusuhi mereka. Serta karena warga Indonesia merupakan umat beragama, sehingga ada orang baik menurut agamanya masing-masing.

“Terus kita sebagai masyarakat yang kemudian kita percaya ini sekarang demokrasi lewat Pancasila yang kebhinekaannya,  lalu di sisi lain kita juga percaya bahwa kita ini orang baik lewat agama-agama kita lalu, apakah kita harus memusuhi orang yang dari dulu memang ada dan bukan mengada-ada,”

Pada pengetahuan-pengetahuan baru, jelas Khanis, sudah menjelaskan bahwa manusia tidak hanya dua kategori saja, lelaki dan perempuan saja. Dengan begitu, tidak perlu meniadakan berbagai macam orang mungkin tidak mampu dimasukkan ke dalam kotak laki-laki dan kotak perempuan.

Ia sangat tidak setuju ketika posisi waria yang cenderung selalu diaggap pengganggu.

“Kita ini selalu menganggap mereka berbeda. Lalu setiap yang dilakukan kemudian menjadi seolah-olah ekstrim, buruk dan tidak pantas. Itu dilihat menjadi sangat amat berlebihan, buruk, dan semacamnya. Padahal itu juga dilakukan oleh kelompok-kelompok yang lain,” tambahnya.

Dalam pandangannya, yang harus digeser adalah paradigmanya. Melihat mereka sebagai kategori tersendiri, sehingga setiap hal yang berbeda tidak dianggap mengganggu. Selain itu, bisa dilihat dari sudut lain, yakni warga negara yang juga patut mendapatkan keadilan.

Khanis beranggapan, sampai saat ini, hampir tidak ada yang mengangkat sisi positif dari waria. Keberadaan mereka masih banyak terjaring razia. Hal ini adalah sejarah lama yang masih dianut, warisan zaman kolonial Belanda.

Perilaku warisan kolonial itu kemudian dimulai kembali pada masa Orde Baru untuk mengontrol warganya. Jika tubuh lelaki maka kamu harus menjadi lelaki, begitupun sebaliknya.

“Warga waria itu sebenarnya sudah lama, sejak masuk dari abad 20an, ada kelompok bernama Bantji Batavia yang menghibur. Kisah-kisahnya juga dimuat di koran-koran lama,” lanjutnya.

Selain itu, waria sudah menunjuk kepada masyarakat pada umumnya bahwa dirinya tidak lagi pantas dipandang sebelah mata. Terbukti, di antara mereka banyak yang sukses dalam bidang niaga. Ini usaha mereka untuk menepis anggapan miring yang ditujukan pada dirinya.

Sayangnya, lanjut Khanis, wacana waria sumber HIV dan pelaku seks terus didengung tiada henti. Padahal tidak semua waria mengalaminya.

“Sama saja dengan mereka melihat film Hollywood, di mana ada adegan ciuman di jalan, langsung mengira orang Amerika seperti itu semua, padahal tidak. Stigma seperti harus dihapuskan dari masyarakat kita,” tutup Khanis sambil berpesan agar bijak dalam menilai.

Sementara dalam perspektif psikologi, hampir semua orang mengenal waria (wanita tapi pria) atau dengan sebutan banci. Banyak yang beranggapan mereka  adalah kaum pria yang memiliki jiwa perempuan.

Anggapan itu dianggap sangat tidak wajar, bahkan sebagian orang memandang sebelah mata terhadap kaum waria tanpa melihat sisi kehidupan lain dari para waria tersebut.

“Tidak dapat dipungkiri bahwa waria merupakan kelompok minoritas dalam masyarakat secara status sosial karena mereka dianggap individu atau komunitas yang memiliki transgender dan merupakan salah satu penyimpangan sosial dalam kehidupan bermasyarakat,” ucap Direktur Eviera Permata, Evi Febriani, M.Psi.

Namun dengan perkembangan zaman, jumlah waria semakin bertambah. Saat ini bukan hanya berpusat di kota-kota besar, tetapi merambah ke sejumlah daerah, termasuk di Madura.

Tidak sedikit waria dihadapkan pada berbagai  masalah sosial, seperti dijadikan bahan pelecehan dan lelucon hingga kekerasan fisik baik verbal dan non verbal.

Perlu dipahami, ujar Evi, berperilaku menjadi waria memiliki banyak resiko, mulai penolakan keluarga, termasuk ditolak secara sosial. Bahkan terdapat kelompok tertentu dengan sangat keras menolak keberadaan mereka. Penolakan juga muncul dari masyarakat kalangan strata sosial kelas atas.

“Resiko ini tentunya menjadi hal yang harus dipahami bersama, sebagian orang memandang sebelah mata terhadap kaum waria tanpa melihat sisi kehidupan lain dari para waria tersebut.

“Suatu kesalahan di masyarakat kita, selalu mengidentifikasikan mereka dengan hal-hal tidak baik. Ini tidak boleh dibiarkan, mereka adalah bagian dari kita, yang harus tetap dihargai,”

Dalam beberapa penelitian yang dilakukan, khususnya dalam bidang psikologi sosial, hampir sebagian besar masyarakat menolak dan sulit memahami serta menerima eksistensi waria dan mereka dainggap sebagai kaum yang termarginalkan.

Menurut Dr. Margaretha, dosen Psikologi Klinis Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, ada beberapa sebab mengapa orang bisa berubah menjadi waria.

Psikolog yang saat ini juga menjadi salah satu dosen favorit di perguruan tinggi negeri di Pamekasan ini menyebut, ilmu psikologis memasukkan waria sebagai salah satu dari tiga jenis orientasi seksual.

Pertama adalah transvestisme, yaitu kenikmatan seksual yang berasal dari berdandan atau menyamar dalam pakaian lawan jenis, dengan keinginan kuat untuk tampil sebagai anggota lawan jenis.

Kedua, adalah homoseksualitas, yaitu rasa ketertarikan seksual atau perilaku antara individu berjenis kelamin atau gender yang sama. Meski sesama jenis, dalam hubungan sosial dan seksual, di antara mereka tetap ada yang berperilaku feminim dan maskulin.

Terakhir adalah transgender, yaitu orang yang melakukan, merasa, berpikir atau terlihat berbeda dari jenis kelamin yang ditetapkan saat mereka lahir

Sementara ketika dikaji dari dari sudut fikih Islam, Ketua Pengurus Cabang (PC) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Bangkalan H. Muwazzir, M.Th.i menjelaskan, ketika berkaitan dengan ibadah, sudah ada aturannya. Dalam konteks jenis penciptaan manusia laki-laki dan perempuan, ada konsep khuntsa.

Khuntsa di sini tergolong kelainan. Sebab, dia punya dua alat kelamin. Diakui atau tidak, penganut aliran lesbi gay biseks dan transgender (LGBT), secara ritual keagamaan ada yang tetap taat.

Dalam perspektif sains, kelainan tersebut bisa disembuhkan. Dalam hal spiritual, titik tekannya adalah pengarahan mereka untuk selalu berbuat kebaikan. Tapi ketika kesehariaannya tambah buruk, maka perlu dicermati dan diperbaiki lagi.

“Waria yang dalam ibadahnya berpakaian seperti laki-laki sesuai dengan alat kelaminnya, maka itu sah-sah saja, ibadahnya tidak batal,” ucap kiai muda itu.

Yang menjadi persoalan adalah ketika waria yang sejatinya laki-laki, tapi berpenampilan perempuan, saat dibawa ke ranah ubudiyah, jelas tidak sah. Begitu pula kebalikannya; jenis kelamin perempuan yang berpakaian laki-laki.

“Maka ibadahnya juga tergolong tidak sah. Itu dalam perspektif fikih. Jadi yang menjadi titik tekannya bagaimana mereka menyesuaikan dengan aturan yang sudah ada Islam,” tukasnya. (mam/waw)

 

 

Komentar

News Feed