Peminat Program Sekolah Penggerak dik Sumenep Minim

  • Whatsapp
(FOTO: KM/MOH RAZIN) DILATIH: Sejumlah guru dan kepala sekolah saat mengikuti program sekolah penggerak mengikuti pelatihan di Sumenep. Tahun ini jumlah peminat program sekolah penggerak minim.

KABARMADURA.ID | SUMENEP -Jumlah sekolah yang bakalan lolos sebagai sekolah penggerak diyakini lebih banyak dari angkatan pertama. Kendati jumlah pendaftar lebih sedikit namun peserta dipastikan oleh Dinas Pendidikan (Disdik) Sumenep lebih matang dari angkatan sebelumnya.

Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan dan Ketenagaan Disdik Sumenep Sunarto mengutarakan, pada tahap kedua sekolah penggerak lebih optimis akan lebih banyak yang bakal lolos seleksi. Saat ini sekolah yang mendaftar lebih mempersiapkan diri dan sudah matang dalam persiapannya.

Bacaan Lainnya

“Sebab kan yang tahap pertama sudah memberikan gambaran untuk sekolah di sekitarnya, bagaimana mekanisme sekolah penggerak,” katanya, Senin.

Dijelaskannya, pemerintah pusat mengapresiasi dengan menunjuk Sumenep sebagai satu-satunya menjadi pilot project sekolah bergerak di Madura. Dengan beberapa sampel sistem sekolah yang dinilai inovatif. Namun hanya beberapa sekolah yang meminati program tersebut.

Sekolah yang mendaftar di angkatan kedua itu belum dinyatakan final menjadi pelopor sekolah penggerak. Sebab, masih harus melalui seleksi-seleksi dan verifikasi sebelum dinyatakan lolos sebagai sekolah penggerak.

“Yang diajukan harus diseleksi oleh pemerintah pusat. Setelah ditetapkan sebagai pelaksana program sekolah penggerak tentu dibekali materi program melalui workshop program sekolah penggerak, tetapi saya yakin jumlahnya lebih banyak yang akan lolos nanti,” kata Narto.

Dia menyebut, pada angkatan pertama dari 800 sekolah yang diajukan ternyata hanya 122 sekolah yang dinyatakan masuk tahap kedua, finalnya hanya 53 sekolah yang lolos sebagai sekolah penggerak. Sementara untuk tahun ini sekolah yang diajukan menjadi sekolah penggerak hanya 150 sekolah.

Sementara itu, semakin sedikitnya peminat terhadap sekolah penggerak, menurut salah satu kepala sekolah yang lolos sebagai sekolah penggerak lantaran banyaknya sekolah yang tidak percaya dengan konsistensi program tersebut.

“Ikut pelatihan selama 10 hari hanya diganti Rp150 ribu padahal dikabarkan 1 hari yang Rp150 ribu. Akan dapat dana Rp175 juta turun menjadi Rp100 juta, sementara yang SD malah jadi Rp70 juta apa kalau tidak salah,” kata MM (inisial) salah satu kepala sekolah di Sumenep.

Reporter: Moh Razin

Redaktur: Mohammad Khairul Umam

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *