Pemakaman Jenazah PDP dari Luar Bangkalan Bakal Dilarang

  • Whatsapp
(FOTO: KM/FA'IN NADOFATUL M.) SUDIYO: Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Bangkalan

Kabarmadura.id/BANGKALAN-Adanya peristiwa pemakaman pasien dalam pengawasan (PDP) yang tidak beridentitas warga Bangkalan, mendapat sorotan dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Bangkalan. Pasalnya, selama 3 bulan kasus Covid-19 mewabah, sudah ada 4 PDP identitasnya bukan Bangkalan atau kematiannya tidak di Bangkalan, namun dimakamkan di Bangkalan.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Bangkalan Sudiyo menuturkan, 4 PDP yang meninggal tersebut dimakamkan di empat desa dari dua kecamatan di Bangkalan.

Bacaan Lainnya

Lokasi pemakamaannya itu antara lain di Desa Brakas, yang mendapat kiriman jenazah PDP beridentitas Tangerang. Kemudian yang dimakamkan di Desa Parseh, Kecamayan Burneh, adalah PDP dari Surabaya.

Sedangkan yang ketiga, adalah PDP asal Rumah Sakit Adi Husada Surabaya dengan identitas Surabaya yang dimakamkan di Benangkah, Kecamatan Burneh. Jenazah PDP keempat adalah warga Surabaya dan dimakamkan di Desa Sukolilo, Kecamatan Labang.

“Mereka semua bukan asli Bangkalan semua, tapi keluarganya di Bangkalan dan kelahiran Bangkalan,” katanya.

Lebih lanjut, lelaki yang kerap disapa Yoyok ini menceritakan, bahwa pada kasus PDP yang dimakamkan di Desa Parseh, sempat tertahan selam 6 jam. Sebab, dia menolak pemakaman PDP yang bukan berasal dari Bangkalan. Alasannya, PDP tersebut tidak memiliki identitas Bangkalan.

“Selain itu, penolakan yang dilakukan lantaran kesepakatan antara pihak keluarga dan tim medis tidak dipatuhi. Sebelumnya sepakat pemakaman dilakukan dengan protokol Covid-19. Ketika jenazah datang bukan langsung dibawa ke makam. Tapi ke rumahnya untuk disalatkan,” lanjutnya.

“Yang lebih parah lagi, pemakaman PDP yang Desa Benangkah, Burneh itu, bukan asli sini. Hanya keluarganya saja yang asli sini, seperti nenek dan kakeknya,” imbuhnya.

Yoyok menambahkan, PDP yang dimakamkan ini bukan berasal dari rumah sakit rujukan penanganan covid-19. Dia menuturkan, para PDP ini dilepas begitu saja oleh rumah sakit. Sehingga, pengawalan jenazah menuju rumah duka tanpa pengawalan protokol Covid-19. Padahal jenazah tersebut merupakan PDP.

“Celakanya lagi, ketika pemakaman PDP di Burneh, liang kuburnya sempit. Akhirnya petinya dibongkar diambil jenazahnya,” tuturnya.

Akibat hal ini, pihaknya dan tim gugus tugas berencana membuat surat edaran (SE) mengenai penolakan PDP yang identitasnya bukan warga Bangkalan agar ditolak. SE ini akan ditujukan kepada seluruh warga, khususnya masing-masing kepala desa di Bangkalan.

Dalam SE itu, baik PDP ataupun pasien yang meninggal bukan asli atau identitasnya Bangkalan, ditolak.

“Karena kami belajar kasus dari 4 ini. Ayolah saling instropeksi diri, saling menjaga diri dan disiplin diri. Virus itu ndak ada obatnya, mari saling menjaga,” tandasnya. (ina/waw)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *