Pendapatan PLN Merosot Rp2 M, 3.200 Pelanggan Menunggak Rp160 Juta

(FOTO: KM/ALI WAFA) BANYAK YANG MENUNGGAK: Pendapatan ULP PLN Pamekasan menurun hingga Rp2 miliar sejak penerapan PPKM.

KABARMADURA.ID | PAMEKASAN Selama pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) pendapatan Perusahaan Listrik Negara (PLN) menurun. Hal itu diungkapkan oleh Manajer Unit Layanan Pelanggan (ULP) PLN Pamekasan Agung Stiobudi. Sebelum wabah Covid-19, pendapatan PLN  mencapai Rp6 miliar setiap bulan.

Namun, sejak wabah Covid-19, pendapatan yang diterima hanya berkisar Rp4 miliar per bulan. Penurunan tersebut karena adanya kebijakan pemerintah untuk memberikan stimulus kepada pelanggan PLN. Stimulus yang diberikan berupa listrik gratis bagi pelanggan subsidi, serta pengurangan 20 persen bagi pelanggan non subsidi.

“Sekarang belum normal. Kadang Rp5 miliar, kadang mendekati Rp6 miliar,” ungkap Agung.

Selain itu, kebijakan pemerintah untuk memadamkan penerangan jalan umum (PJU) selama PPKM juga mempengaruhi pendapatan PLN. Sebab, dengan padamnya PJU, terjadi penghematan listrik. Sementara itu, sampai saat ini masih ada tunggakan sebesar Rp160 juta dari sekitar 3.200 pelanggan.

Pelanggan yang menunggak itu sebagian besar adalah rumah tangga. Tunggakan itu terjadi karena banyak faktor. Keterpurukan ekonomi masyarakat karena adanya wabah Covid-19 menjadi faktor utama. Kendati begitu, penunggakan tidak hanya terjadi di kalangan rumah tangga. Sejumlah instansi juga kerap menunggak.

“Kalau instansi alasannya itu karena anggarannya tidak ada,” ungkap Agung.

Namun, ia menyampaikan, pihaknya memberlakukan tahapan sanksi bagi pelanggan yang menunggak. Jika sebulan menunggak, maka akan dilakukan pemutusan sementara aliran listrik dengan cara disegel. Jika dua bulan menunggak, dilakukan pembongkaran alat pembatas pengukur (APP) kWh meter. Jika tiga bulan menunggak, dilakukan pembongkaran APP dan dihapus sebagai pelanggan PLN.

Selain itu, Agung juga mengungkapkan, ULP PLN Pamekasan memiliki sekitar 88.000 pelanggan. Jumlah tersebut belum dihitung dengan jumlah pelanggan di ULP Waru. Karena di Pamekasan terdapat dua ULP, yaitu ULP Pamekasan sendiri dan ULP Waru. Namun, ada daerah yang masuk ke ULP Sampang. Tapi ada juga daerah di Sumenep yang masuk ke ULP Pamekasan.

“Karena ada batasan wilayah layanan,” pungkas pria asal Surabaya itu.

Reporter: Ali Wafa

Tinggalkan Balasan