Penanganan Kasus Penembakan Diragukan

  • Whatsapp

Sudah Kehilangan Jejak Salah Satu Pelakunya

PAMER: Kapolres Sampang AKBP Budi Wardiman menunjukkan foto senpi yang digunakan tersangka dalam kasus penembakan anggota PPS.

Kabarmadura.id-Ikatan Alumni Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata (IKABA) meragukan keseriusan penanganan kasus penembakan terhadap Subaidi, yang juga anggota IKABA. Alasannya, sampai saat ini, polisi belum berhasil menangkap tersangka berinisial HA, penjual senjata api yang digunakan menembak korbannya.

Padahal sebelumnya, Kepolisian Resor (Polres) Sampang telah memampang identitas HA, penjual senjata api yang saat ini menjadi DPO kasus penembakan warga Desa Tamberu Timur, Kecamatan Sokobanah, Sampang pada November 2018 lalu.

Hal tersebut dibenarkan juru bicara IKABA Salim Segaf, bahwa pihaknya kini mulai meragukan keseriusan polisi dalam mengungkap kasus tersebut.

Dalam analisa Salim, polisi terkesan lamban dalam mengungkap kasus senpi. Padahal, dalam kasus dugaan ujaran kebencian menjelang pelaksanaan PSU Pemilukada Sampang beberapa waktu lalu, polisi betul-betul sigap.

“Kami mulai meragukan keseriusan polisi dalam penuntasan kasus senpi ini, dan publik pun kami rasa juga demikian, karena penangkapan HA tak semudah saat melakukan penangkapan dalam kasus ujaran kebencian meski orangnya sama,” katanya.

Semestinya, kata Salim, Polres Sampang harus lebih agresif dalam menangani kasus ini, karena sudah jadi perhatian nasional. Tidak hanya itu, kasus penembakan Subaidi hingga tewas, diakuinya menjadi duka seluruh IKABA se-Indonesia.

“Semoga kecurigaan publik bahwa polisi main mata dan masuk angin serta melindungi DPO tidak terbukti. Dan kami janji akan terus mengawal kasus ini. Kami juga meminta polisi lebih profesional dalam penanganan kasus ini,” tambahnya.

Sementara itu, Kapolres Sampang AKBP Budi Wardiman mengaku, hingga kini masih mengejar pelaku. Diperkirakan, keberadaan HA sudah tidak lagi berada di Pulau Madura.

“Anggota belum dapat, informasinya HA sudah di luar Madura, makanya kami pantau terus,” katanya.

Alasan lamanya penangkapan HA, karena kasusnya tidak sama saat ujaran kebencian. Sehingga HA mempunyai cukup waktu untuk melarikan diri.

“Berbeda saat penangkapan HA dalam kasus dugaan ujaran kebencian, HA saat itu belum merasa kalau masuk dalam perkara tersebut, sehingga kami leluasa menangkap. Nah kalau yang kasus senpi, setelah pemembakan Subaidi oleh Idris, kan baru beberapa hari terungkap soal asal senpinya, jadi ada jeda HA melarikan diri. Saat mengetahui senpi itu awalnya milik HA, kami langsung geledah rumahnya, ternyata HA sudah tidak ada,” tambahnya. (awe/waw)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *