Pemberhentian Dua Siswi yang Kesurupan dan Meracau Gurunya Penyihir Dipersoalkan Legislatif

  • Whatsapp
(FOTO: KM/IMAM MAHDI) TIDAK ADIL: Beberapa anggota legislatif Sumenep menilai, kepala SMAN 1 Batuan tergesa-gesa dalam membuat keputusan.

KABARMADURA.ID, SUMENEP – Pemberhentian dua siswa dari SMAN 1 Batuan masih menyisakan persoalan. Keputusan tersebut dinilai tidak profesional.

Wakil Ketua Komisi IV DPRD Sumenep Siti Hosna menegaskan, orang yang kesurupan tidak dapat dibenarkan pembicaraannya. Maka, keputusan pemberhentian siswa yang dikeluarkan kepala SMAN 1 Batuan sangat tidak adil dan tidak mendidik.

Bacaan Lainnya

“Kepala sekolah perlu belajar lagi, itu tindakan yang kekanak-kanakan,” katanya, Selasa (17/11/2020).

Selain terjadi semacam ketidakadilan terhadap siswanya, dia menilai, bisa jadi karena guru yang disebut siswa sebagai penyihir memang galak terhadap siswanya. Sehingga, selalu ada di pikiran siswanya waktu tidak sadar itu.

Hal senada disampaikan anggota Komisi IV DPRD Sumenep M.Syukri. Ditegaskan, jika siswa memang kesurupan, maka berarti di bawah alam sadar. Maka, sangat tidak masuk akal jika siswi diberhentikan.

“Jadi, hukum mana pun yang namanya orang tidak sadar, tidak boleh dijadikan alat bukti. Jangan sampai siswa maupun siswi menjadi korban karena tidak sesuai dengan aturan yang ada. Jadi, perbuatan yang keburu-buru tanpa berpikir seharusnya tidak dilakukan oleh kepala sekolah itu,”  tukasnya.

Sebelumnya, Kepala SMAN 1 Batuan Sumenep Salehoddin mengatakan, terpaksa mengeluarkan dua siswi itu karena menuduh disihir oleh gurunya sendiri. Guru yang dimkasud adalah Ahmad Fauzil.

Ahmad Fauzil yang tinggal di Desa Pabian, Sumenep itu, merupakan guru senior yang saat ini mengajar Bahasa Daerah dan IPA.

“Tuduhan tersebut dilakukan berulang ulang di rumah saya,” papar Salehoddin.

Sementara itu, Agus Efendi, salah satu wali siswi yang dikeluarkan dari sekolah, mengatakan bahwa saat ini masih dalam proses menunggu surat terima dari sekolah baru. Pihaknya sudah menerima keputusan itu dan memutuskan pindah ke sekolah lain, yakni SMAN 2 Sumenep.

Namun sembari menunggu surat teruna, kegiatan sehari-hari siswi itu masih nganggur. Harapannya, putrinya cepat kembali bersekolah. Sebab, saat ini sudah hampir ujian yang rencananya akan diadakan pada 23 November 2020 mendatang.

“Sambil lalu pemulihan anak, menunggu surat dari SMAN 2 Sumenep,” ungkapnya. (imd/waw)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *