Patroli Polair Polres Bangkalan Terganjal Anggaran

  • Whatsapp
(FOTO: KM/HELMI YAHYA) MEMANAS: Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Bangkalan mendatangi kantor Polair Polres Bangkalan, guna meminta peningkatan operasi pemantauan di daerah laut.

KABARMADURA.ID | BANGKALAN – Belasan nelayan mendatangi Kantor Polair Polres Bangkalan. Mereka meminta agar para petugas optimal melakukan pemantauan di perairan. Terutama melakukan pengawasan terhadap masuknya nelayan dari luar daerah Bangkalan. Sebab, adanya nelayan dari luar cukup berpotensi menimbulkan bentrok antar sesama nelayan, Senin (22/11/2021).

Perwakilan Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Bangkalan Muhammad Ali mengatakan, kondisi pantai di daerah yang identik dengan slogan Kota Salak sudah menjadi sasaran kejahatan. Yakni, penggunaan trawl oleh nelayan luar daerah. Alat tersebut mampu merusak ekosistem lingkungan laut.

Bacaan Lainnya

“Pelakunya ini berasal dari daerah tetangga. Pada dasarnya konflik mengenai trawl ini sudah alot, bahkan tambah marak,” ujarnya.

Lelaki yang akrab disapa Habib tersebut menuturkan, ada sekitar 5 perahu nelayan dari luar Bangkalan yang setiap hari masuk menggunakan trawl. Bahkan, paling banyak datang hingga mencapai 22 perahu. Selain dari daerah Lamongan dan Gresik, juga ada dari Ketapang dan Sampang.

“Mereka datang secara bergerombol, lalu kami yang hanya menggunakan perahu tradisional bisa apa,” keluhnya.

Pihaknya menegaskan, beberapa tahun lalu sempat ada kejadian bentrok antara nelayan Kwanyar dan nelayan Pasuruan. Sehingga dikhawatirkan, ada konflik susulan mengenai posisi laut daerah barat tanpa adanya patroli pencegahan. “Potensi bentrok ini bisa saja terjadi. Nelayan ini sudah bingung, melaporkan ke Polair seperti tidak ada tindakan, diminta patroli, katanya juga kesulitan,” tegasnya.

Bahkan nelayan Bangkalan sudah berusaha mengikuti prosedur hukum yang ada. Yakni melaporkan, menangkap sesuai prosedur dan diserahkan ke pihak yang berwajib. Namun penyelidikannya lama, malah semakin banyak perahu trawl yang masuk. “Ini seolah tidak ada efek jera, mereka tidak takut dihukum, maka kami sebenarnya juga bisa berlaku demikian,” ancamnya.

Hal senada diungkapkan Lawyer Nelayan Hendrayanto. Menurutnya, pada Oktober lalu sudah melaporkan adanya perahu pengguna trawl. Hanya saja, hingga audiensi berlangsung pihak Polair masih terbatas melakukan penyelidikan, meski bukti foto dan nomor handphone sudah dikantongi. “Saya tidak tahu bagaimana prosesnya bisa selama ini. Tapi saya kira ini sudah cukup untuk dilakukan penangkapan,” paparnya.

Sementara itu, Kasat Polair Polres Bangkalan AKP Arif Djunaedi mengaku, selalu memaksimalkan patroli. Meskipun anggarannya sangat terbatas, tetap melaksanakan patroli di perairan. “Kami harus pintar mengelola anggaran. Karena memang kami kekurangan anggaran, tapi kami tetap memaksimalkan patroli,” responnya.

Kata Arif, luas laut Bangkalan yang harus di mendapat pengawasan mulai dari Modung, hingga Tanjung Bumi.  Sedangkan timnya yang hanya beranggotakan 16 orang. Sehingga merasa kesulitan dalam bertugas. “Makanya kami tidak setiap hari bisa melakukan patroli. Kami sesuaikan dengan kondisi, selama dibutuhkan kami berangkat,” terangnya.

Kemudian mengenai nelayan yang saat ini telah dilakukan penyelidikan, tim masih terus melanjutkan dengan memeriksa 6 saksi. Kemudian membutuhkan keterangan ahli, apakah perahu yang digunakan memang menggunakan trawl atau tidak. “Saksi ahli kami juga sudah ada, jadi mohon bersabar, kami juga nanti akan sampaikan ini kepada pimpinan,” janjinya.

Reporter: Helmi Yahya

Redaktur: Totok Iswanto

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *