Pembangunan Masjid Baru Menuai Konflik Tokoh Agama

(WAHID FOR KM) JADI TEGANG: Masyarakat bermusyawarah terkait rencana pembangunan masjid baru di Desa Separah, Kecamatan Galis yang tidak disetujui salah satu tokoh agama.

KABARMADURA.ID | BANGKALAN-Rencana pembangunan masjid baru di Desa Separah, Kecamatan Galis Bangkalan tuai konflik antartokoh agama. Sehingga masyarakat yang mendukung dua belah pihak yang berbeda juga ikut bersitegang.

Pembangunan masjid tersebut tidak mendapatkan respon baik dari sesepuh tokoh agama di Kampung Morjateh, sehingga membuat rencana pembangunan harus ditunda.

Kepala Desa Separah Kecamatan Galis Abdul Wahab menyampaikan bahwa masalah persetujuan berkaitan dengan pembangunan masjid baru itu akan diselesaikan secara kekeluargaan dan musyawarah mufakat mencari solusi tepat. Sehingga kedua tokoh agama dan masyarakat juga dilibatkan.

“Kami akan menyelesaikan masalah ini secara musyawarah dan mencari solusi yang terbaik,” katanya.

Wahab juga berharap, pertemuan tersebut dapat menemukan penyelesaian permasalahan rencana pembagunan masjid di Kampung Morjeteh yang sebelumnya sudah direncanakan oleh Moh Hasyim itu.

Sedangkan Camat Galis Abdul Azis mengutarakan, polemik itu adalah konflik antara Ustaz Hasyim dan K.H. Nurus. Keduanya merupakan tokoh masyarakat Desa Separah.

“Kami Muspika Galis berada di tengah masyarakatnya untuk komitmen menyelesaikan masalah ini, tentu dengan solusi yang baik,” ucap Aziz.

Sedangkan Ustaz Hasyim selalu inisiator pembangunan masjid menjelaskan bahwa pembuatan masjid di Kampung Morjeteh itu hanya bagian dari keinginan masyarakat, karena sudah merasa tidak nyaman dengan sikap KH Nurus.

“Ini atas dorongan masyarakat, jadi saya hanya memberikan fasilitasi saja, karena saya juga ada niatan bsik,” tutur dia.

Selain itu, masjid lama yang sudah ada dan diasuh oleh K.H.Nurus, jaraknya terlalu jauh dari pemukiman warga, sekitar dua kilometer. Sehingga masyarakat banyak yang tidak salat berjemaah, termasuk pemuda, remaja dan semua kalangan.

Masyarakat juga disebu mengeluh tidak nyaman dengan karakter KH. Nurus yang menurut masyarakat agak kasar dan keras.

“Masyarakat merasa tidak cocok, makanya mereka inisiatif untuk membangun masjid lagi,” ucapnya.

Menanggapi hal tersebut, KH Nurus mengklaim bukan tidak setuju akan pembangunan masjid baru tersebut. Tetapi karena tidak ada itikad baik dari tokoh ulama yang merencanakan pembangunan untuk meminta izin atau sekedar memberi tahu rencananya tersebut.

Karena tidak kunjung menemukan solusi dari kedua belah pihak, maka nanti musyawarah akan dilanjutkan dan dilakulan dengan Pengurus Nahdhatul Ulama Kecamatan Galis dan Pengurus Cabang Nahdhatul Ulama Bangkalan

“Kami belum menemukan solusi yang pas, nanti akan kami lanjutkan di rapat NU kecamatan,” ucap KH Nurus.

Reporter: Helmi Yahya

Redaktur: Wawan A. Husna

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

2 Komentar