Pasien Covid-19 Meninggal Bertambah, PSBK Dua Kecamatan di Sumenep Diperpanjang

  • Whatsapp
(FOTO: KM/IST) GUGUR: Salah satu warga meninggal dimaksimalkan sesuai protokol Covid-19.

KABARMADURA.ID, Sumenep -Wabah Covid-19 di Sumenep masih belum berakhir, Bupati Sumenep A Busyro Karim menyampaikan, adanya tambahan korban meninggal akibat Covid-19 di Kecamatan Saronggi, membuat isolasi atau pembatasan sosial berskala kecil (PSBK) di lokasi tersebut harus diperpanjang.

Selain di kecamatan tersebut, yang juga berstatus zona merah saat ini adalah Kecamatan Sumenep. Kendati begitu, kesadaran masyarakat masih dinilai minim dalam melawan penyebaran wabah virus itu. Kendat sudah diberikan bantuan, masih terkesan abai terhadap bahaya penularan Covid-19.

Bacaan Lainnya

“Ya harus dilakukan tracing, tapi masalahnya masyarakat di sana itu (Saronggi) tidak mau menerima bantuan kalau harus di-rapid test,” katanya, Senin (5/10/2020).

Tambahan dua pasien Covid-19 yang meninggal dari Kecamatan Saronggi, akan disikapi secara serius, pihaknya akan kembali membuat surat edaran (SE) secara serius terkait perpanjangan pembatasan aktivitas terkhusus di Saronggi.

Selain itu, sebagai upayanya, bupati dua periode itu meminta agar seluruh elemen, baik tokoh masyarakat maupun yang lainnya, terus memberikan informasi atau edukasi terhadap masyarakat sekitar. Sehingga wabah yang mengancam seluruh dunia ini bisa disikapi dengan serius oleh masyarakat. Terutama yang berada di lokasi zona merah.

“Saya sudah menelepon pak sekda agar segera membuat hitam di atas putih. Itu dari hasil rapat tadi pagi, tambahan dua orang yang positif dan meninggalkan harus diperpanjang masa lockdown-nya (PSBK),” imbuhnya.

Awal pemberlakuan PSBK di Saronggi dimulai sejak 22 September lalu. Saat itu terdeteksi 6 pasien Covid-19 meninggal dunia. Namun dalam masa PSBK berlangsung, justru bertambah lagi dua orang yang meninggal dunia.

Dengan berbagai pertimbangan ,maka pihaknya tetap membatasi dan memantau aktivitas masyarakat setempat.

“Kalau masyarakat tidak mau di-rapid test, lalu bagaimana caranya mengetahui kalau reaktif atau tidak. Padahal mereka harus sadar bahwa banyak yang bisa terancam, bahkan dirinya sendiri, terlebih keluarganya,” pungkasnya. (ara/waw)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *