oleh

Panen dari Jalanan, Sulap Daun Kelor Jadi Bermacam Makanan Olahan

KABARMADURA.ID – BMerasa bahwa keberadaan daun kelor adalah berkah. Setelah bertahun-tahun jatuh bangun merintis usaha dan bisnis, Moh Hasin kini fokus kembangkan satu bahan dasar dari daun kelor.

HELMI YAHYA, BANGKALAN

Setelah beberapa kali salah alamat, ditemani hangatnya sengatan matahari yang cukup menguras keringat. Waktu masih menunjukkan pukul 14.00, teriknya matahari memang cukup terasa di kulit. Di pencairan ketiga itu akhirnya berhasil menemukan Rumah Kelor.

Memang belum banyak yang mengenal lokasi kediaman Moh Hasin. Perumahan Darussalam nomor 8 di Desa Mlajah Bangkalan tergolong baru di Bangkalan. Tapi perumahan yang belum banyak unit rumahnya itu, sebenarnya mempermudah pencairan.

Suasana rumah sepi, hanya ada beberapa tukang bangunan yang bekerja menyelesaikan bangunan di sekitarnya. Kedatangan Kabar Madura disambut cukup ramah, meski tidak dapat berjabat tangan, tetapi rasa menghormati tamu seolah begitu terasa.

Tidak butuh waktu lama untuk mengobati penasaran soal adanya cemilan khas dari biji buah daun kelor. Langsung dihidangkan Hasin di meja tamu.

“Kalau mau dan berani coba, silakan diambil, kalau tidak mau tidak apa-apa,” Hasin membuka obrolan sambil menyodorkan biji-bijian tersebut.

Sambil menikmati cemilan biji-bijian itu, Hasin bercerita bahwa cemilan yang dihidangkan itu mengandung berbagai nutrisi dan suplemen. Meskipun rasanya semula seperti kacang mente, lalu ada rasa pahit dan manisnya.

“Semua orang yang datang berkunjung ke sini, saya tawari dengan cemilan dan kalimat yang sama,” ungkapnya.

Cemilan unik itu membuatnya terpikir untuk memulai bisnis. Sekitar tiga tahun lalu. Ketika pertama kali memulai dunia bisnis, dia mencoba berbagai macam bahan makanan. Salah satunya yang paling berpeluang besar adalah cabai. Cabai sempat diolah menjadi bahan makanan seperti bubuk.

Baginya, petani cabai hanya mendapatkan harga murah jika hanya menjual cabai mentah. Dia ingin petani mengetahui bahwa cabai bisa dipasarkan setelah diolah, tentu harganya akan lebih mahal dan menguntungkan.

Namun saat menyadari kemampuan sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM) tidak sebanding, dirinya mencoba mencari inovasi dan bahan olahan baru. Insipirasi mengolah daun kelor datang medio 2017.

“Saat itu saya cari semua referensi yang ada, dan ternayta daun kelor adalah salah satu tumbuhan yang mendapatkan pengakuan dari World Health’s Organisation (WHO),” kata pria kelahiran 1986 itu menyambung cerita.

Setelah beberapa bulan mempelajari daun kelor, dirinya mulai bereksperimen, dengan berharap dapat menjadikan banyak produk dari olahan daun kelor. ”Daun kelor ini adalah berkah, nutrisinya sangat banyak, dan bisa diolah menjadi bahan apapun,” sambung Hasin untuk meyakinkan mengenai kandungan dari makanan olahannya itu.

Hasin sudah mencoba mengolah berbagai bahan produk dari daun kelor tersebut, saat ini sudah ada sekitar 15 macam produk. Seperti teh, kopi, tepung, mie basah, masker wajah, suplemen, serbuk makan, jamu, roti dan berbagai macam lainnya,

“Saya tidak pernah memastikan bahwa produk saya memiliki nutrisi tinggi, tetapi semua yang pernah mencoba, selalu merasakan khasiatnya,” katanya.

Dalam pemasaran dan promosi, Hasin mengakui menjual semmua produk olahannya dengan harga yang cukup mahal. Perihal harga yang ditetapkan, itu bukan berdasar pada bahannya saja. Akan tetapi proses membentuk dan menjadikan produk yang harus lebih dihargai. ”Saya memang memasang harga tinggi, karena target saya tidak hanya bisnis, tetapi menghargai proses,” ungkap Hasin.

Setiap harinya, Hasin mencari daun kelor di sepanjang jalan. Sambil melakukan perjalanan, daun kelor di pinggir jalan jadi sasarannya. Bahkan ketiga anakanya sudah tergugah, ketika melihat daun kelor di pinggir jalan, mereka akan berteriak. ”Yah, ada daun kelor, ayo diambil,” cerita Hasi menirukan anaknya.

Cara itu membuatnya tidak bisa memprediksi sumber bahan daun kelor yang didapat saban hainya. Setelah pulang membawa daun kelor, semua daun kelor itu dimasukkan di ruang pengering.

“Saya menggunakan ruangan pengering ini agar lebih higienis, kalau dijemur di luar ruangan, khawatir banyak debu dan bakteri yang menembpel,” ulasnya.

Dalam menjalankan bisnisnya, Hasin menempatkan edukasi sosial dalam urusan pertama. Sehinga penghasilan dan keberhasilan bisnisnya tidak terlalu dipentingkan. Menurutnya, menyadarkan masyarakat untuk memahami dan tidak mengentengkan suatu proses, itu sangat perlu.

“Banyak warga yang menyebut saya dan keluarga saya aneh, karena setiap hari mencari dan membawa daun kelor masuk kerumah,” terangnya.

Memberikan masyarakat kesadaran bahwa dalam kehidupan sosial, menghargai pekerjaan orang lain itu perlu. Bahkan sangat perlu. Bahan-bahan di sekitar kehidupan ini banyak memiliki manfaat yang bahkan belumkita ketahui.

“Saya ingin masyarakat lebih berkembang, bisa berinovasi, dan terus memberikan pengaruh kebaikan pada kehidupan sosial,” harap Hasin menutup perbincangan. (waw)

Komentar

News Feed