oleh

Pemimpin Sontoloyo

Oleh: Muhammad Aufal Fresky*

Sudah tidak asing lagi di hadapan kita, ketika musim pemilihan kepala daerah (pilkada), banyak calon pejabat yang bermuka manis. Tidak hanya itu, mereka menawarkan harapan tinggi dan janji manis. Bahkan, tidak jarang yang memainkan politik uang di masa kampanye. Seolah-olah semua rakyat bisa dibeli suaranya. Padahal, cara-cara semacam itu hanya akan meruntuhkan sendi-sendi demokrasi yang telah lama kita bangun. Rakyat Indonesia tidak butuh pemimpin yang hanya tampil ke muka ketika ada maunya. Rakyat butuh pemimpin yang selalu ada dalam kondisi apa pun. Karena faktanya, sebagian calon pemimpin ketika terpilih menjadi pemimpin, mereka lupa terhadap janji-janjinya.

Sebagian pemimpin kita lebih mendahulukan kepentingan pribadi dibandingkan kepentingan orang banyak. Mungkin mereka lupa bahwa yang namanya kekuasaan adalah amanah dari rakyat. Pejabat pemerintah merupakan pelayan masyarakat. jangan sebaliknya; justru bertindak seolah-olah majikan dan rakyat adalah babunya. Bagaimanapun juga, di negara demokrasi ini, kedaulatan tertinggi ada di tangan rakyat. Mestinya, para pemimpin tersebut sadar diri bahwa tanggung jawabnya sangat besar. Apalagi saat ini, masyarakat sedang dihadapkan pada kondisi pandemi Covid-19, yang mana telah mengacak-ngacak tatanan sosial dan ekonomi masyarakat. Regulasi, kebijakan, dan program dari pemerintah sangat dinantikan oleh masyarakat. Diharapkan bisa membantu masyarakat; atau setidaknya bisa sedikit meringankan beban yang dihadapi masyarakat. lebih-lebih masyarakat kecil kesulitan secara ekonomi. Celakanya, sebagian pejabat justru bermain-main dengan kekuasaan. Lihat saja, sudah berapa banyak pejabat kita yang tertangkap oleh KPK karena kasus korupsi. Sungguh miris saya melihatnya. Di tengah pandemi Covid-19, masih saja ada yang tega mengambil uang negara.

Apakah pemimpin-pemimpin kita hanya mementingkan egoisme pribadi saja? Entahlah. Saya percaya, bahwa masih banyak pemimpin kita yang amanah dan bertanggung jawab. Hanya karena ulah beberapa pemimpin yang korup, para pemimpin yang baik tersebut seolah-olah tidak kelihatan. Sementara itu, hari demi hari kita disuguhkan pemberitaan mengenai kasus-kasus korupsi. Ini sangat bertolak belakang dengan sumpah jabatan yang mereka ucapkan sebelum resmi menjadi pemimpin. Padahal, memimpin sejatinya adalah mengabdi dan melayani.  Ironinya, sebagian pejabat kita justru terjebak pada kekuasaan yang mereka genggam. Seakan-akan kekuasaan tersebut merupakan tujuan utamanya. Padahal, kekuasaan hanyalah jalan untuk mewujudkan cita-cita dan harapan masyarakat.

Saya pun mengamati, berbondong-bondong orang yang mencalonkan diri menjadi pemimpin. Mereka berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Sebagian calon memiliki hubungan kekerabatan dengan pejabat yang sedang memerintah saat ini. Baik di level pusat, maupun daerah. Bagi saya itu hal yang wajar. Karena memang, kekuasaan memiliki daya tarik tersendiri bagi setiap orang yang mendambakannya.  Hanya saja, jjangan sampai lupa, kekuasaan bukanlah satu-satunya jalur untuk mengabdi pada nusa dan bangsa. Artinya, jika memang nantinya tidak dipilih oleh rakyat, jangan sampai mengenndurkan semangatnya untuk berbakti kepada Tanah Air. Bagi yang terpilih, siap-siaplah untuk berdedikasi sepenuh hati kepada masyarakat. Karena akhir-akhir ini, semakin samar antara pejabat yang baik dan mana pejabat yang pura-pura baik. Ada yang pandai bersilat lidah, tapi nyatanya “nyolong” uang rakyat. Kepercayaan rakyat semakin menurun. Bahkan, bisa dikatakan hampir hilang. Mari kita sepakati, pemimpin yang gemar berbohong dan hobi mencuri uang negara kita sebut sebagai “pemimpin sontoloyo”.

Pemimpin sontoloyo ini adalah orang-orang yang hanya menjadikan politik dan kekuasaan sebagai alat untuk memperkaya diri. Nafsu pribadi mereka jauh lebih dinomorsatukan dibandingkan tanggung jawab untuk melayani masyarakat. Biasanya, pemimpin sontoloyo sudah tidak lagi peduli dengan norma agama, apalagi norma hukum. Dengan Tuhan saja mereka tidak takut, apalagi dengan manusia. Bahkan, ada yang masih berpose santai ketika digeledah oleh KPK. Seperti orang yang sama sekali tak ada salah. Padahal, milyaran uang negara diambilnya. Kita tidak mengharapkan semakin banyak pemimpin yang kebelinger; pemimpin yang semaunya sendiri; sewenang-wenang dalam mengambil kebijakan. Pemimpin semacam itu jangan sampai dipilih lagi. Karena bagaimanapun juga, rakyat kadang mudah tergiur oleh godaan uang yang diberikan oleh timsesnya ketika menjelang pemilihan. Ironinya, pemimpin yang terpilih melalui jalur politik uang sering merampok uang negara. Karena logikanya, mereka telah keluar banyak modal, dan ingin balik modal. Atau bisa jadi karena serakah alias rakus terhadap dunia. Jadi sebesar apa pun gaji dan tunjangannya, seolah tidak bisa memenuhi keinginannya yang tak terbatas. Manusia-manusia semacam itu biasanya selalu mencari celah bagiamana cara yang efektif dan efisien untuk memuaskan hasrat pribadinya. Licik dan biadab memang. Kita tak bisa lagi mempercayai pemimpin sontoloyo. Karena jika semua pemimpin di Indonesia bersikap semacam itu, bisa hancur negara ini.

Terakhir, saya berharap kepada kaum muda agar proaktif untuk mencegah hadirnya pemimpin sontoloyo. Jika sudah terlanjur terpilih, kita bisa mengkritisi aturan, kebijakan, dan program yang ngawur. Karena pada dasarya pemimpin sontoloyo tidak berpihak kepada rakyat. Kita tidak bisa menaruh harapan besar kepada mereka. Karena mereka biasanya  mengutamakan kepentingan dirinya sendiri. Bagi mereka, urusan rakyat bukan menjadi urusan utama. Bagi pemimpin sontoloyo, kepentingan negara bukan hal yang utama. Hati dan pikiran mereka hanya fokus pada bagaimana mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Ketika terpilih menjadi pemimpin masyarakat, saat itu pula masyarakat disingkirkan. Begitulah karakter pemimpin sontoloyo. Mereka gila harta dan jabatan. Mari kita cegah sedini mungkin agar pemimpin kita tidak ada yang keblinger. Salah satu caranya yaitu dengan cara memilih pemimpin yang jelas rekam jejaknya dan jangan mudah terpengaruh politik uang. Terakhir, semoga pemimpin sontoloyo yang terlanjur dipilih bisa segara sadar; kemudian kembali ke jalan yang lurus.

 

*) Pegiat literasi asal Desa Klampar, Pamekasan

 

Komentar

News Feed