oleh

Pelajaran Toleransi Baginda Nabi

Oleh: Muhammad Itsbatun Najih

Alumnus Ibtidaul Falah, Kudus

Perangai seutuhnya Nabi Muhammad Saw merupakan cerminan laku dan teladan-tamsil bagi umat manusia. Semenjak kecil, beliau telah menjumpai pluralitas keyakinan. Ini bisa dipahami karena kala itu, Mekkah, merupakan salah satu pusat peribadatan dan lintas perdagangan di Jazirah Arab. Di kota Ibrahim As membangun Ka’bah yang masyarakatnya heterogen itu, sudah terdapat komunitas Yahudi, penduduk Nasrani, kalangan Majusi, penganut paganisme, maupun pemeluk millah Ibrahim.

Suatu kali, Muhammad Saw kecil diajak berdagang oleh sang paman, Abu Thalib –yang menurut riwayat seorang non muslim. Di tengah jalan, beliau berpapasan pendeta Buhaira yang langsung menyuruhnya lekas berbalik pulang demi kebaikan masa depan keponakan (baca: nubuwat kenabian). Momen hampir serupa juga bisa dilihat kala beliau diajak sang istri, Siti Khadijah, kepada paman sekaligus seorang Ahli Kitab terkemuka, Waraqah bin Naufal, untuk minta menjelaskan tanda-tanda kenabian suaminya. Dua momen pertemuan istimewa Muhammad Saw dengan dua pemuka agama tersebut menjadi titik jumpa yang mengesankan perihal arti penting sebuah toleransi antarkeyakinan.

Cara bergaul baginda Nabi Saw dengan non muslim selalu menarik ditelusuri; untuk kemudian bisa dijadikan tamsil laku keseharian umat muslim hari ini. Ada garis tebal sangat jelas, bahwa kenabian dan kerasulan beliau tidak untuk memusuhi pemeluk agama lain. Kepada mereka yang berbeda keyakinan, Nabi Saw selalu menibakan tenggang rasa dan laku kemuliaan. Beliaulah yang menyuapi seorang Yahudi jompo dan tunanetra yang tinggal sebatang kara di sudut kota Madinah. Di lain waktu, ketika suatu kali menjumpai rombongan pengantar jenazah Yahudi, beliau lekas berdiri sebagai bentuk penghormatan.

Kala menjadi kepala pemerintahan, Nabi Saw memang pernah menjatuhkan hukuman berat kepada sejumlah pemeluk Yahudi. Tapi, sekali-kali hukuman itu disebabkan bukan karena agama mereka. Namun, karena pelanggaran kejahatan berupa tindakan pengkhianatan yang dapat mengancam stabilitas keamanan negara. Tentu saja ancaman hukuman juga dialamatkan kepada kaum muslim bila bertindak kejahatan serupa. Di titik ini, beliau secara eksplisit telah menegakkan supremasi hukum tanpa pandang bulu, tanpa pandang agama.

Dalam tugas kerasulan, Nabi Saw tidak pernah sekalipun memaksakan keyakinan untuk memeluk Islam (la ikraha fi al-din). Ketika terjadi perbedaan dan tumpang tindih teologis dengan pemeluk Yahudi-Nasrani, Nabi Saw selalu mewedarkan ruang dialog, yang barangkali diharapkan bisa mencapai titik temu kesepahaman (kalimatun sawa). Argumen risalah keislaman lantas disampaikannya dengan kesantunan dan bermartabat (mauidzah hasanah). Tak ada nuansa menjatuhkan mitra bincang. Maka tersebab itu, dalam konteks kekinian, debat-debat keagamaan di ruang terbuka; di mana secara vulgar saling menelanjangi keyakinan, tak lain justru antiklimaks spirit toleransi ala Nabi yang telah dicontohkannya itu.

Lantaran yang perlu  dilakukan dalam meniru spiritnya adalah, dengan tak lelah dan sesering mungkin mengadakan dialog lintas iman. Tujuannya, selain lebih merekatkan kerukunan antarumat beragama, juga agar pelbagai pihak bisa saling memahami corak ritus masing-masing agama. Sehingga, dari sinilah muncul nuansa saling penghormatan dan kian menjadi mahfum perihal batas-batas doktrin suatu agama; agar terhindar terjerembab dari laku penistaan dan olok-olokan.

Terkait perkara meledek/menghina agama lain; suatu kali sahabat bernama Shafiyah –yang ayahnya memeluk Yahudi, dipanggilnya dengan sebutan “anak Yahudi” –dengan motif mengolok. Oleh Nabi Saw, seketika langsung menegur dan melarang perbuatan itu. Pun, Thabrani, seorang perawi hadis,  meriwayatkan bahwa Nabi Saw pernah member hukuman kepada orang yang mengolok-olok dengan menggunakan olokan: “wahai Yahudi”.

Dalam relasi sosial keseharian, Nabi Saw begitu welas asih kepada siapa pun. Tak membeda-bedakannya dari suku Quraisy atau tidak, seorang muslim atau bukan. Kepedulian hidup sebagai sesama hamba Tuhan menjadi inti sikap beliau, terlebih kepada tetangganya.  Sahabat Ibnu Abi Husain mengisahkan betapa Nabi Saw begitu buru-buru menjenguk tetangganya yang sedang sakit, meski dia seorang Yahudi. Fragmen monumental tatkala peristiwa Fathul Makkah. Di mana posisi Nabi Saw di “atas angin” untuk bisa saja melakukan pembalasan tersebab pernah teraniaya dan terusir. Pun, bisa saja melakukan pemaksaan untuk memeluk Islam. Namun, Nabi pantang melakukannya. Sehingga, selain tak ada ceceran darah, tak ada pula kegiatan pengislaman massal.

Ada fakta-fakta mengesankan pada diri Nabi Saw kala mendapati segelintir pada mereka yang tadinya memeluk Islam, lantas berpindah memeluk agama lain. Ternyata, Nabi Saw tidak melakukan apa-apa. Membiarkannya saja sebagai pilihan hidup. Tidak ada hikayat yang menyebut Nabi Saw amat marah, mencaci, dan menimpakan sanksi hukuman kepada yang telah dianggap murtad. Ya, tugas Nabi hanyalah sekadar menyampaikan ajaran Ilahi. Asas kebebasan beragama benar-benar terejawantah.

Sikap tegas Nabi Saw kepada non muslim –dan juga kepada umat Islam—semata-mata disebabkan tatkala mereka berbuat kejahatan. Selebihnya perihal urusan keyakinan, Nabi saw sangat melindungi siapa saja. Bahkan beliau mengecam keras kepada kaum muslim yang bertindak sewenang-wenang kepada non muslim. Bila masih saja dilakukan, konsekuensinya amat berat: si muslim yang menzalimi tersebut, tidak bisa masuk surga dan kelak pada hari kiamat malahan dianggap sebagai penentang beliau (fa ana hajijuhu yaumal qiyamah). Wallahu a’lam

 

Komentar

News Feed