oleh

Pedagogi Kritis itu Membebaskan

Oleh: Ahmad Sahidah*)

For me, education is simultaneosuly an act of knowing, a political act, and an artistic event. I no longer speak about a political dimension of education. As well, I don’t speak about education through art. On the contrary, I saw education is politics, art and knowing (Paulo Freire, 1985).

Secara sengaja saya mengutip pernyataan Freire, tokoh pedagogi kritis asal Brasil, secara lengkap. Sejatinya sosok ini tidak asing bagi pegiat pendidikan dan keadilan sosial di sini. Beberapa bukunya sudah diterjemahkan dan idenya diperbincangkan dalam banyak kesempatan dan tempat. Adalah kita berhenti sekadar memahami gagasan tanpa menghayati dan menerapkannya dalam kehidupan sosial praktis dan sehari-hari?

Pertanyaan di atas muncul atas refleksi terhadap pengalaman pembelajaran yang saya dapatkan sejak kecil hingga perguruan tinggi. Mesti diakui bahwa apa yang saya dapatkan di sekolah dasar hingga perguruan tinggi lebih bersifat kognitif dan afektif. Model penyampaian bersifat monolog dan hanya berdasarkan buku teks. Kami mempunyai dua dunia, yaitu kelas dan rumah. Kami belum diajak untuk mengaitkan keduanya secara progresif.

Jika pendidikan dianggap sebagai cara yang paling jitu untuk melatih makhluk berakal budi agar bisa menemukan jati diri, adakah identitas otentik bangsa ini telah dijelaskan dan dipraktikkan secara utuh? Betapapun secara formal ada cetak biru, namun dalam praktik keseharian pakaian dan kebudayaan tradisional, misalnya, hanya ditunjukkan pada kegiatan dan momentun tertentu. Jujur, pakaian dan kebudayaan tradisional hanya menjadi nostalgia dan klangenan, bukan ungkapan artistik utuh sehari-hari.

Selain itu, seperti dikatakan oleh Herbert Spencer bahwa pendidikan bertujuan untuk pembentukan karakter. Jelas, pandangan filsuf ini ideal, sebab pada gilirannya pendidikan harus bisa memberikan jalan pada pelajar untuk mempunyai keterampilan teknis. Oleh karena itu, menurut Neil Postman, pegiat pendidikan harus memerhatikan dua hal penting, yaitu persoalan keahlian teknis dan sesuatu yang bersifat metafisik.

Pandangan seperti di atas sejatinya bukan hal baru, namun perkembangan zaman yang pesat menyebabkan pemaknaan terhadap keahlian dan konsep abstrak tentang kehidupan berubah. Di tengah usaha untuk menjadikan pendidikan sebagai jalan pembebasan, ternyata institusi yang mengurusnya acapkali terperangkap pada pemerolehan keuntungan. Padahal, ketika masyarakat dibentuk melalui kebudayaan, nilai-nilai dan hubungan neoliberalisme, hubungan antara pendidikan kritis, moralitas publik dan tanggung jawab sosial sebagai sebuah syarat untuk mewujudkan warga negara yang berwawasan dan peduli akan dikorbankan karena kepentingan modal finansial, ketamakan perusahaan, dan logika pencarian untung. Tentu saja, ketegangan antara kepentingan pendidikan yang membebaskan dan biaya pengurusan yang tak lagi murah, menyebabkan ongkos untuk menyelenggarakan pembelajaran dan pengajaran semakin meningkat.

Pada gilirannya, pesona neoliberalisme menyebabkan warga kehilangan suara publiknya karena kebebasan pasar menggantikan kebebasan sipil dan masyarakat makin tergantung pada konsumen melakukan kerja-kerja warga negara. Lebih jauh, jika kebudayaan perusahaan merasuki begitu dalam institusi dasar dari masyarakat sipil dan politik, maka ada sebuah penyusutan serentak ruang publik yang tak bisa diperjualbelikan, seperti sekolah negeri, masjid, penyiaran publik nirlaba, perpustakaan, persatuan buruh, dan pelbagai lembaga sukarela yang terlibat dalam dialog, debat dan pembelajaran.

Dengan dominasi kebudayaan perusahaan neoliberal, kekuasaan ekonomi akan digenggam oleh segelintir orang. Kuasa seperti ini akan merusak kekuasaan buruh, melipatgandakan produktivitas, menomorduakan kebutuhan masyarakat, dan mengutamakan pasar, serta menjadikan pelayanan dan barang publik sebagai kemewahan yang mesti dinikmati tanpa sadar. Jadi, neoliberalisme tidak lagi melihat kebutuhan nyata masyarakat, melainkan menjadikan khalayak sebagai obyek yang harus dipujuk untuk bersikat konsumtif.

Mengingat pengaruh buruk neoliberalisme terhadap kehidupan bersama, tentu warga sekolah dan kampus perlu memerhatikan perkembangan terkini dari praktik komersialiasi pendidikan. Untuk itu, kita bisa belajar dari Henry Giroux, pedagog kritis, bagaimana pendidikan di Amerika Serikat telah begitu terkontaminasi oleh positivisme, yang hanya melihat salah satu dimensi dari kehidupan manusia.

Pedagogi Kritis

Dengan penekanan pada subjektivitas, Giroux mendorong dialog terbuka antara pelbagai lapisan masyarakat sehingga demokrasi betul-betul hadir dalam pertukaran gagasan dan kehendak melakukan perubahan. Mengingat neoliberalisme telah dominan, pedagogi publik telah menyebabkan pemanfatan daya dobrak kultural pendidikan untuk membungkam kelompok kritis. Lebih jauh, Giroux menegaskan bahwa tindakan politik itu mungkin karena pelaku (agen), yang merupakan bagian dari dunia sosial, mempunyai pengetahuan tentang dunia ini dan bertindak sesuai dengan pengetahuan mereka tentang dunia. Pendek kata, pendidikan semestinya menjadi ruang bagi peserta didik dan guru untuk meneroka sejarah kemanusiaan dirinya.

Bagaimanapun, neoliberalisme lebih sekadar teori ekonomi. Ia juga turut mempengaruhi perubahan arah politik kebudayaan, sehingga dominasinya akan melahirkan sistem pendidikan permanen yang mengebiri politik demokratis. Ketika universitas mengadopsi ideologi perusahaan transnasional dan tunduk pada kebutuhan modal, perguruan tinggi tidak begitu peduli untuk mendidik mahasiswa dalam ideologi dan praktik sipil tata pamong (governance) demokratis dan keniscayaan pemanfaatan pengetahuan untuk menjawab tantangan kehidupan masyarakat umum.

Akibatnya, dengan ketiadaan ruang publik yang membebaskan, neoliberalisme akan lebih mudah bagi pembelanya untuk menghilangkan penyediaan fasilitas sosial dasar dari negara kesejahteraan dan memperlemah kekuatan persatuan buruh. Pada gilirannya keadaan ini meningkatkan pengaruh korporasi terhadap seluruh aspek kehidupan sehari-hari, membiarkan warga negara terasing dan tidak berdaya menghadapi kebudayaan dunia yang tidak aman dan penuh ketakutan. Tak hanya itu, ia juga mendorong perang terhadap orang miskin dan orang yang berbeda etnik serta keyakinan. Tetapi apa yang paling berbahaya sebagai akibat dari penyebaran neoliberalisme, kontrak sosial yang menghubungkan tanggung jawab orang dewasa terhadap kesejahteraan pemuda dan kepercayaan pada masa depan hancur.

Dengan mengacu keadaan di atas, pedagogi mesti lebih politis. Pendidikan  dalam pengertian yang paling luas merupakan sifat utama dari politik karena ia memberikan kemampuan, pengetahuan, dan hubungan sosial dan kesadaran politik. Dengan kata lain, pendidikan itu sekaligus merupakan tindakan politik dan peristiwa estetik. Jadi, pendidikan tidak lagi membicarakan dimensi politik semata-mata, tetapi ia secara otomatis merupakan tindakan politik. Dengan menimbang estetik, seni pendidikan itu adalah sebuah kehendak untuk mengetahui. Tanpa pengetahuan yang memadai tentang diri dan pekerjaan, tindakan politik tentu tidak mendatangkan pembebasan.

*)Dosen Filsafat Pendidikan Islam Universitas Nurul Jadid Paiton dan alumnus Universitas Sains Malaysia

 

Komentar

News Feed