oleh

Penanganan Stunting di Kabupaten Sampang Dinilai Tidak Terintegrasi

Kabarmadura.id/Sampang-Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sampang, dinilai tidak melakukan upaya maksimal dalam upaya pencegahan jumlah stunting. Hal itu tidak lepas dari peringkat Kota Bahari itu, yang menempati lima besar kasus stunting tertinggi di Jawa Timur.

Ketua Unit Kajian Fakutas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga Prof Dr. Sri Sumarmi mengatakan, upaya untuk memberantas stunting harus terintegrasi antar organisasi perangkat daerah (OPD).

Namun di Kabupaten Sampang, pihaknya melihat program untuk memberantas kasus stunting berjalan sendiri-sendiri. Bahkan dia menuturkan, seluruh OPD di daerah berjuluk Kota Bahari itu, memiliki program lokus stunting. Namun sangat disayangkan, program itu tidak terintegrasi. Padahal, program itu harus disatukan antar OPD.

“Di Sampang itu programnya sendiri-sendiri, padahal jika tidak disatukan ke lokus stunting percepatan pemberantasannya tidak jalan,” ungkapnya, Rabu (15/7/2020).

Selain itu, salah satu faktor yang menjadi penyebab tingginya angka stunting, yakni faktor ekonomi dan salah pengatahuan cara mengasuh anak. Padahal, dalam penanganan stunting ini bisa dicegah pada usia dua tahun ke bawah.

“Penanganannya itu dari pertama hidupnya, jadi bagi pasangan suami istri harus menjaga pola hidupnya agar lebih sehat, terlebih pada saat tumbuh janin atau yang dinamakan periode 1000 hari kehidupan,” imbuhnya.

Ditambahkan, berdasarkan data nasional, angka stunting di Kabupaten Sampang berada di kisaran 41,6 persen. Sementara untuk daerah di Jawa Timur, Kabupaten Samping menempati posisi kelima teratas kasus stunting.

“Kami kesini untuk bekerja sama dalam menurunkan angka stunting, selain memang sebagai tugas tridarma pengguruan tinggi, juga supaya perguruan tinggi itu punya manfaat terhadap masyarakat dan pemerintah daerah,” tuturnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sampang Agus Mulyadi mengatakan, sejak 2019 lalu pihaknya sudah menggandeng akademisi untuk mengkaji dan mengidentifikasi problem stunting di Sampang.

Dirinya mengungkapkan, tingginya kasus stunting lantaran kasus ini tidak bisa diintervensi dengan cepat. Stunting merupakan masalah gizi kronis, bukan masalah gizi akut. Jadi stunting bukan persoalan baru, tapi sudah lama dan terus berjalan.

Dijelaskannya, terdapat dua sumber data perkembangan kasus stunting di Sampang. Pertama yang dipakai pihak akademisi yang merupakan data riset kesehatan (riskes) dasar. Kedua, sumber data yang dipakai oleh Pemkab Sampang, yakni data yang dijadikan bahan evaluasi, yaitu sumber data operasi timbang terhadap anak yang dilakukan dua kali dalam satu tahun.

“Angka stunting di Sampang mencapai 9 persen dari total kisaran 64-67 ribu bayi yang ada. Angka itu berawal dari 40 persen terus turun ke angka 36 persen, 26 persen, kemarin 17 persen dan sekarang 9 persen,” pungkasnya. (mal/pin)

 

Komentar

News Feed