Pelecehan Seksual Anak di Bangkalan Masih Tinggi

  • Whatsapp
BERMAIN: Terlihat beberapa anak sedang asyik bermain dengan teman sebaya.

Kabarmadura.id/BANGKALAN-Pelecehan terhadap anak di bawah umur di Bangkalan terbilang masih tinggi. Pasalnya sejak tahun 2013 hingga tahun 2019, tercatat setidaknya ada 68 kasus.

Namun, data itu dihitung berdasarkan temuan dan kasus yang ditangani oleh aparat pemerintah, salah satunya Dinas Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DKBP3K) Bangkalan.

Rinciannya, kasus pemerkosaan anak sebanyak 26 kasus, sodomi sebanyak 31 kasus, kekerasan fisik dan pencabulan pada anak di bawah umur sebanyak 3 kasus dan penelantaran anak sebanyak 8 kasus.

Baca Juga: Sampang Gagal Wujudkan Kabupaten Layak Anak

Baca Juga: Jumlah Korban KDRT Mendominasi Kasus Kekerasan Anak

Menurut Kepala DKBP3K Bangkalan Amina Rachmawati mengungkapkan, rangkaian kasus yang mencapai puluhan tersebut,  terjadi lantaran minimnya pengetahuan dan kesadaran akan perlindungan pada anak.

Saat ini, dirinya tengah kesulitan membina dan memberi sosialisasi pada masyarakat dalam pencegahan banyaknya kasus pelecehan yang menimpa anak usia dini.

“Yang menjadi kendala dalam mengendalikan pelecehan pada anak usia dini, yakni kami keterbatasan tenaga untuk melakukan pembinaan di setiap desa-desa,” katanya, Selasa (23/7).

Perempuan yang kerap disapa Atik ini menjelaskan, saat ini dirinya hanya memiliki 89 petugas pembinaan yang tersebar di 18 kecamatan yang ada di Bangkalan. Untuk mencukupi kebutuhan tenaga pembinaan tersebut, Atik mendapatkan relawan dari masyarakat dari tiap desa yang diberikan pembinaan.

Selain maraknya kasus pelecehan terhadap anak di bawah umur, masih banyak kasus mengenai anak yang harus ditangani. Dirinya mengatakan, seperti kasus stunting dan kurang gizi pada anak masih menghantui Kabupaten Bangkalan.

Mengenai kasus anak di bawah umur yang dipekerjakan dan terjerat kasus tindak pidana, sampai saat ini DKBP3K belum menerima laporan. Ditambah lagi, menurut Atik, masih banyak masyarakat yang enggan untuk melaporkan ke dinasnya. Sebagian masyarakat malu jika kasus pelecehan yang menimpa keluarganya sampai didengar orang lain.

“Pembinaan dan pendampingan hanya dilakukan pada anak di bawah umur yang mengalami pelecehan, sedangkan anak di bawah umur yang mengalami tindak pidana atau dipekerjakaan, kami tidak ada,” pungkasnya. (ina/waw)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *