oleh

Pemkab Pamekasan Kewalahan Sediakan Ruang Isolasi untuk Menampung Pasien Covid-19

Kabarmadura.id/Pamekasan–Terus meningkatnya jumlah pasien Covid-19 di Kabupaten Pamekasan, mendapat sorotan dari berbagai kalangan. Ketua Forum Kota (Forkot) Pamekasan Syamsul Arifin menilai, pemerintah kewalahan dalam menangani jumlah pasien Covid-19 yang terus meningkat.

Dia merinci, di Kabupaten Pamekasan terdapat 89 tempat tidur di seluruh rumah sakit rujukan di wilayah setempat. Rinciannya, Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. Slamet Martodrdjo (RSUD SMart) Pamekasan sebanyak 26 tempat tidur, dengan jumlah kamar 14 kamar.

Sementara itu, Rumah Sakit Umum dr. Mohammad Noer (RSMN) Pamekasan memiliki sembilan kamar dengan sembilan tempat tidur. Kemudian, RSUD Waru memiliki 24 tempat tidur, dan gedung Islamic Center sebagai tempat observasi disediakan 30 tempat tidur.]

Menurutnya, berdasar data terbaru peta persebaran Covid-19 di Jawa Timur, di Kabupaten Pamekasan terdapat 104 pasien dalam pengawasan (PDP) dan dan 109 orang terinfeksi Covid-19 dengan rincian 67 orang sedang dirawat, 20 orang meninggal dunia dan 22 orang dinyatakan sembuh.

Ironisnya lanjut dia, dari 67 orang yang sedang dirawat sebagian besar menjalani perawatan serta isolasi mandiri di rumah. Dia mengenaskan, jumlah tersebut tidak sebanding dengan ketersediaan ruang isolasi dan tempat tidur di rumah sakit rujukan.

Dia meminta pemerintah dapat menjadikan hal ini sebagai atensi untuk meningkatkan kualitas pelayanan terhadap pasien, mengingat dana yang dikucurkan Pemkab untuk penanganan Covid-19 di Kabupaten Pamekasan tidak sedikit.

“Jumlah tersebut jelas tidak sebanding dengan jumlah bed dan kamar isolasi yang disediakan pemerintah, saya harap pemerintah bisa menjadikan hal ini sebagai suatu hal yang serius,” ungkapnya, Senin (28/6/2020).

Di lain pihak, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Pamekasan Achmad Marsuki menjelaskan, pihaknya turut merasa kesulitan dalam mengedukasi masyarakat agar mau mengisolasi diri di rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.

Menurutnya, banyak dari PDP yang enggan diisolasi di rumah sakit dikarenakan mereka tergolong orang tanpa gejala (OTG). Hal itulah yang menurutnya mejadi alasan kenapa banyak PDP yang tidak terakomodir di rumah sakit rujukan.

Dia mengaku terus berusaha mengedukasi masyarakat agar mau menjalani isolasi di rumah sakit. Hal itu dilakukan agar mendapatkan perawatan intensif serta mencegah penularan virus terhadap orang-orang terdekatnya.

“Kami masih terus berusaha untuk mengedukasi masyarakat agar mau mengerti terhadap prosedur penanganan Covid-19, serta mau menjalani isolasi di tempat-tempat yang telah disediakan,” tutupnya. (ali/pin)

 

Komentar

News Feed