Pemkab Sumenep Berencana Usulkan Kesenian Sintung Jadi WBTB

KABARMADURA.ID | Banyak orang yang tidak mengetahui keberadaan kesenian tari bercorak islami yang bernama Sintung. Kesenian yang hanya ada di Desa Tambaagung, Kecamatan Ambunten, sampai saat ini masih eksis dan diperkirakan memasuki generasi ke-8. Bahkan..

MOH. RAZIN, SUMENEP

Kesenian Sintung bernuansa tarian spiritual ini berasal dari Asia Tengah, yaitu semenanjung Arabia. Kesenian ini dibawa oleh para pedagang Gujarat (India), bersamaan dengan misi mereka yaitu menyebarkan agama Islam. Bermula dari arah aceh, perjalanan kesenian ini terus menuju ke arah timur Pulau Jawa, dan akhirnya sampai ke  timur daya Pulau Madura.

Bacaan Lainnya

Terkait hal itu, Bupati Sumenep Achmad Fauzi berencana mengusulkan Sintung agar masuk daftar  Warisan Budaya Tak Benda (WBTB). Sehingga harapannya, pelestariannya lebih mudah karena mendapat perhatian langsung dari pemerintah.

“Nanti akan kami usulkan di warisan tak benda, sehingga pelestariannya bisa dimaksimalkan,” kata Fauzi.

Kesenian Sintung diperkirakan setua pesantren di Kampung Parongpong, Kecamatan Rubaru. Pesantren ini diperkirakan berdiri sekitar abad kedelapan belas. Di pesantren Parongpong, Kecamatan Rubaru, inilah Sintung diajarkan kepada para santri.

Kebetulan di antara para santri tersebut ada yang berasal dari Desa Tambagung Barat, yang secara kebetulan mempunyai hubungan kekerabatan. Sehingga lahirlah generasi muda yang mempunyai kesenangan terhadap tarian spiritual tersebut. “Tarian ini penuh makna, maka akan kami coba perhatikan,” imbuhnya.

Dijelaskannya, Sintung dapat diartikan sebagai refleksi jiwa, ungkapan kegembiraan yang diekspresikan dengan cara mengangkat kaki, bergembira ria sambil melompat-lompat disertai pembacaan shalawat.

Setiap gerak pada tarian itu sebagai seni menyatu pada satu zat yang menguasai alam semesta, yaitu Sang Maha Pencipta, meskipun pada setiap gerakan dan suara yang dibunyikan tidak semua orang mengerti dan mengetahui maknanya. Hanya orang-orang tertentu saja atau paling tidak para pelaku atau penggemarnya.

 

Redaktur: Muhammad Aufal Fresky

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.