Penanggulangan Kekeringan di Bangkalan Hanya Dianggarkan Dana Rp155 Juta

  • Whatsapp
Penanggulangan Kekeringan Hanya Dianggarkan Dana Rp155 Juta

Kabarmadura.id/Bangkalan-Bencana kekeringan yang mulai melanda Bangkalan mulai meluas. Saat ini tercatat ada 33 desa di 9 kecamatan yang kesulitan air bersih. Kendati demikian, pemerintah kabupaten setempat belum menemukan solusi jangka panjang terhadap bencana tersebut. Saat ini pemkab hanya mampu melakukan program droping air dengan anggaran senilai Rp155 juta.

Bupati Bangkalan Abdul Latif Amin Imron  mengatakan, untuk menanggulangi bencana kekeringan tersebut, pihaknya telah menyediakan program droping air kepada 9 kecamatan yang menjadi daerah rawan kekeringan.

Kendati demikian, diakui pria yang akrab disapa Ra Latif itu mengakui, Pemkab Bangkalan hanya mampu mengucurkan dana sebesar Rp155 juta saja, untuk melakukan droping air di 9 kecamatan selama kekeringan terjadi.

“Untuk itu, mulai hari ini juga kami mulai melakukan droping air di dua kecamatan., yakni kecamatan Kokop dan kecamatan Kwanyar,” kata bupati Bangkalan, Selasa (23/7).

Meski berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bangkalan, jumlah daerah terdampak kekeringan mengalami penurunan. Namun, Bangkalan masih menjadi daerah siaga darurat bencana kekeringan ketika musim kemarau berlangsung.

Orang nomor satu di Bangkalan ini mengungkapkan, saat ini pihak pemkab masih belum bisa menemukan titik-titik sumber air yang bisa dimanfaatkan masyarakat saat musim kemaru tiba, pemkab hanya mampu membantu dengan memberikan dropping air saja.

Kendati demikian, Ra Latif mengaku, sudah berusaha secara maksimal untuk mencari titik sumber air tersebut. Bahkan, pihaknya sengaja mendatangkan tim ahli geologi dari luar untuk mencari sumber air itu, namun belum bisa menemukan sumber air.

“Yang kita temukan hanya pipa bekas selang air dan tandon saja.Untuk mencari sumber titik air ini kita masih kesulitan,” jelasnya.

Terpisah, Kepala BPBD Bangkalan Rizal Moris mengatakan, droping air yang dimulai sejak Selasa (23/7) itu, dilakukan secara bergiliran. Sebab, menurutnya, saat ini pemkab hanya bisa menyediakan 6 armada truk pengangkut air, sehingga droping air dibatasi untuk 2 desa setiap harinya.

Selain keterbatasan armada, Rizal mengungkapkan, droping air ke daerah terdampak kekeringan juga terganggu oleh medan yang harus dilalui. Selain lokasi daerah terdampak kekeringan jauh dari wilayah perkotaan, medan yang dilalui juga cukup sulit, sehingga pihaknya juga harus melakukan estimasi jarak tempuh ke masing-masing desa.

“Sehari ada dua desa yang akan kita dropping air dengan waktu pengiriman pagi hingga sore tergantung estimasi jarak yang ditempuh,” paparnya.

Rizal juga menjelaskan, bahwa kapasitas dalam satu truk tangki air hanya berisi air sebanyak 5000 liter air yang bisa digunakan untuk 33 kepala keluarga. Keiatan dropping air sendiri dijadwalkan akan dilakukan hingga bulan September saja.

“Jadi 26 desa kering kritis, 7 desa kering langka yang tersebar di 9 kecamatan,” tandasnya. (ina/pin)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *