Pemesanan Alat Lamban, Pengoperasian RDU di Bangkalan Molor

(FOTO: KM/FATHURROHMAN) OPTIMIS: Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bangkalan memprioritaskan penanganan pengelolaan sampah di wilayah kota. 

KABARMADURA.ID | BANGKALAN -Hingga saat ini belum ada solusi efektif dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) tentang pengelolaan sampah secara optimal. Sebab perencanaan Rumah Daur Ulang (RDU) yang seharusnya beroperasi, masih tahap pelatihan teknisi. Hal ini diungkapkan Aktivis Lingkungan Bangkalan Arifin, Rabu (1/12/2021).

Menurutnya, tahun ini semestinya RDU sudah beroperasi dan di 2022 hanya fokus menambah Tempat Pengolahan Sampah Reduce Reuse Recycle (TPS3R) di setiap kecamatan. Sebab upaya pengelolaan sampah harus diseimbangkan. Baik dengan kesadaran masyarakat maupun kedisiplinan petugas.

“Jika tidak, maka akan kembali terulang tumpukan sampah yang terjadi beberapa hari lalu. Kalau masyarakatnya tidak mau sadar, petugas akan kewalahan, begitupun sebaliknya. Jika petugas kewalahan, maka mereka akan berat mengerjakannya,” ujarnya.

Bacaan Lainnya

Pihaknya mengajak, agar DLH membentuk tim sosialisasi dan pengawas. Sehingga selain petugas kebersihan, pemerintah juga harus menggandeng beberapa tim yang kompeten mengenai hal tersebut. “Setidaknya ini harus ada tindak lanjutnya, sosialisasi dan pengawasan yang sekarang harus dipikirkan,” tuturnya.

Sementara itu Kepala DLH Bangkalan Anang Yulianto mengaku, keterlambatan operasional RDU disebabkan oleh molornya datangnya alat. Sehingga belum bisa memulai operasional. Selain itu, para teknisi yang ditugaskan juga masih harus menjalani pelatihan. Sebab pengolahannya juga membutuhkan teknisi.

“Sebanyak 8 pegawai diberangkatkan dan menjalani pelatihan selama seminggu. Ini pegawai kami juga baru diberangkatkan, nanti setelah seminggu mereka akan siap mengoperasikannya,” responnya.

Anang juga menyebutkan, jika nanti RDU sudah beroperasi beban pembuangan di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) akan berkurang. Sebab setelah dipilih di TPS3R akan diproses di RDU. Sehingga yang tersisa hanya residu. Pihaknya juga berencana, selain mengkaji lahan TPA baru, tahun 2022 akan giat menambah TPS3R baru.

Sehingga nanti beban TPA tidak banyak dan tidak akan terjadi penimbunan. Sebab jika TPS3R sudah selesai, maka pengolahan diselesaikan di RDU. “Nanti ini bisa mengurangi beban pembuangan ke TPA, hingga sampah di sekitar kota bisa jadi nol. Kami ingin 2022 Lebih banyak lagi TPS3R, jadi pengolahan mulai hulu hingga hilir bisa lancar,” jelasnya.

Indikasi Molornya Pengoperasian RDU

  • Pemesanan alat khusus RDU lambat
  • Teknisi masih mengikuti pelatihan selama seminggu
  • Sebanyak 8 teknisi untuk mengoperasikan RDU

Reporter: Helmi Yahya

Redaktur: Totok Iswanto

Tinggalkan Balasan