oleh

Pekerja Kreatif dan Kebiasaan Buruk yang Pantas Diakhiri

Pekerja kreatif adalah mereka yang bekerja dengan kreativitas. Tujuannya adalah mencipta inovasi lalu mendapat penghasilan dari sana. Banyak sektor yang termasuk dalam kategori ini. Baik itu periklanan, media, fesyen, kuliner, penulis, dan masih banyak lagi.

Tidak ada jadwal rutin yang mereka miliki. Yang ada adalah rutin melakukan inovasi agar proyek sesuai harapan. Karena sektor ini sangat dinamis dan tidak bisa ditebak. Misal saja saat bergerak di bidang fesyen. Kita tidak bisa memaksa konsumen untuk suka dengan produk terbaru yang dikeluarkan. Sehingga kerja dari pekerja kreatif bisa dibilang sangat berat.

Karena rutinitasnya dinamis, seorang pekerja kreatif harus lebih menjaga dirinya. Kebiasaan yang dimiliki bisa jadi akan berbeda, atau bahkan terbalik daripada orang pada umumnya. Di sinilah, buku Bad Habit mengingatkan agar jangan berlebihan dalam “menyiksa” diri. Bagaimanapun, menjaga tubuh agar tetap fit adalah jalan yang paling tepat.

Penulis, Samuel Fernando mengingatkan jika kebiasaan-kebiasaan buruk harus dihentikan. Ia menjelaskan banyak kebiasaan buruk yang sering dilakukan pekerja kreatif. Misal saja kebiasaan multitasking atau mengerjakan beberapa hal secara bersamaan. Multitasking akan membuat penyelesaian pekerjaan menjadi semakin lama. Sehingga lebih baik dihindari.

Pada saat mengerjakan suatu hal. Kita membutuhkan atensi agar bisa fokus mengerjakannya. Namun ketika ada beberapa hal yang dilakukan secara bersamaan. Maka atensi akan berpindah-pindah dari satu hal ke satunya lagi. Sedangkan untuk bisa fokus pada pekerjaan, kita membutuhkan beberapa waktu terlebih dahulu. Barulah bisa melanjutkan pekerjaan. Di sinilah letak kenapa multitasking sangat tidak dianjurkan dilakukan. (Hal.8)

Selain multitasking, kurang gerak juga menjadi kebiasaan buruk yang harus dihindari. Saat kurang gerak, lemak akan menumpuk pada tubuh. Ini akan berpotensi menyebabkan kegemukan. Sedangkan gemuk akan membuat badan terasa berat, rasa tidak nyaman, dan malas melakukan sesuatu (hal.67).

Pada buku ini, setidaknya penulis menyajikan 10 kebiasaan buruk yang harus dihindari. Selain dua di atas, ada juga kebiasaan menggunakan pencahayaan rendah, kebiasaan beraktivitas di media sosial berlebihan, kebiasaan pulang malam, dan masih banyak lagi. Selain menunjukkan kebiasaan buruk, penulis menggambarkan pula efek negatif apabila kebiasaan buruk tetap dilakukan.

Ketika pembaca atau pekerja kreatif menghindari semua kebiasaan buruk yang disajikan buku ini. Kemungkinan besar pekerjaan akan berjalan dengan lancar. Karena kebiasaan buruk menyerang produktivitas. Selain itu juga meningkatkan kesehatan fisik dan psikis. Sehingga dapat hidup dengan lebih bahagia.

Hanya saja buku tidak menjabarkan bagaimana cara menghindari kebiasaan buruk tadi. Kecuali hanya menyuruh pembaca untuk “jangan melakukan kebiasaan buruk ini.” Lalu ditambah dengan “efeknya akan berbahaya apabila terus dijalankan.” Sehingga mempraktikkan saran dari buku ini juga akan sulit. Karena tidak ada panduan secara teknis.

Kekurangan lain pada Bad Habit adalah mengenai referensi yang diberikan. Penulis kurang melakukan riset yang mendalam mengenai karya yang dipublikasi. Bahkan dalam sepuluh sajian yang diberikan, penulis hanya memiliki sembilan referensi saja. Itupun semua referensinya diambil dari berita daring yang ada di internet. Seperti Kompas, Viva, BBC, Brilio, dan juga web yang kredibilitasnya bisa diragukan.

Buku The Power of Habit karya Charles Duhigg agaknya cocok sebagai pelengkap setelah membaca Bad Habit. Charles Duhigg menjabarkan cara secara rinci bagaimana kita bisa mengubah kebiasaan sehari-hari. Bahkan juga menyediakan berbagai studi kasus perilaku orang setelah merubah kebiasaan menjadi lebih baik. Misalnya seorang perempuan bernama Lisa yang akhirnya menjalani kebiasaan berolahraga. Tidak tanggung-tanggung, ia mulai dengan mengikuti setengah maraton. Lalu dilanjutkan dengan full maraton. Padahal sebelumnya Lisa memiliki kebiasaan hidup yang jauh dari kata ‘baik’.

Kembali lagi pada buku Samuel Fernando. Meski Bad Habit memiliki kekurangan, ia juga memiliki kelebihan yaitu pada sisi ilustrasi. Pembaca akan dimanjakan dengan ilustrasi tiap lembarnya. Dengan ilustrasi, buku terlihat semakin apik. Selain itu mata tidak akan kelelahan untuk membaca banyak teks yang monoton.

Terlepas dari kekurangan dan kelebihan yang dimiliki buku. Buku ini menyadarkan pembaca jika melakukan kebiasaan buruk akan mengakibatkan efek buruk pula bagi tubuh. Efek buruk bisa saja tidak pada keuangan kita. Namun bagaimana dengan buruk pada kesehatan? Apalagi kesehatan psikis yang sangat penting selain fisik? Kita tidak ingin memiliki sesuatu yang merugikan. Sehingga harus mulai memikirkan kebiasaan-kebiasaan positif.

Apalagi dalam 24 jam, kita lebih sering melakukan aktivitas sesuai dengan kebiasaan. Kita sangat jarang berpikir dahulu sebelum melakukan aktivitas. Maka, buku ini bisa menjadi rekomendasi agar kita lebih memperhatikan kebiasaan sehari-hari. Selamat membaca.

Judul: Bad Habit

Penulis: Samuel Fernando

Penerbit: PT. Elex Media Komputindo

Cetakan: April 2018

Tebal: 132 Halaman

ISBN: 978-602-04-5774-1

Biodata

Khoirul Muttaqin, Mahasiswa Universitas Negeri Malang

Pria asal Kediri yang suka membaca dan mengulas buku.

Ulasan buku di YouTube: https://www.youtube.com/channel/UCjNgHVQW54nwCev60cVy6Og

Komentar

News Feed