Pemuda Perlu Melestarikan Pakaian Tongkos Khas Bangkalan

  • Whatsapp
(FOTO: KM/HELMI YAHYA) PERLU DILESTARIKAN: Tongkos menjadi salah satu pakaian khas Bangkalan peninggalan leluhur di zaman kerajaan.

KABARMADURA.ID | Melestarikan budaya leluhur tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah selaku pengambil kebijakan. Setiap orang berhak berpartisipasi dalam melestarikan budaya lokal. Seperti menjaga keaslian budaya tongkos, sejenis pakaian khas Madura yang sudah dipakai sejak zaman kerajaan di Madura.  

HELMY YAHYA, BANGKALAN

Tongkos sendiri merupakan pakaian yang berbahan dasar kain batik. Pakaian tersebut awal pembuatannya berasal dari ide salah satu kesatria kerajaan yang pernah melihat dua sosok cumi sedang bersama pada malam hari. Sehingga bentuk ujung tongkos juga mencerminkan bentuk tersebut.

Sementara itu, budayawan Bangkalan Muhammad bin Rahmad mengungkapkan, proses pengerjaan tongkos bervariatif. Menurutnya, tongkos yang biasa dipakai untuk kebutuhan sehari-hari, paling cepat pengerjaannya satu hari. Tetapi, jika tongkos yang digunakan untuk acara atau kegiatan kebudayaan, membutuhkan waktu lebih lama, sekitar lima hari atau bahkan satu pekan. 

“Yang membuat lama yakni proses lipatan yang berada di bagian depan, semakin lama ditahan lipatannya, semakin kuat,” ucap pria yang kerap disapa Aang itu. 

Ia juga mengatakan, kain untuk pembuatan tongkos diambil dari Bangkalan, agar menimbulkan rasa kebanggan kepada kebudayaan lokal. Selain itu, agar penggunaan kain lokal lebih diprioritaskan. 

Pria berusia 32 itu menambahkan, bahwa dirinya telah lama membuat tongkos. Bahkan sering dipercaya membuatkan tongkos untuk bupati dan pejabat daerah. Selain itu, banyak mahasiswa yang datang untuk mengamati dan belajar proses pembuatan tongkos.

“Saya dengan senang hati membantu, ini juga upaya saya untuk melestarikan warisan leluhur,” terang Aang.

Baginya, memiliki kemampuan dan kepercayaan dari leluhur bukan sesuatu hal yang mudah. Sebab, ia mengaku bertanggung jawab melanjutkan kepada generasi selanjutnya dengan memilih pemuda yang tepat. “Awalnya memang saya kira harus memilih, tetapi jika pilihan yang ada sedikit, maka lebih baik diperluas dengan bekal yang cukup,” urainya.

Ia menginginkan semangat dan cinta terhadap budaya leluhur seperti tongkos harus tetap dihidupkan. Ia berharap pemuda menjadi bagian dari pelestari budaya lokal. “Jadi pengguna boleh,  jadi pembuat boleh, apa saja, mari saling mendukung,” imbau Aang.

Reporter: Helmi Yahya

Redaktur: Muhammad Aufal Fresky

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *