Pembatik Ungkap Punahnya Batik Khas Sumenep, Data Disperindag Diragukan

  • Whatsapp
(FOTO: KM/IMAM MAHDI) SAYANG SEKALI: Batik khas Sumenep disebut hampir punah, para pembatik hanya membuat batik pesanan yang bukan khas Sumenep.

KABARMADURA.ID | SUMENEP-Pengrajin batik di Sumenep, terutama yang menghasilkan karya batik khas Sumenep, saat ini hampir semuanya gulung tikar. Bahkan, nyaris punah. Data yang ada pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumenep diduga tidak valid. Utamanya batik di Desa Pakandangan, Kecamatan Bluto.

Pengusaha Batik Kharisma Pakandangan Ahmad Ghufron mengungkap tentang punahnya pembatik khas Sumenep itu. Terlebih, saat ini sebagian besar pengusaha batik di Pakandangan gulung tikar. Saat ini tersisa sekitar 20 pengusaha batik di Pakandangan yang hampir mendekati punah.

Bacaan Lainnya

“Saat ini yang asli batik ciri khas Sumenep sangat tidak ada, meski data yang ada di Disperindag itu masih ada diyakini data lama yang tidak di-update,” katanya, Minggu (21/11/2021).

Menurut Ghufron, peran pemerintah dalam melestarikan batik Sumenep sangat nampak pada tahun 1994. Upaya beberapa pemerintahan belakangan ini disebut tidak tampak sama sekali. Bahkan, disebut hanya mendata untuk sekedar memenuhi tugas.

“Kami dari pengusaha dan pengrajin Batik Kharisma di Pakandangan sudah tidak lagi garap batik khas Sumenep, yang digarap sepupu saya hanya batik semi modern yang tidak ada ciri khas Sumenep,” ungkap Ghufron mengenai kepastian tidak adanya karya baru batik khas Sumenep.

Selain macetnya penggarapan batik di Pakandangan, pemerintah disebut tidak peduli terhadap pengrajin batik sekaligus pengusahanya. Ciri ketidakpedulian yang disebut Ghufron,  tidak pernah diadakannya pameran batik khas Sumenep serta melakukan pendampingan terhadap pembatik yang melestarikannya.

“Pemerintah saat ini seolah membiarkan batik luar Sumenep masuk Sumenep dan batik Sumenep sendiri dibiarkan,” ujar dia.

Ada beberapa usaha batik di Pakandangan, seperti batik Melati, Batik Kharisma, Batik Barokah dan lainnya, sudah melupakan garapan batik khas Sumenep.

“Saat ini hanya dapat dihitung jari mengenai usaha batik yang mandiri,” tegasnya.

Dia menceritakan, pada tahun 1990 hingga tahun 2000, ada pembinaan besar-besaran. Saat itu batik Sumenep diklaim maju. Namun, karena banyak masuknya batik dari luar Sumenep, membuat batik Sumenep hampir punah. Hal ini karena adanya tengkulak yang diajak pameran yang menggunakan dana pemerintah.

“Yang dipamerkan oleh pemerintah batik di luar Sumenep, sehingga ketika ada pesanan dari luar daerah, yang maju bukan batik khas Sumenep. Pemerintah seolah enggan dan malu memamerkan batik hasil Sumenep. Yang diprioritaskan, tengkulak,” ucap dia.

Bahkan, Rusna, pengusaha Batik Putri Kembar mengungkap bahwa batik khas Sumenep sudah tidak laku. Kata pembatik asal Pakandangan ini, yang laku saat ini batik luar Sumenep.

Batik Putri Kembar dikenal memiliki banyak pengrajin di kelas batik tulis termurah di Pakandangan. Kini tidak lagi bisa memproduksi kecuali ada pesanan, sehingga tidak memiliki omzet yang pasti. Bahkan dia tidak bisa mempekerjakan pengrajin  setiap hari.

“Kalau ada pesanan dari luar kami garap,” ucap dia.

Sementara Disperindag Sumenep masih mengandalkan batik di Desa Pakandangan Barat Kecamatan Bluto sebagai sentra batik unggulan di Sumenep. Batik di desa itu disebut menghasilkan produk unggulan, baik di sektor industri kreatif maupun dalam kategori karya tekstil.

Sebagaimana dikatakan Kepala bidang (Kabid) Industri Disperindag Sumenep Agus Eka Haryadi, saat ini bermunculan unit-unit usaha batik baru di wilayah lain, seperti  di Desa Langsar, Talango, Batuan, Mandala, Batang-Batang, Pasongsongan, Prenduan dan lainnya.

Menurutnya, ada 500 orang yang bekerja dalam usaha batik tersebut. Saat ini, yang tercakup di Disperindag sebanyak 73 usaha yang sudah mandiri dan dapat mengembangkan usaha sendiri.

Dengan data itu, industri batik di Sumenep diklaim mulai berkembang. Harapan Agus, semua batik tulis di Sumenep dapat tercover di Disperindag Sumenep.

“Pembinaan sudah dilakukan sebagai usaha kami secara terus menerus,” klaim Agus mengenai upaya yang selama ini dilakukan Disperindag Sumenep.

Reporter: Imam Mahdi

Redaktur: Wawan A. Husna

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *