Pemangkasan Jatah Pupuk Timbulkan Masalah Baru

  • Whatsapp
KEKURANGAN PUPUK: Petani di Desa Sumedangan, Pademawu, Pamekasan saat merawat tembakaunya resah, karena sulit lepas dari ketergantungan pupuk kimia bersubsidi.

Kabarmadura.id/PAMEKASAN-Pemangkasan jatah pupuk bersubsidi menjadi persoalan dan meresahakan para petani. Mereka cemas, khawatir tidak mendapat bagian pupuk bersubsidi sesuai kebutuhannya.

Ketua Komisi II DPRD Pamekasan Apik mengatakan, akibat pemangkasan pupuk bersubsidi, menjadi persoalan baru bagi petani dan harus dicarikan solusi. Jika penggunaan pupuk organik satu-satunya solusi, menurutnya, harus segera disosialisasikan. Sebab, sekarang memasuki musim tembakau, sehingga kebutuhan pupuk tinggi.

“Segera carikan solusi,” paparnya, Rabu (10/7).

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) dituntut proaktif berkomunikasi dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timut (Jatim) untuk mengupayakan solusi dari permasalahan itu. Terlebih, menyampaikan bahwa pemangkasan tersebut tidak memungkinkan dilakukan di Pamekasan.

Muhri (60), salah seorang petani asal Desa Sumedangan, Kecamatan Pademawu, Pamekasan juga menyampaikan kekhawatirannya jika jatah pupuk itu benar-benar  dipangkas. Sebab, tanaman tembakau membutuhkan pupuk yang cukup dan hasil tembakaunya sudah menjadi sumber penghasilan utama di setiap musim kemarau.

“Makanya saya lakukan dengan sepenuh hati,” paparnya.

Tembakau tersebut membutuhkan pupuk, tanpa pupuk yang memadai laju pertumbuhannya tidak akan pernah cepat.

“Saya berharap pupuk di Pamekasan tercukupi,” ujarnya.

Sebelumnya, Kasi Pupuk, Pestisida, Alat dan Mesin Pertanian Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten Pamekasan R. Deddy Dwi Yudha Bakti menyebu, tiga jenis pupuk yang mengalami pemangkasan jatah, yakni, Urea, SP dan ZA (selengkapnya lihat data di bawah). Pemangkasan tersebut direalokasi untuk daerah lain di Jawa Timur.

Realokasi itu merupakan kebijakan Pemprov Jatim yang akan dilakukan dalam beberapa tahap. Saat ini masih memasuki tahap pertama.

Pada realokasi berikutnya, bisa saja jatah pupuk bersubsidi yang dipangkas itu dikembalikan. Namun, bisa juga dipangkas kembali untuk memenuhi kebutuhan di daerah lain.

“Tergantung kebijakan nanti,” ujarnya.

Pengurangan jatah penggunaan pupuk kimia itu, dalam rangka mengarahkan untuk beralih menggunakan pupuk organik.

Saat ini Pamekasan mendapat jatah sebanyak 2.510 ton pupuk organik. Jatah tersebut tidak terdampak kebijakan realokasi dari Pemprov Jatim.

“Kami sosialiasikan agar lebih banyak menggunakan pupuk organik,” tukas dia

Menurut Deddy, pemerintah daerah tidak bisa berbuat banyak mengenai kebijakan pemangkasan itu. Sebab, kewenangannya murni berada di Pemprov Jatim.

Tetapi, pemkab akan berupaya petani tetap menjalani aktivitasnya secara normal. Meski ada pemangkasan jatah pupuk, tetapi pertanian tetap berjalan normal. Penggunaan pupuk organik tidak kalah bagus dengan pupuk kimia.

“Akan kami sosialiasikan dan petani diberi pembinaan,” pungkasnya. (km45/waw)

ALOKASI PUPUK SUBSIDI

JATAH TAHUN 2017

Urea                : 22.829 ton

SP36                : 5.335 ton

ZA                   : 6.738 ton

NPK                : 3.809 ton

Organik           : 2.592 ton

 

JATAH TAHUN 2018

Urea                : 26.706 ton

SP36                : 5.729 ton

ZA                   : 6.992 ton

NPK                : 4.707 ton

Organik           : 1.896 ton

 

JATAH TAHUN 2019

Urea                : 26.669 ton

SP36                : 5.551 ton

ZA                   : 7.850 ton

NPK                : 5.087 ton

Organik           : 2.510 ton

 

PEMANGKASAN OLEH PEMPROV JATIM

Urea                : 29 ton

SP36                : 108 ton

ZA                   : 25 ton

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *