Pemkab Rencanakan ASN Berbatik Pamekasan

  • Whatsapp

Kabarmadura.id – Batik Pamekasan sempat mencapai puncak kejayaannya pada medio 2009 hingga 2012. Kini, kejayaan batik tulis dengan ciri khas warna mencolok itu seakan hilang gaungnya. Para pengrajin hingga pengusaha mulai berkeluh kesah, lantaran batik tulis warisan leluhur mereka mulai kehilangan pangsa pasar.

Abd. Salam (25), salah satu pengrajin sekaligus pengusaha batik tulis asal Desa Klampar, Kecamatan Proppo, Pamekasan mengatakan, saat ini para pengrajin dan pengusaha batik harus berjuang sendiri untuk tetap bertahan dalam pangsa pasar batik.

Dia mengatakan, selain mulai kehilangan pangsa pasar akibat mudah masuknya batik cap dari luar daerah yang tidak terkontrol. Pengrajin juga dihantui oleh merosotnya omset penjualan, yang berakibat pada semakin tingginya modal yang harus dikeluarkan.

Tak sedikit pengrajin dan pengusaha batik yang terpaksa gulung tikar. Melonjaknya harga bahan dasar batik, tidak diimbangi dengan omset penjualan yang kalah bersaing dengan batik-batik luar, dengan harga lebih murah di pasaran.

Salam, sapaan akrab Abd Salam, mengatakan kini para pengrajin dan pengusaha batik kecil mengaku bingung, untuk mencari cara memecahkan persoalan minimnya daya jual batik tulis Pamekasan.

Pemerintah Kabupaten Pamekasan pun seakan tutup mata dengan kondisi pengrajin dan pengusaha batik skala kecil di bawah. Padahal, harapan satu-satunya para pembatik adalah peran serta pemerintah dalam memberikan pendampingan kepada mereka.

“Sudah pembeli batik tulis sepi, banyak batik cap dari luar daerah yang masuk dengan bebas dan tanpa kontrol dari pemerintah, padahal hal itu yang membuat batik kita anjlok,” keluhnya. Selasa (2/10).

Dijelaskan Salam, pendampingan pemerintah terhadap pengrajin batik dengan skala kecil di Pamekasan sangat minim. Dia menuturkan, jika selama beberapa tahun meneruskan usaha dari orang tuanya, tidak sekalipun dirinya mendapat pendampingan dari pemerintah kabupaten.

Padahal di tengah merosotnya daya jual batik di pasaran. Peran pemerintah sangat penting untuk memberikan solusi atas masalah yang dialami para pengrajin batik tulis. Sejauh ini, para pengrajin batik berjalan sendiri untuk tetap mempertahankan industri turun temurun itu.

“Pendampingan dari pemerintah tebang pilih. Hanya segelintir pengusaha batik dengan skala besar yang mendapat pendampingan dari pemerintah.,” katanya.

Bupati Pamekasan, Baddrut Tamam mengatakan, pihaknya kini tengah getol mencari sumber mandeknya usaha batik Pamekasan di pasaran. Selain tidak adanya tepat di pangsa pasar, inovasi untuk mengangkat salah satu produk industri unggulan masih sangat minim.

Dia juga mengatakan, sejauh ini beberapa perajin juga mengeluhkan kendala modal dan pemasaran. Akibat kondisi tersebut pelestarian batik Pamekasan pun seret. Sebab, tidak bisa dipungkiri, perkembangan batik sangat dipengaruhi oleh pangsa pasar.

“Beberapa inovasi sudah kita siapkan untuk mengangkat kembali batik tulis Pamekasan,” terangnya.

Bahkan menurut bupati yang baru dilantik pada akhir September lalu itu, pemkab berencana akan kembali mewajibkan ASN untuk memakai batik Pamekasan. Pihaknya juga sedang mewacanakan untuk membranding mobil dinas di lingkungan Pemkab Pamekasan dengan batik.

“Harapannya agar bisa mendorong kreativitas para perajin batik dan warga Pamekasan untuk bisa cinta batik Pamekasan,” pungkasnya. (pin/nam)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *