Pemkab Sampang Mulai Tutup Seluruh Objek Wisata

  • Whatsapp
(KM/SUBHAN) ANTISIPASI: Kegiatan usaha pariwisata dan RSUD di Sampang ditutup sementara, tidak menerima pengunjung selama beberapa hari ke depan.

Kabarmadura.id/Sampang-Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sampang akhirnya menutup sementara dan melakukan pengawasan terhadap pengunjung objek wisata di Sampang selama beberapa hari ke depan.

Plt Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Sampang Imam Sanusi mengatakan, para pengelola usaha pariwisata di Sampang telah diminta untuk menutup sementara aktivitasnya. Penutupan itu untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di Sampang dan percepatan penanganannya.

Penutuoan itu meliputi, pengelolaan destinasi wisata rekreasi, hiburan dan taman wisata serta melakukan pengawasan ketat terhadap tamu hotel dan restoran.

“Kalau terkait resiko terhadap pendapatan pengelola, karyawan, sudah jadi konsekuensi yang harus kita terima bersama demi kebaikan bersama, yakni untuk memutus mata rantai dan meningkat kewaspadaan penyebaran Covid-19,” ucap Imam Sanusi kepada Kabar Madura, Minggu (22/3/2020).

Keputusan itu, menindaklanjuti Surat Keputusan (SK) Gubenur Jawa Timur nomor 188/108/KPTS/013/2020, tentang status keadaan darurat bencana wabah Covid-19, yang dilanjutkan dengan imbauan Pemkab Sampang nomor 556/240//434.202/2020 tentang penutupan sementara dan pengawasan pengunjung usaha destinasi selama beberapa hari ke depan.

Imam menegaskan, penutupan itu terhitung mulai 20 Maret atau sejak surat edaran dikeluarkan, hingga 31 Maret mendatang dan atau menunggu perkembangan lebih lanjut.

Usaha pariwisata yang ditutupan tersebut, meliputi Pantai Wisata Camplong, Lon Malang, Hutan Kera Nipa, Kafe Talon, Gua Lebar, Kolam Renang Nurcahya dan lain sebagainya. Sedangkan peningkatan pengawasan pengunjung, yakni di Hotel Camplong, Hotel Rahmad, Bahagia, Panglima, Semilir dan PKPRI Sampang.

Tetapi pihaknya mengaku tidak tahu apa yang harus dilakukan oleh pengelola wisata selama penutupan berlangsung, meskipun kebijakan penutupan itu otomatis dampaknya juga kepada pendapatan karyawan dan PKL serta masyarakat yang ada di lokasi wisata tersebut.

“Ia mau gimana lagi, upaya penutupan usaha pariwisata ini harus kita lakukan demi kebaikan bersama. Kami sampai saat ini belum menemukan solusi terkait pendapatan PKL dan karyawan selama ada penutupan ini,” ujarnya.

Terpisah, Direktur RSUD Mohammad Zyn Sampang dr Titin Hamidah mengatakan, mulai Senin 16 Maret 2020, pihaknya sudah memberlakukan pelarangan atau tidak memperkenankan pembesuk/mengunjungi pasien. Hal itu, juga sebagai upaya meningkatkan kewaspadaan penyebaran Covid-19 di wilayah itu.

Terkait jangka waktu larangan membesuk pasien di RSUD terbesar di Sampang itu, wanita yang akrab disapa Titin itu mengaku  belum tahu. Namun pihaknya akan terus melihat situasi dan kondisi serta menunggu intruksi dari pemerintah.

“Yang dilarang ini kunjungan dari keluarga, kalau untuk pasien tetap ada yang menunggu, satu orang per pasien, kami harap masyarakat bisa memaklumi, ini semua dilakukan sebagai upaya peningkatan kewaspadaan penyebaran virus corona yang membayakan ini,” singkatnya. (sub/waw)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *