Pemkab Bangkalan Batalkan Asrama UTM Jadi Rumah Karantina Pasien Covid-19

  • Whatsapp
(FOTO: KM/dokumen) JADI LEGA: Lokasi kurang strategis dan harus membuka jalan baru untuk keluar masuk ambulans membuat asrama UTM dibatalkan jadi rumah karantina pasien Covid-19.

KABARMADURA ID, BANGKALAN-Usaidikunjungi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur (Jatim), asrama mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura (UTM) batal dijadikan sebagai rumah karantina pasien Covid-19. Alasannya lokasi yang kurang strategis dan harus membuka jalan baru untuk keluar masuk ambulans.

Humas Satgas Covid-19 Bangkalan Agus Zein mengatakan, pembatalan tersebut merujuk hasil peninjauan wakapolda Jawa Timur bersama Plh. sekdaprov Jawa Timur pada Senin (14/6/2021) lalu. Termasuk hasil evaluasi dari Pemprov Jatim bersama Satgas Penanganan Covid-19 Bangkalan.

Pemanfaatan rest area Suramadu dinilai lebih efektif dan efisien. Sebab aksesibilitasnya lebih memadai. Sehingga sampai saat ini, karantina masih terkonsentrasi di gedung BPWS tersebut.

“Pembatalan ini murni karena alasan ini, bukan faktor lainnya,” terangnya, Senin (21/6/2021).

Selain itu, pembatalan juga lantaran masih memerlukan pembangunan jalan baru sebagai akses masuk ke asrama mahasiswa UTM. Sementara jika menggunakan jalan utama, akan mengganggu aktivitas mahasiswa.

Lelaki yang juga menjabat sebagai kepala Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) Bangkalan itu menuturkan, tempat isolasi difokuskan di lima titik sebelumnya, yakni gedung Balai Diklat, Balai Latihan Kerja (BLK), Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Syamrabu, gedung BPWS Suramadu sisi Bangkalan dan Ruko Petapan. Semuanya di Bangkalan.

Sebelumnya, mahasiswa UTM menolak rencana memfungsikan asramanya untuk tempat isolasi pasien Covid-19 kategori orang tanpa gejala (OTG). Bahkan penolakan melalui aksi demonstrasi pada Senin (21/6/2021) itu, juga diwarnai dengan ancaman akan demo besar-besaran jika kebijakan tersebut tidak dibatalkan.

Mahasiswa tidak setuju dengan alasan tidak bisa leluasa keluar masuk kampus dan memaksimalkan sarana yang ada di kampus sebagaimana mestinya. Sebab, mereka harus meminimalisir interaksi dengan petugas medis ataupun pasien yang berada di kampus.

Selain itu, jika asrama UTM dijadikan sebagai rumah sakit darurat Covid-19, dinilai akan berdampak pada rentannya penyebaran wabah Covid-19 dan area sekitar. Sementara masyarakat dan mahasiswa masih perlu melakukan aktivitas di area sekitar kampus. Hal tersebut juga akan berimbas pada kesehatan dan perekonomian masyarakat sekitar. (ina/waw)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *