Pelajaran Bahagia dari Khazanah Keilmuan Jawa

  • Whatsapp

Oleh Ahmad Farisi*

Hidup bahagia adalah impian setiap manusia. Karena itu, bersamaan dengan kebutuhan pasar, buku-buku yang membahas ilmu bahagia sudah banyak yang beredar ke hadapan publik. Sebut saja salah satunya buku bertajuk ‘Seni Hidup Bahagia dengan Berpikir Positif’ karya Coky Aditya Z, yang meluncur pertengahan 2019 lalu.

Bacaan Lainnya

Buku yang ditulis oleh dosen di Scholof Humanities President Uvinersity, Bekasi ini juga membahas ilmu bahagia (Kawruh Jiwa). Ilmu bahagia yang ditawarkan buku ini merujuk pada khazanah keilmuan Jawa. Bukan seperti buku-buku lainnya yang banyak merujuk pada khazanah keilmuan Barat.

Menurut Afthonul Afif, salah satu cara hidup bahagia adalah dengan cara menjadi ‘manusia tanpa ciri’. Menjadi ‘manusia tanpa ciri’ dimaksud adalah menjadi manusia yang tidak membatasi pergaulan dengan siapa pun, dan serta selalu menjaga hubungan sosial yang baik dengan siapa saja (halaman 53).

Sehingga, di mana pun dan kapan pun keberadaan kita selalu bisa diterima apa adanya, bukan karena ada apa-apanya. Sebagai akibat dari hal itu,  menurut Afif, jiwa manusia akan  menjadi damai, legowo dan tenang.  Dan  pada kahirnya akan sampai pada puncak kebahagian.

Lebih lanjut, Afif juga berpendapat bahwa, yang menentukan kebahagian manusia bukanlah harta dan benda-benda. Harta dan benda hanya berfungsi untuk melengkapi kebutuhan fisik manusia. Tidak untuk kebutuhan psikologisnya. Sementara kebahagian adalah soal kedamaian psikologis.

Jadi, menurut Afif, jika manusia ingin mencapai kebahagian dalam hidupnya, perbanyaklah mencari hal-hal yang membuat jiwanya damai daripada memperbanyak mencari harta dan benda, yang terkadang malah membuat manusia semakin jauh dari kebahagian.

Selain itu, Afif juga merumuskan akibat-akibat dari pendidikan manusia di masa kecil yang bisa berakibat pada ketidakbahagiannya di masa dewasa. Pembahasan ini dikupas-tuntas oleh Afif—yang merupakan penekun psikologi positif dan psikologi politik—pada bab Pendidikan Untuk Menajamkan Rasa dan Rasio (halaman 143).

Menurut Afif, jika pendidikan yang dialami manusia pada masa kecil cenderung kurang baik, semisal, suka dibohongi oleh orang tuanya, meski alasan orang tua tersebut dapat dibenarkan. Tetapi hal itu akan menghilangkan kepercayaan anak. Akibatnya, mental anak akan terbentuk menjadi mental tidak percaya.

Dan kelak, ketika anak itu sudah dewasa, anak tersebut juga akan mudah curiga, tidak percaya dan dipenuhi keragu-raguan. Alhasil, jiwanya menjadi tidak tenang, risau dan penuh ketakutan. Jika demikian, ketidakbahagianlah yang dicapainya.

Dalam merumuskan pandangannya itu, Afif merujuk pada pemikiran Ki Ageng Suryomentaraman (1892-1965), yang merupakan pemikir Jawa  yang menjunjung tinggi pemakaian logika dan penalaran ilmiah (juga alamiah) dalam menjelaskan berbagai persoalan yang dibahasnya (halaman 29).

Sejatinya, melalu buku ini Afif tidak hanya ingin memperkenalakan ilmu bahagia (Kawruh Jiwa), dari kekayaan khazanah keilmuan jawa. Tetapi, lain daripada itu, secara tersirat ia juga bermaksud untuk memperkenalkan Ki Ageng Suryomentaraman selaku pemikir Jawa yang tidak banyak dikenal dan diperhatikan oleh pemikir Nusantara kekinian.

Barang tentu, hal ini adalah bagian dari prestasi Afif dalam menuliskan buku ini yang tidak banyak dilakukan dan dicapai oleh penulis-penulis lainnya.

Buku ini, pun pada sampulnya mengambil tema besar psikologi, Afif tetap tidak meninggalkan kaidah-kaidah filsafat dalam memaparkan argumentasi logisnya tentang ilmu bahagia (Kawruh Jiwa).

Aroma filsafat dalam buku ini begitu kental, khususnya dari bab-3 hingga bab-7. Bahkan, untuk meyakinkan pembaca akan argumentasinya, Afif juga kerap kali meminjam teori Causa (hukum sebab akibat) Aristoteles (384-322 SM).

Afif, meskipun tidak sepenuhnya sempurna menuliskan buku ini. Tetapi setidaknya Afif telah berhasil membuat pembaca untuk membaca dirinya-sendiri dalam buku setebal 238 halaman ini. Membaca buku ini, pembaca akan dibuat berpikir dan mengartikan ulang terhadap hal-hal yang baru saja dilakukan dalam kesehariannya, berbuah kebahagian atau malah sebaliknya.

Dalam menuliskan ide-ide pokoknya, Afif tidak terlalu jauh berlari dari kenyataan hidup manusia yang tidak membahagiakan. Ia merekam hal-hal yang ia lihat dalam kesehariannya yang ia pandang sebagai sebuah sebab bahagia tidaknya manusia.

Kemudian, ia tuangkan menjadi sebuah kalimat-kalimat ideal pada paragraf-paragraf buku ini untuk kemudian dijadikan gagasan  cemerlang yang bisa menjadi tawaran baru bagi kehidupan manusia yang lebih membahagiakan.

Di tengah kehidupan manusia kekinian yang semakin materialistik, karena dianggap dapat menjadi jembatan atas cita-cita kebahagiannya. Buku ini menjadi sesuatu yang penting untuk dibaca. Mengingat buku besutan Afif ini memberi pandangan lain tentang kebahagian dan cara menggapainya.

*)Pembaca dan Esais, bermukim di Garawiksa Institute Yogyakarta

Judul Buku      : Psikologi Suryomentaraman

Penulis             : Afthonul Afif

Penerbit           : IRCiSoD

Cetakan           : Maret,2020

Tebal               : 238 halaman

ISBN               : 978-623-7378-30-3

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *