Latar Belakang Berdirinya TBM Titisan Agung Demang

  • Whatsapp
(FOTO: KURDIANTO AL LAILY FOR KM) BERSEMANGAT: Potret anak pulau saat menikmati bacaan di rumah baca TBM.

KABARMADURA.ID- Berbuat bermanfaat tidak perlu modal besar. Dengan modal telaten di tengah dunia digital semangatnya tidak luntur dalam membudayakan dunia literasi. Menyiapkan generasi yang matang menjadi salah satu tujuan dalam menghadapi tantangan zaman di masa yang akan datang.

MOH RAZIN, GILI GENTING

Hal itu yang menjadi salah satu motivasi terbesar Kurdianto Al Laily, sehingga menggagas rumah baca, dengan diberi nama Titisan Agung Demang yang berada di Desa Banbaru Pulau Giliraja, Kecamatan Gili Genting, Sumenep.

Rumah baca tersebut murni atas dasar inisiatif sendiri dengan harapan sederhana, yakni mencerdaskan anak bangsa dengan menumbuhkan minat baca sedini mungkin, terutama di kalangan pelajar dan masyarakat umum di kepulauan.

“Iya, cuma rata-rata siswa MI dan MTs. Kebetulan rumah saya dekat dengan madrasah, salah satu ruang baca saya letakkan di madrasah,” ucap pria yang pernah nyantri di Pondok Pesantren Nurul Islam Karang Cempaka, Bluto, Sumenep itu.

Juga menjadi salah satu pendorong dirinya mendirikan taman baca, diakuinya di kepulauan masih minim bahkan tidak ada semacam perpustakaan umum. Dengan berbagai faktor lain, seperti tidak terjangkaunya harga buku atau majalah dan persaingan dengan gadget. Sehingga menjadi penghalang menumbuhkan semangat baca.

Ratusan bahkan ribuan buku yang ada di rumah baca tersebut merupakan koleksi pribadi pria yang saat ini berusia kurang lebih 35 tahun itu. Menjadi komitmen besar dalam menginfakkan buku itu untuk mempersiapkan generasi terhadap tantangan zaman.

“Berharap agar para remaja, khususnya mereka para pelajar, bisa menjadi orang yang cinta ilmu, tidak bosan untuk senantiasa meng-update ilmu pengetahuan. Memang, sekarang semua serba digital, sangat mudah mengakses buku lewat internet. Tapi manfaat serta urgensi buku dalam bentuk cetak tetaplah tak tergantikan,” imbuh pria yang saat ini juga sebagai guru di Yayasan Pesantren Nurul Huda itu.

Dijelaskannya, Rumah Baca Titisan Agung Demang berlatar belakang nama sesepuh Gili Raja. Melalui proses panjang, dari ruangan-ruangan sederhana yang disulap menjadi perpustakaan mini, dengan fasilitas seadanya.

Namun dalam perkembangannya, rumah baca itu didesain dengan rapi dan berevolusi menjadi rumah baca atau perpustakaan bergerak ke tempat-tempat yang membutuhkannya.

Rumah Baca Titisan Agung Demang juga disebut taman bacaan masyarakat (TBM) dengan harapan dan optimisme tinggi, hadirnya rumah baca itu bisa memberi alternatif yang menyediakan buku-buku bacaan untuk anak-anak, dewasa, orang tua dan bisa memberikan kegiatan positif kepada lingkungan sekitar.

Redaktur: Mohammad Kharul Umam

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *